Sabtu, 23 Januari 2016

contoh laporan KKN PAR



LAPORAN AKADEMIK
 
PENDAMPINGAN PEMANFAATAN LAHAN RAMAH LINGKUNGAN
DENGAN PENGOLAHAN PERTANIAN ORGANIK DI DESA
KRANGKONG KEPUH BARU BOJONEGORO
Laporan Narasi Riset Aksi Partisipatif
 Kulih Kerja Nyata Transformatif
 UIN Sunan Ampel Tahun 2014
 Desa Krangkong Kec. Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro
Oleh:
Ragil Rachmad Januar            (FA)                Siti Zulaikah                            (FA)   
M. Sahlun Najih                      (FDIK)           Faridatul Qomariah                 (FA)   
M. Nasikhul Amin                  (FDIK)             Nur Wachidah                         (FDIK)
Arganing Adwi Sandi             (FS)                 Khoirotun Nadhifah               (FDIK)
M. Fahmi Zaki                        (FS)                 Musyarrofah                            (FDIK)
Muhammad Najib                   (FS)                 Siti Yulaikah                           (FTIK)
Lailatul Maghfiroh                  (FS)                 Wahyu Diah Suswandani       (FTIK)
Siti Masluhah                          (FS)                 Kamalia Ihsana                       (FTIK)
Siti Nur Cholidah                    (FS)                 Septi Putri Hidayati                (FTIK)


Dosen Pendamping Lapangan:
Airlangga Bramayudha, MM.
NIP. 097912142011011005

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN
KEPADA MASYARAKAT UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2014
DAFTAR ISI

SURAT PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
BAB I : PENDAHULUAN
A.    MENEROPONG BENTANG ALAM DESA KRANGKONG 1
B.     ASPEK GEOGRAFIS  3
C.     POLA PEREKONOMIAN MASYRAKAT 3
D.    PARADIGMA PENDIDIKAN  4
E.     KEKAYAAN ASET DAN AKSES 6
F.      ASAL USUL NAMA KRANGKONG  12
G.    ADAT ISTIADAT DAN MITOS MASYARAKAT   15
H.    POLA PERTANIAN   17
I.       POLA KESEHATAN   19
J.       POLA POLITIK PEMBANGUNAN  20
BAB II : KETERBELUNGGUAN MASYARAKAT PADA POLA PERTANIAN TIDAK RAMAH LINGKUNGAN
A.      RUSAKNYA LAHAN PERTANIAN KARENA PUPUK DAN RACUN KIMIA 30
B.      BELENGGU KUASA TENGKULAK   33
C.      GENERASI MUDA DUSUN TEMU, (JUWET), DAN KRANGKONG   34
BAB III : DINAMIKA PROSES PENDAMPINGAN PEMECAHAN MASALAH DESA KRANGKONG

BAB IV : MEWUJUDKAN HARAPAN MASYARAKAT KRANGKONG MEMALUI PENERAPAN PENGOLAHAN ORGANIK
A.      MERINTIS PENDIDIKAN PERTANIAN  42
B.      MEMBANGUN KEPERCAYAAN GENERASI MUDA TENTANG PERTANIAN  46
C.      MENANAM HARAPAN PADA SEPETAK TANAH  46
BAB V : SEBUAH CATATAN REFLEKSI 51
BAB VI : PENUTUP   55
















DAFTAR GAMBAR
Gambar 1        : kondisi jalan menuju Dusun Krangkong
Gambar 2        : kondisi halaman SDN Krangkong
Gambar 3        : kondisi salah satu TPQ Krangkong
Gambar 4        : hamparan persawahan Desa Krangkong
Gambar 5        : jalan menuju Mbah Danyang
Gambar 6        : makam sesepuh Juwet
Gambar 7        : pelaksanaan posyandu
Gambar 8        : kondisi lahan dan tanaman padi Desa Krangkong
Gambar 9        : diskusi pertanian
Gambar 10      : FGD dengan kelompok tani
Gambar 11      : pendampingan pertanian oleh PT BASF
Gambar 12      : tanah yang sudah di taburi batu pertanian
Gambar 13      : lokasi DEMPLOT pertanian organik dan holty
Gambar 14      : lahan percontohan di pekarangan rumah Rois






DAFTAR BAGAN
Bagan 1: 1       : peta Desa Krangkong
Bagan 1:2        : survey belanja harian masyarakat Krangkong
Bagan 2:1        : diagram besaran alur kepercayaan petani terhadap masalah pertanian
Bagan 2:2        : analisis pohon masalah
Bagan 2:3        : alur penjualan pertanian
Bagan 2:4        : timeline perkembangan organisasi pemuda Krangkong
Bagan 3:1        : analisis pohon harapan
Bagan 4:1        : kegiatan harian pemuda Krangkong

















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Meneropong Bentang  Desa Krangkong
Desa krangkong merupakan desa yang secara administrative termasuk dalam  kecamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor dari ibukota kabupaten, lama jarak yang harus ditempuh 3 jam. Desa agraris ini memiliki pesona alam yang indah, hamparan padi yang luas hingga berhektar-hektar, bambu-bambu yang masih terjaga, sehingga memberikan kesejukan alami yang jarang ditemukan di kota-kota.
Desa ini memiliki batas teritorial, di sebelah utara desa Krangkong berbatasan dengan desa Jipo kecamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro, di sebelah selatannya berbatasan dengan desa Simorejo kecamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro, di sebelah timurnya berbatasan dengan desa Jati Payak kecamatan Mojo kabupaten Lamongan, dan disebelah baratnya berbatasan dengan desa Nglumber kacamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro.
Desa agrari dengan luas lahan pertanian ± 209 Ha dan 66 Ha untuk pemukiman dan pekarangan masyarakat. Memiliki berbagai aset alam yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari oleh masyarakat setempat. Seperti halnya padi, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang panjang, timun, terong, singkong, cabe, tomat, pepaya jambu. Hamparan sawah yang membentang menjadi kekayaan tersendiri yang menunjukkan kemakmuran masyarakat Desa ini. Sehingga  Desa ini pun juga merupakan dusun yang produktif dalam aspek pertanian.






Bagan 1:1
Peta Desa Krangkong










U,DUSUN KRANGKONG,DESA JIPO,DESA JIPO,DESA JATIPAYAK,DUSUN JUWET,DUSUN TEMU

DESA NGLUMBER




DESA SIMOREJO



 







                                                                                                 























 








                                                                                                  











B.     Aspek Demografis
Desa Krangkong terdiri atas tiga Dusun, diantaranya Dsn. Temu, Dsn. Juwet, dan Dsn. Krangkong. Penduduk Desa Krangkong sebanyak 2561 jiwa, 1257 laki-laki dan 1304 perempuan. Penduduk usia 0-6 tahun ada 97 laki-laki dan 111 perempuan. Pada usia 7-18 tahun ada 197 laki-laki dan 217 perempuan. Penduduk usia 56 tahun keatas ada 224 laki-laki dan 252 perempuan. Angkatan kerja 744 laki-laki dan 763 perempuan.
Desa Krangkong terbagi atas 14 RT dan 5 RW. RT 01 s/d RT 05 terdapat di Dusun Temu. RT 06 s/d RT 11 terdapat di dusun Juwet. Sementara RT 12 s/d 14 terdapat di Dusun Krangkong. Desa ini memiliki 3 masjid,  yang terdiri dari 1 masjid di Dusun Temu, 1 masjid di Dusun Juwet, dan 1 masjid di Dusun Krangkong. Sedangkan untuk jumlah mushala secara keseluruhan ada 17 mushala yang aktif digunakan untuk kegiatan peribadatan masyarakat setempat.

C.    Pola  Perekonomian Masyarakat
Seacra mayoritas mata pencarian masyarakat Krangkong adalah petani. Namun, dari data yang diperoleh masyarakat Krangkong memiliki  berbagai mata pencarian sebagai berikut: petani 353 laki-laki dan perempuan 330. Buruh tani 385 laki-laki dan 303 perempuan. Buruh migran perempuan tidak ada sedangkan buruh laki-laki 190. Pegawai Negeri Sipil 10 laki-laki dan 8 perempuan. Pengrajin industri rumah tangga 5 orang laki-laki dan 11 perempuan. Pedagang keliling 4 laki-laki dan 5 orang perempuan. Perawat swasta 1 laki-laki dan 1 perempuan. TNI terdapat 5 orang laki-laki. POLRI terdapat 1 orang laki-laki. Pensiunan PNS/TNI/POLRI terdapat 5 orang laki-laki. Penguasa kecil dan menengah terdapat 2 orang laki-laki. Karyawan perusahaan swasta ada 40 laki-laki dan 61 perempuan. Pensiunan PNS ada 5 laki-laki. Penjahit ada 2 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Rias pengantin ada 1 orang perempuan.
Ekonomi masyarakat  Krangkong jika dilihat dari segi angkatam kerja sebagai berikut: penganguran jumlah angkatan kerja penduduk usia 18-56 tahun ada 1380, jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang masih sekolah dan tidak bekerja ada 107. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang menjadi ibu rumah tangga ada 570. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja penuh ada 320. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja penuh ada 320. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja tidak menentu ada 201. Kesejahteraan keluarga, jumlah keluarga prasejahtera ada 283. Jumlah keluarga sejahtera 1 ada 145. Jumlah keluarga sejahtera 2 ada 113. Jumlah keluarga sejahtera 3 ada 52. Jumlah keluarga sejahtera 3 plus ada 53. Total jumlah kepala keluarga ada 646.
Mengenai tenaga kerja masyarakat Krangkong terbagi menjadi golongan usia sebagai berikut: penduduk usia 18-56 tahun terdapat 744 orang laki-laki dan 763 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja terdapat 688 laki-laki dan 702 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang belum atau tidak bekerja terdapat 56 laki-laki dan 61 perempuan.
Kualitas angkatan kerja terbagi menyesuaikan usia penduduk dan pendidikan terakhir, sebagai berikut: penduduk usia 18-56 tahun yang tidak tamat SD terdapat 36 laki-laki dan 40 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SD ada 307 laki-laki dan 325 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTP ada 300 laki-laki dan 189 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTA ada 140 laki-laki dan 79 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat perguruan tinggi ada 50 laki-laki dan 46 perempuan.

D.    Paradigma Pendidikan
Pendidikan merupakan  salah satu aspek penunjang dalam meningkatkan sumber daya manusia masyarakat Krangkong. Masyarakat Desa Krangkong memiliki tingkatan pendidikan sebagai berikut : jumlah total warga yang berpendidikan ada 1217 laki-laki dan 1262 perempuan. Semuanya terdiri dari usia 3-6 tahun yang belum masuk TK terdiri dari 33 laki-laki dan 41 perempuan. Usia 3-6 tahun yang sedang TK/Play group terdiri dari 36 laki-laki dan 40 perempuan. Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah ada 1 orang perempuan. Usia 7-18 tahun yang sedang bersekolah terdapat 197 laki-laki dan 217 perempuan. Usia 18-56 tahun yang tidak pernah SD tetapi tidak tamat 36 laki-laki dan 40 perempuan. Tamat SD/Sederajat 307 laki-laki dan 325 perempuan. Jumlah usia 12-56 tahun tidak tamat SLTP terdapat 102 laki-laki dan 150 perempuan. Jumlah usia 18-56 tahun tidak tamat SLTA terdiri dari 116 laki-laki dan 167 perempuan. Tamat smp/sederajat ada 240 laki-laki dan 193 perempuan. Tamat SMA/sederajat ada 150 laki-laki dan 136 perempuan. Tamat D1 tidak ada. Tamat D2 ada 2 laki-laki dan 4 perempuan. Tamat D3 ada 5 laki-laki dan 2 perempuan. Tamat S1 ada 27 laki-laki dan perempuan 25. S2 ada 1 laki-laki. Sedangkan yang S3 tidak ada. Tamat SLB A,B,C.

E.     Kekayaan Aset dan Akses
Dalam kehidupan masyarakat Desa Krangkong terdapat beberapa aset yang masih terpelihara kelestariaannya. Aset dan akses tersebut meliputi berbagai aspek:

Ø  Insfrastruktur
Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Krangkong dapat dikategorikan baik. Jalan sebagai sarana penghubung antar dusun di Desa Krangkong dan Desa-desa di sekitarnya sudah dipaving dalam kondisi yang baik dan sangat membantu masyarakat dalam mengakses berbagai aktivitas dalam kehidupannya. Meskipun sebagian masih dalam tahap perbaikan. Namun karena banyaknya kendaraan bermotor yang dimiliki masyarakat hal ini berpotensi terjadinya tindakan yang kurang tertib dalam berkendara.





Gambar 1
Kondisi jalan menuju Dusun Krangkong
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 2\DSC00664.JPG

Perbaikan jalan menuju masing-masing Dusun, merupakan bantuan dari PNPM dan PPIP. Sehingga masyarakat setempat memiliki akses yang mudah dalam aktifitas sehari-harinya. Meskipun jalan menuju desa sebelah, seperti Nglumber dan Simorejo mengalami kerusakan. Akibat banyaknya kendaraan bermotor yang lewat. Namun, masyarakat Krangkong merasa sudah mendapatkan akses yang cukup membantu aktifitas mereka.
Aset fisik lainnya adalah dua Sekolah Dasar dan tiga TPQ. Gedung SDN krangkong 1 terdiri dari 6 ruang kelas, 1 kantor, 1 perpustakaan dan 2 kamar mandi. Kondisi gedung kelas 1 dan kantor baru selesai direnovasi, sedangkan ruang kelas yang lain temboknya mulai retak dan juga atapnya banyak yang telah berlubang. Sementara perpustakaan baru dibangun dan belum diresmikan. Halaman sekolahpun kurang terawat sampai dipenuhi oleh rumput. Bukan hanya itu, jiak siang dan sore hari atau pada saat aktifitas belajar mengajar di SD libur. Halaman SD digunakan untuk angon [1]oleh sebagian masyarakat Krangkong.

Gambar 2
Kondisi halaman SDN Krangkong
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 2\DSC00758.JPG

Tidak terawatnya SDN Krangkong disebabkan SDM yang ada tidak mencukupi. Sehingga rumput liar tumpuh dengan baik dan sampah juga berceceran di setiap  SDN. Atas dasar itulah masyarakat setempat memanfaatkan lapangan tersebut untuk menggembala kambing mereka.
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang terletak didusun Temu bernama TPQ Al-Huda-1 ruang kelasnya hanya terdiri 1 ruang. TPQ didusun Juwet bernama TPQ Al-Huda-2, ruang kelasnya sangat terbatas yang terdiri dari 1 ruang memanjang. Dan juga TPQ yang terletak didusun Krangkong bernama TPQ Syifa’ul Qulub, terdiri dari 2 kelas, satu ruangan diperuntukkan untuk anak yang mengaji Iqro’ dan satunya untuk anak yang mengaji Al-Qur’an. Pembagian kelas ini berfungsi untuk meningkatkan pemahaman ilmu Al-Qur’an sesuai dengan tingkatan masing-masing.

Gambar 3
Kondisi salah satu TPQ Krangkong
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 2\Foto-0078.jpg
Kondisi fisik masing-masing TPQ Desa Krangkong, memanglah masih pada tahap sekedarnya, tetapi hal ini tidak menyurutkan keinginan belajar Al-Qur’an dan agama bagi anak seusia 4-13 Th. Orang tua mereka juga sangat mengaharapkan generasi mereka mempuyai bekal agama yang kuat untuk kehidupan anak-anak mereka kelak.

Ø  Manusia
Pengetahuan dan ketrampilan lain yang dimiliki masyarakat Krangkong adalah membuat kerajinan dari anyaman bambu, yang berjumlah 5 orang laki-laki dan 11 orang perempuan, Pegawai Negeri Sipil 10 laki-laki dan 8 perempuan. Pedagang keliling 4 laki-laki dan 5 orang perempuan. Perawat swasta 1 laki-laki dan 1 perempuan. TNI terdapat 5 orang laki-laki. POLRI terdapat 1 orang laki-laki. Pensiunan PNS/TNI/POLRI terdapat 5 orang laki-laki. Penguasa kecil dan menengah terdapat 2 orang laki-laki. Karyawan perusahaan swasta ada 40 laki-laki dan 61 perempuan. Pensiunan PNS ada 5 laki-laki. Penjahit ada 2 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Rias pengantin ada 1 orang perempuan. Tetapi aset ini juga mengalami hal serupa dengan kemampuan mengolah pertanian. Keahlian ini hanya dimilki oleh masyarakat yang sudah dewasa dan hampir tidak memiliki regenerasi untuk melestarikan aset tersebut. Namun dalam hal pemanfaatan aset alam lainnya, seperti mengolah hasil alam menjadi makanan. Generasi perempuan baik remaja maupun dewasa sudah menunjukkan tanda-tanda positif. Hal ini terbukti ketika program yang dilaksanakan oleh PKK setempat smendapat respon sangat positif.

Ø  Alam
Desa Krangkong merupakan Desa yang dikelilingi dengan areal persawahan, sebelum memasuki Desa Krangkong ini akan disambut dengan hamparan sawah yang cukup luas. Hamparan sawah ini merupakan salah satu aset alam yang dimanfaatkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Dari hamparan sawah tersebut, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka memanfaatkannya untuk menanam padi, tembakau, jagung dan kacang-kacangan. Tetapi mereka lebih sering menggunakannya untuk menanam padi dan tembakau, dengan sekali tanam tembakau dan dua kali tanam padi dalam setahun.
Selain itu, di Desa Krangkong juga memiliki aset alam lain, yang bisa digunakan untuk mememnuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Seperti singkong, pepaya, nangka, jambu, cabe, tomat, mangga, srikaya, sirsak, buah naga,





Gambar 4
Hamparan persawahan Desa Krangkong
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 2\DSC00660.JPG

Di Desa Krangkong juga terdapat aset alam lain yang juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti halnya cabe dan tomat. Namun, sebagian besar masyarakat masih membeli kebutuhan dapur seperti cabe dan tomat. Sebenarnya dalam benak masyarakat setempat menginginkan kebutuhan dapur bisa dipenuhi dari lahan mereka. Namun, untuk memulai gagasan mereka selama ini belum di dukung oleh pemerintah setempat. Menurut Heri Muhajir (40) keinginan untuk bisa memanfaatkan lahannya untuk tanaman selain padi sudah ada sejak dulu. Namun, selama ini pemerintah setempat tidak mempunyai program pendampingan pertanian yang mengarah untuk pengolahan pertanian selain padi. Menurutnya, untuk urusan pembasmian hama saja pemerintah setempat hanya mengandalkan kerjasama dengan pihak perusahan pestisida kimia tanpa ada pendampingan. Apalagi untuk urusan pemahaman mengenai pengolahan pertanian yang baik dan benar. Dan untuk pendampingan pertanian selain padi seperti jauh dari harapan.


Ø  Keuangan
Sebagian besar masyarakat Desa Krangkong mengandalkan pendapatannya dari hasil pertanian. Namun dalam pengelolaannya kadang masyarakat masih mengalami “besar pasak daripada tiang”, yang artinya pengeluaran lebih besar dibanding dengan pendapatan yang mereka dapat. Karena masyarakat yang sekarang lebih memilih barang-barang instan dibanding barang olahan sendiri. Seperti bumbu masak, peralatan dapur, dan kebutuhannya yang sekarang telah tersedia di toko-toko. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat sekarang lebih bersifat konsumtif. Sebagaimana terlihat dari survey belanja harian masyarakat jumlah pengeluaran penduduk sangat tinggi.
Bagan 1: 2
Survey belanja harian masyarakat Desa Krangkong

No.
KK
Pengeluaran Per Bulan
Pangan
Energi
Kesehatan + alat pembersih
Pendidikan
1.       
Bapak Sumawi
900.000,-
520.000
100.000
150.000
2.       
Bapak H. Sholeh
540.000
512.000
60.000
140.000
3.       
Bapak Edi Winarto
840.000
232.000
60.000
90.000
4.       
Ibu siti Umaroh
560.000
312.000
92.000
180.000
5.       
Ibu Rini Anifah
1.050.000
356.000
60.000
380.000

Dari hasil survey tersebut juga mengindikasikan bahwa pengeluaran pangan masyarakat yang meliputi beras, sayur-sayuran, protein (nabati maupun hewani) terdapat beberapa kesamaan dalam pengeluaran. Untuk kebutuhan beras masyarakat menggunakan beras hasil panen mereka sendiri, karena selain hasil panen dijual mereka juga menyisakan untuk konsumsi keluarga. Dengan cara ini masyarakat melakukan penghematan dalam konsumsi beras selama beberapa bulan kedepan.

F.     Asal Usul Nama Krangkong
Berdasarkan cerita para tetuah di Desa Krangkong, pada zaman dahulu Desa Krangkong merupakan hutan yang lebat dan masih banyak binatang liar. Pada zaman itu ada sekelompok orang atau pengembara yang sementara menetap di tempat itu. Dari tahun ke tahun sekelompok pengembara tersebut masih tinggal di situ dengan kegiatan sehari-hari menebang hutan dan bercocok tanam. Untuk mengamankan daerah tempat tinggalnya dan tanamannya agar tidak digangu oleh binatang-binatang liar, maka pemburuan binatang liar terus menerus dilakukan. Binatang-binatang yang diburu tersebut mengaung-aung atau bersuara kaong-kong karena itulah para sesepuh terdahulu menyebut kawasan ini diberi sebutan atau sebuah nama dusun “Krangkong”.
Ada juga versi atau pendapat lain yang berbeda. Nama dusun krangkong diambil dari nama sebuah tumbuhan yang bernama kangkong atau kelorak. Adapula yang menyebutkan istilah krangkong identik dengan istilah nama tempat.
Sekelompok orang atau pengembara pada zaman itu ada yang dikenal dengan sebutan “Mbah Danyang”. Hal tersebut sesuai dengan adanya makam atau kuburan mbah Danyang masih ada di dusun Krangkong. “Mbah Danyang” itulah yang disebut oleh tetuah desa seorang pembuka atau pendiri dusun Krangkong.






Gambar 5
Jalan menuju makam mbah Danyang
Description: Description: K:\Foto\Foto0269.jpg

Gambar di atas merupakan gambar jalan menuju makam mbah Danyang. Tetapi makamnya sudah tidak terawat. Menurut Ida (22) batu nisan dimakam mbah Danyang pun sudah tidak ada, hanya pohon yang sangat besar sebagai pengenal makamnya. Warga desa Krangkong tidak ada yang berani mengunjungi makam tersebut, karena tempatnya dikelilingi oleh banyak pohon bambu.
Selang beberapa tahun kemudian sekelompok masyarakat Dusun Krangkong mengembangkan tiap penebangan hutan dan pertaniannya kearah utara. Tanah arah utara ini lebih subur jika dibandingkan dengan tanah awal didusun krangkong tersebut. Sehingga dengan kesuburan tanah yang keutara ini terus menerus dijadikan tempat untuk pertanian hingga banyak yang berladang dan bercocok tanam serta bertempat tinggal disitu.
Penebangan terus dilakukan kearah utara namun penebangan kearah utara ini tidak seluas yang dilakukan pada sebelumnya, karena disitu juga sudah ada sekelompok orang yang telah bermukim dan bercocok tanam disana. Pertemuan kelompok orang-orang yang bermukim dari arah selatan ke arah utara tersebut kemudian dijadikan dasar nama dusun Temu. Selain itu, adanya orang yang bergerombol atau “jujuk kemruwet” tersebut oleh sesepuh desa selaku pendiri dusun diberi julukan nama tempat juwe’ atau yang sekarang disebut dengan nama Dusun Njuwet.
Bila sesepuh dusun Krangkong adalah mbah danyang, lain halnya dengan sesepuh di dusun Njuwet yang lebih dikenal adalah seorang tokoh pasukan Perang Pangeran Dipenogoro, beliau juga adalah seorang ulama yang bernama Kyai Abdul Zarkasih yang mempunyai nama julukan “Mbah Parang” masih saudara dengan Kyai Abdul Zakariyah atau ”Mbah jugo blitar”, keduannya masih kerabat Pangeran Dipenogoro sebagia tokoh atau pejuang nasional.
Gambar 6
makam sesepuh dusun Juwet (mbah parang)
Description: Description: K:\Foto\Foto0280.jpg

Dusun tempat bertemunya dua kelompok yaitu kelompok dari utara dan kelompok dari selatan sesepuh desa atau pendirinya adalah “Mbah Noto bei” dari ketiga tokoh pendiri dusun tersebut, makam atau tempat kuburannya masih ada di masing-masing dusun.

G.    Adat Istiadat dan Mitos Masyarakat
Di desa krangkong terdapat berbagai adata istiadat, mulai dari tradisi pernikahan, khitanan, tahlilan/kematian, tanam padi, dan sedekah bumi.
Tradisi pernikahan di daerah kerangkong hampir sama dengan daerah lamongan dimana prosesi lamaran dilakukan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki, namun prosesi lamaran tersebut hanya di lakukan apabila mendapat orang satu desa, bila mendapat suami/istri dari lain daerah krangkong berubah yakni pihak laki-laki melamar pihak perempuan.
Untuk prosesi pernikahannya sama dengan daerah lain yakni kedua mempelai masuk ke tempat perayaan dengan di iringi keluarga dan tetangga. Pada saat prosesi pernikahan terdapat tahap dimana suami menginjak telur kemudian istri membersihkan kaki suaminya dengan air bercampur bunga mawar, melati, kenanga dan bunga telon, yang menandakan bahwa keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri yang saling menghormati dan di mana istri akan selalu melayani suaminya. Setelah itu kedua mempelai dibawa ke pelaminan dengan di satukan kain merah yang dipimpin oleh ayah dari perempuan yang dimaksudkan bahwa orang tua perempuan telah menyerahkan anaknya kepada keluarga laki-laki dan di harapkan dapat membimbing anaknya sebagai istri yang baik.
Selain tradisi pernikahan masih terdapat beberapa tradisi lain yang biasa dilakukan oleh masyarakat desa ini, misalnya:
1.      Khitanan
Tradisi khitanan di Desa Krangkong saat anak laki-laki di potong sebagian daging dari kemaluannya kemudian di laksanakan syukuran yang pada syukuran tersebut terdapat makanan berupa bubur beras merah dengan santan, makanan tersebut didoakan oleh sesepuh desa yang kemudian di bagikan kepada warga sekitar yang telah di undang oleh keluarga. Namun prosesi perayaannya baru akan dilaksanakan seusai panen dan bisa di lakukan sekitar 3-4 bulan sesudah di khitan.



2.      Tahlilan/Kematian
Tradisi tahlilan/kematian dilaksanakan ketika ada orang yang  meninggal. Bila yang meninggal di atas jam 7 malam, maka akan diinapkan di rumah yang kemudian esok harinya baru akan dimakamkan. Adapun ketika orang yang meninggal tersebut adalah orang terpandang atau orang penting didaerahnya, maka proses penginapannya diberi lampu oblek (lampu minyak) dan juga kemenyan yang di gunakan sebagai wewangian di sekitar orang meninggal. Usai di makamkan terdapat tradisi tahlilan yang di lakukan sampai hari ke-7 terkadang juga sampai hari ke-8, di dalam prosesi tahlilah terdapat susunan acara sebagai berikut : para takziyah datang kemudian langsung di beri makanan untuk di bawa pulang, isi makanan tersebut biasanya nasi gurih dengan serundeng dan sambel tempe. Setelah itu terdapat acara pembukaan beserta pengundangan para takziyah untuk terus datang sampai hari ke-7, di teruskan dengan pembacaan surat yasin kemudian tahlil yang di tujukan kepada yang meninggal, usai pembacaan doa, para takziyah diberi makan dan hidangan penutup berupa kue-kuean. Di hari ke-7 atau ke-6 para takziyah mendapat makanan yang di bawa pulang dan juga di berikan uang atau amplop kepada para takziyah.

3.      Tanam Padi
Tanam padi terdapat tradisi berupa syukuran, isi syukuran tersebut di tujukan untuk hasil panen yang melimpah, namun dulu di masa lalu warga melakukan tanam padi pertama dengan melemparkan telur mentah dan beberapa nasi ketanah yang akan di kerjakan. Ritual ini di khususkan untuk meminta do’a kepada Sang Pencipta agar apa yang mereka tanam bisa menuai hasil sesuai harapan mereka. Tradisi ini sudah mulai luntur seiring berkembangnya zaman.


4.      Sedekah Bumi
Kegiatan ini di laksanakan pada saat akan mulai penanaman tembakau atau pada bulan 7 malam jumat pon. Pelaksananan tradisi ini berupa syukuran dengan tiap rumah membawa makanan yang di taruh di asahan[2], setiap rumah membawa 5 buah asahan yang nantinya akan di bawa ke masjid untuk di doakan ada juga yang di bawa ke makam sesepuh desa di dusun temu. Isi makanan tersebut adalah nasi kuning dengan berbagai lauk pauk yang nantinya akan di makan bersama dengan seluruh warga desa. Mereka menyebut kegiatan ini dengan istilah larung[3].

H.    Pola pertanian masyarakat
Bagan 1:3
Calender season
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Bulan
Hujan
Laboh
Kemarau
Hujan
Musim
Sedang
Rendah
Tinggi
Curah hujan


Padi 


Tembakau


Padi
Tanam

Padi


Padi


Tembakau



Panen
     
                  Musim penghujan mulai pada bulan Oktober sampai bulan Maret, sedangkan bulan April-Mei merupakan musim laboh yaitu masa pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau. Bulan juni sampai September adalah musim kemarau. Pada bulan Oktober sampai bulan Desember curah hujan tinggi karena merupakan musim pancaroba (pergantian dari musim kemarau ke musim hujan). Pada masa ini masyarakat mulai menanam padi. Masa ini dianggap paling tepat untuk menanam padi. Karena pada masa ini tingkat kelembaban tanah dianggap mencukupi untuk tanaman padi. Pada bulan Januari hingga April curah hujan mulai berkurang dari curah hujan tinggi menjadi sedang. Pada masa ini petani mulai melakukan perawatan pada tanaman padi mereka. Mulai dari pemberian obat, pupuk dan pengontrolan hama wereng, belalang, ulat, burung dan rumput liar.  Sedangkan pada musim kemarau curah hujan sangat rendah. Pada musim kemarau ini jika harga tembakau naik, maka petani berbondong-bondong untuk menanam tembakau. Namun, jika harga tembakau turun, petani membiarkan lahan mereka beroh[4]

I.       Kesehatan
            Di Desa krangkong terdapat Poskesdes, yaitu sebuah gedung kesehatan bagi masyarakat Desa Krangkong. Poskesdes didirikan pada tahun 1998, pada waktu itu namanya masih Polindes hingga tahun 2011. Polindes berganti nama menjadi Poskesdes pada tahun 2012. Di Poskesdes ada satu dokter dan satu perawat.
      Sedangkan untuk kesehatan balita dan ibu hamil, terdapat Posyandu pada masing-masing Dusun yang ditempatkan di rumah masing-masing kepala Dusun. Posyandu setiap Dusun dilakukan pada hari yang berbeda-beda. Di Dusun temu diadakan pada tanggal 11, Dusun Juwet diadakan pada tanggal 24 dan di Dusun Krangkong diadakan pada tanggal 10 dalam setiap bulan. Untuk Posyandu di Dusun Juwet, ibu Kepala Dusun Juwet memiliki inisiatif tersendiri dengan mengadakan arisan diadakan arisan agar semakin kompak, tetapi ada juga beberapa yang tidak datang tergantung kesadaran orang tua mereka. Sedangkan Posyandu bagi lansia masih belum berjalan dengan baik mengingat minat masyarakat Desa Krangkong untuk berobat ke Poskesdes sangat minim, mereka lebih memilih berobat ke Puskesmas, karena Puskesmas sebagai induk dari Poskesdes, dan fasilitasnya juga lebih bagus daripada dari Poskesdes.


Gambar 7
Pelaksanaan Posyandu
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 25\20140212_102705.jpg

      Dari gambar di atas tergambar bahwa kepedulian terhadap kesehatan balita dan ibu cukup tinggi, meskipun pelaksanaan posyandu di rumah masing-masing Kepala Dusun di Desa Krangkong. Hal ini dikarenakan Dokter dan Bidan yang ditugaskan di Desa Krangkong tidak menetap. Jadi dari masyarakat mempunyai inisiatif untuk melaksanakan kegiatan ini di rumah masing-masing KASUN. Bukan hanya itu, kondisi fisik POSKESDES juga kurang terawat sehingga masyarakat juga lebih memilih untuk mengikuti saran atau inisiatif dari kelompoknya.







BAB II
KETERBELENGGUAN MASYARAKAT PADA POLA PERTANIAN TIDAK RAMAH LINGKUNGAN
                  Manusia yang bermasyarakat merupakan individu-individu yang memiliki pikiran, visi dan misi yang berbeda-beda. Sehingga memunculkan berbagai perbedaan yang diakibatkan dari kepentingan-kepentingan masing-masing individu, baik secara pribadi maupun kelompok. Adanya cara pandang dan kepentingan yang berbeda tersebut memunculkan suatu dinamika masyarakat yang pasif.
                  Perbedaan yang terjadi dalam masyarakat memanglah hal yang lumrah dan sering dijumpai. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, apabila masalah-masalah terus menerus muncul kepermukaan, maka akan semakin runcing dan berpotensi menimbulkan permasalahan yang semakin besar dan berkelanjutan. Dalam menyikapi berbagai permasalahan tersebut, masyarakat Desa Krangkong cenderung pasrah terhadap keadaan sistem pemerintahan lokal yang notabenenya lebih cenderung Top-Down. Selain itu, masyarakat setempat juga cenderung mengikuti arus hegemoni yang terbawa dari tempat mereka merantau, meskipun sebagian dari mereka masih ada yang berperilaku dari apa yang sudah diwariskan oleh orang-orang terdahulu.
                  Sedangkan keinginan untuk berinovasi dan melangkah lebih cepat kedepan masih rendah dan dimiliki sebagian kecil dari masyarakat setempat. Hal ini terlihat dari sebagian generasi muda yang sudah mulai enggan untuk memulai perubahan desa Krangkong. Keengganan dari mereka karena adanya perpecahan baik dari sudut pandang mereka, maupun konflik politik local yang pernah ada.
                  Berikut adalah beberapa permasalahan yang selama ini dialami oleh masyarakat Desa Krangkong:
a.      Rusaknya Lahan Pertanian Karena Pupuk dan racun kimia
            Secara teori, memang jika segala macam bentuk tanaman yang dikelolah dengan proporsional maka akan memberikan hasil yang memuaskan. Namun, sepertinya tidak untuk para petani Desa Krangkong.
            Selama ini tumpuhan hidup masyarakat Krangkong di dapat dari pertanian, meskipun sebagian dari mereka adalah PNS atau pekerja pabrik, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa bertani adalah komponen utama dalam kehidupan masyarakat Krangkong. Dari hasil pertanian yang mereka kelola, mereka bisa terbantu mencukupi kebutuhan sekunder dan primer mereka. Dengan cara mengelolah lahan mereka, mereka mampu bertahan dari masa ke masa. Setiap harinya mereka melakukan aktifitas pertanian dari jam 06.00 sampai jam 10.00 pagi, dengan berjalan kaki, karena letak sawah mereka berdampingan dengan rumah masyarakat setempat. Dan menjadi pembatas masing-masing dusun yang ada di Desa Krangkong.
Bentuk permasalahan yang ada di Desa Krangkong  Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro sangatlah kompleks. Semua bentuk permasalahan yang ada pada masyarakat Desa Krangkong, tersusun dari berbagai unsur yang telah lama beku tanpa pernah dicairkan. Kebekuan berbagai bentuk permasalahan tersebut terakumulasi sehingga memberikan akibat yang sangat kronis kepada kehidupan masyarakat Desa Krangkong yang pada akhirnya menimbulkan kemunduran pada setiap komponen kehidupan.
      Jika dilihat secara kasat mata lahan persawahan yang ada di Desa Krangkong terlihat subur dan tidak mengalami kerusakan, tetapi setelah di tes dari pihak dinas pertanian dan pihak BASF, lahan persawahan yang mereka kelolah mengalami penurunan tingkat kesimbangan tanah atau biasa disebut PH menjadi 3-4,5% dari tingkat keseimbangan kesuburan tanah (kelembaban).  Sementara tingkat keasaman tanah menjadi lebih tinggi[5]. Hal ini yang menyebabkan lahan mereka menjadi lahan produktif yang tidak ramah lingkungan.
            Sementara sebab dari menurunnya PH[6] tanah adalah penggunaaan obat dan pupuk yang tidak proporsional. Bukan hanya itu, obat dan pupuk yang mereka gunakan sering kali adalah pupuk non organik. Usaha untuk mempertahankan lahan pertanian mereka sudah dilakukan dengan cara sosialisasi pertanian dan penyuluhan obat dari pemerintah desa setempat, tetapi sebagian besar hanya mengenai penyuluhan obat yang dilakukan oleh beberapa perusahan obat pertanian. Dalam artian, penyuluhan obat pertanian juga sebagai ajang promosi produk mereka. Bukan hanya itu perusahan obat yang didatangkan utuk memberikan penyuluhan, adalah obat yang sebagian bahan dasarnya bersifat kimiawi. Menurut penuturan salah satu masyarakat setempat, upaya untuk menggunakan pupuk organik terus digalang oleh beberapa petani, tetapi hasilnya masih rendah, kadang pada masa padi mapak anak[7], tanaman yang awalnya menggunakan pupuk organik justru mengalami kerusakan tanpa di duga. Justru yang menggunakan obat dan pupuk subsidi hasilnya lebih bagus. Sebenarnya ini yang menjadi pertanyaan para petani[8].












Gambar 8
Kondisi lahan dan tamanan padi Desa Krangkong

Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\foto slide\IMG_3670.JPG
                  Sebenarnya di Desa Krangkong dan sekitarnya terdapat beberapa orang yang benar-benar faham dan peduli dengan kondisi pertanian di Desa mereka. Tetapi entah karena apa, masyarakat setempat enggan untuk meminta bantuan kepada pihak-pihak yang faham terkait pertanian. Masyarakat setempat justru lebih percaya dengan informasi pertanian yang simpang-siur dan belum jelas sumbernya, apakah itu aman atau tidak untuk tanaman dan lahan mereka.
            Salah seorang  masyarakat yang lain juga menuturkan bahwa belum tahu menahu soal tingkat kesuburan tanah yang dikelolah, selama ini hanya mengandalkan informasi pengolahan lahan pertanian dari sesama petani yang tidak jelas sumbernya. Kadang juga tidak tahu harus menggunakan cara yang mana. Bahkan, banyak diantara petani menggunakan detergen untuk membasmi hama[9].
            Namun, setelah dilakukan pengamatan dan penyelidikan mendalam. dari beberapa pihak yang peduli dengan pertanian, membawa tujuan tersendiri, yaitu mengenai target penjualan pupuk organic dan pupuk kimia. Mereka berdua sama-sama mempunyai kontrak dengan perusahan-perusahan yang menangani pertanian, baik secara organik maupun non organik.
            Dari beberapa hal diatas, terlihat bahwa dari tahun ke tahun, petani mengalami kegagalan yang serius baik pada lahan mereka atau pada kondisi ekonomi mereka. Lengkap sudah kegundahan petani Krangkong, mulai dari minimya pengetahuan mengenai pengolahan pertanian yang tepat, adanya politik terselubung, hingga penggunan bahan yang tidak semestinya digunakan untuk tanaman.
            Namun, tidak selamanya petani krangkong akan bisa bertahan menghadapi keadaan yang selama ini tanpa mereka sadari merugikan mereka. Harus ada tindakan yang nyata untuk menyudahi kegundahan ini. Harapan-harapan petani tentang mencari cara kembalinya tingkat keseimbangan tanah dan pertanian ramah lingkungan harus segera diwujudkan.
Kebekuan berbagai permasalahan tersebut harus segera dicairkan dan  dicari titik pangkal permasalahannya. Pada uraian ini akan dipaparkan beberapa aksi yang dilakukan oleh tim fasilitator sebagai langkah awal untuk mencairkan kebekuan permasalahan yang ada di Desa Krangkong. Maka dari itu dibutuhkan diskusi-diskusi mendalam mengenai pemecahan masalah yang mereka hadapi, sehingga nantinya memunculkan inisiatif dari masyarakat untuk solusi dari masalah mereka.
Masyarakat desa krangkong jika dilihat dari kondisi ekonomi termasuk dalam tiga kategori, miskin, sedang dan kaya. kondisi ini bisa dilihat dari pekerjaan dan kondisi rumah tangga mereka. Meskipun secara fisik sebagian besar rumah masyarakat setempat terbuat dari kayu, ada juga yang masih terbuat dari anyaman bambu. Kebanyakan dari mereka bekerja menjadi buruh pabrik, PNS, merantau ke Kalimantan, Papua, bahkan ada yang menjadi TKI diluar negeri seperti Korea dan Malaysia.
      Seperti halnya Siswanto (37) salah seorang pekerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Namun, luas lahan pertanian yang dimiliki seluas dua bau[10]. Dari luas lahan dikelolah, Siswanto membutuhkan setidaknya sepuluh kwintal pupuk untuk tanaman padi, dari tandur sampai mapak anak. Jenis pupuk yang digunakan juga bermacam-macam, seperti urea, sp36 dan za. Namun, diantara jenis tersebut penggunaan pupuk za dan sp36 paling dominan. Menurutnya pemakaian jenis-jenis pupuk tersebut sebenarnya adalah upaya untuk meningkatkan hasil pertanian. Tetapi yang di dapat bukan hasil yang maksimal. Justru seringkali mengalami kegagalan.
      Begitu juga dengan pestisida yang digunakan oleh kebanyak petani Krangkong. Mereka cenderung memilih pestisida instan yang sudah dikemas oleh perusahan-perusahan pestisida yang ada. Petani setempat memilih yang mudah, terlebih bisa menghutang terlebih dahulu ke kios-kios pertanian.
Efek Penggunaan Pestisida
Penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya. Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya :
·         Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).

·         Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.

·         Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.





Bagan 2:1
Diagram besaran kepercayaan petani terhadap masalah pertanian






Oval: Gapoktan


 












Dari diagram di atas, terlihat bahwa petani mempunyai ketergantungan kepada kios-kios yang menyediakan pupuk dan pestisida instan. Belum lagi banyaknya sosialisasi pertanian yang berujung pada promosi pestisida instan yang menggelitik hati petani untuk membelinya, karena para petani dimudahkan soal pembayaran, petani cukup membayar ketika musim panen.
Sementara keberadaan Gapoktan hanya dianggap sebagai lembaga yang menaungi kebutuhan mereka dalam waktu yang benar-benar mendesak. Sebenarnya Gapoktan juga sudah memberi peluang anggotanya untuk mengapresiasikan segala bentuk kegundahan dan keresahan. Bahkan sering kali Ketua Gapoktan sendiri yang turun tangan untuk menghadapi permasalahan petani. Namun, tidak bagi pengurus Gapoktan lainnya. Apalagi anggota Gapoktan yang cenderung memilih percaya kepada pihak-pihak yang dirasa lebih menguntungkan petani. Padahal pola yang ditawarkan oleh pihak-pihak tersebut adalah pola pertanian instan. Hal ini membuat Gapoktan terkesan tidak peduli, sekalipun banyak program yang mengarah kepada pertanian tepat sasaran. Hal ini juga yang menyebabkan beberapa program Gapoktan tidak berjalan.
Gambar 9
Diskusi pertanian
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\foto slide\IMG_0898.JPG

Diskusi pemetaan masalah ini difasilitasi oleh tim fasilitator. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa fokus permasalahan yang belasan tahun terakhir ini menghantui masyarakat setempat adalah masalah pertanian yang bersumber dari menurunnya tingkat kesimbangan tanah. Menurunnya tingkat keseimbangan tanah atau tingkat kesuburan tanah disebabkan salah satunya kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan bahan organik. Bukan hanya itu, masyarakat setempat sering kali menggunakan pupuk berbahan kimiawi dengan porsi yang berlebihan. Menurut salah seorang  masyarakat, penggunaan bahan  non organik sudah dilakukan sejak lama. Baik  itu pupuk, maupun obat  pertanian. Para  petani Desa Krangkong  memilih cara yang instan, namun menginginkan hasil yang maksimal[11]. Selama ini masyarakat Desa Krangkong sudah mencoba untuk  membuat  perbandingan, antara tanaman yang menggunakan pupuk organik dengan tanaman yang menggunakan pupuk kimia. Namun, hasil yang mereka dapat masih belum sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini bisa di lihat dari pohon masalah di bawah ini.

Bagan 2:2
Analisis Pohon Masalah
























Selain  itu  masalah  rusaknya  lahan  pertanian  karena pupuk dan racun  kimia juga disebabkan pendidikan pertanian yang tidak tepat. Hal ini terjadi karena tidak ada mediasi yang baik antara masyarakat dengan pemerintah lokal, sehingga pemerintah lokal hanya mengadakan sosialisasi pertanian yang menyimpan misi terselubung, yaitu promosi produk yang dimiliki oleh pihak sosialitator. Selain itu, sebagian besar masyarakat setempat belum mempunyai inisiatif dan terkesan  mengikuti arus pengolahan pertanian yang ada. Hal ini dikarenakan masyarakat takut bila penggunaan pupuk organik akan tidak membuahkan hasil yang maksimal. Bahkan peran pemerintah lokal yang seharusnya menggerakkan masyarakat dan bekerja sama dengan pemerintah pusat dalam penggunaan pupuk organic, tidak ada dan cenderung pasif.  Hingga  masyarakat desa pun hanya bisa pasrah dan mengikuti arus pengolahan pertanian yang ada.
Penyebab lain masalah rusaknya lahan karena pupuk dan racun kimia  di Desa Krangkong adalah di sebabkan kurang berjalannya program Gapoktan yang sudah ada. Hal ini disebabkan karena tidak adanya falisitasi  lembaga Gapoktan  untuk pertanianyang  masyarakat Desa Krangkong. Hal ini disebabkan belum ada yang memdiasi antara gapoktan dengan pemerintah lokal sebagai institusi yang seharusnya menfasilitasi setiap sub lembaga yang ada di Desa Krangkong.  Hal tersebut diperparah dengan kurangnya koordinasi antar pengurus Gapoktan yang ada di Desa krangkong. sehingga jadwal pertemuan antara penggurus dan anggota Gapoktan tidak jelas.
            Rusaknya lahan pertanian di Desa Krangkong sangatlah berdampak pada berbagai aspek. Dampak tersebut diantaranya adalah a) ketergantungan pada pasar dan pupuk kimia yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan pada masyarakat tentang pertanian. b) masyarakat Desa Krangkong merupakan masyarakat yang sebagian besar berprofesi menjadi petani yang rata-rata mempunyai sawah yang luas, tetapi hasil yang mereka peroleh kurang maksimal. Karena tanaman mereka masih terjangkit hama c) masyarakat Desa Krangkong merupakan masyarakat yang lumayan maju, sehingga masyarakat


b.      Belenggu Kuasa Tengkulak
            Seluruh masyarakat Desa Krangkong mayoritas adalah petani, meskipun ada juga yang bekerja diluar daerah mereka, tetapi mereka yang notabenenya tidak menetap di Desa, mereka masih memiliki lahan yang disewakan kepada sanak-kerabat mereka untuk dikelola. Cara yang mereka gunakan untuk pengelolaan lahan mereka dengan cara pindon[12]. Dengan cara pindon ini petani setempat bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dalam jangka beberapa bulan. Namun, sistem pindon tidak maksimal jika sudah kemarau panjang dan harga tembakau turun.

Bagan 2:3
Alur penjualan hasil pertanian





















 







Oval: Pabrik  

                                                                                                   Alur penjualan besar
                                                                                                  Alur penjualan kecil



Alur penjualan hasil pertanian, tanpa mereka sadari juga menjadi polemik dan belenggu bagi masyarakat. Menurut salah seorang petani Desa Krangkong, penjualan padi, palawija, dan tembakau lebih mudah dijual kepada tengkulak. Dengan alasan petani tidak perlu keluar desa untuk menjual hasil tanamannya. Namun, cara yang dilakukan tengkulak adalah tebasan[13]. Dengan dua cara, di beli langsung di lahan dan menerima yang sudah selesai proses penjemuran, baik itu padi maupun tembakau.[14]
Banyak diantara petani meminjam uang kepada tengkulak yang menerima hasil pertanian sebelum masa panen tiba. Cara mengembalikan dengan menyetorkan hasil pertanian yang mereka kelolah kepada tenggulak. Hal ini berlengsung sejak dulu, tanpa mereka sadari hal inilah yang menyebabkan mereka tidak berkembang, dan selalu mengalami keadaan yang serupa meskipun kadang tidak sama, yaitu kerugian ketika panen. Namun, petani tetap saja mengikuti arus yang sedemikian rupa, karena secara mayoritas petani tidak memiliki keinginan untuk lepas dari ketergantungan kepada tengkulak. Sehingga dalam fikiran dan benak petani hanya memikirkan cara untuk  mendapatkan hasil yang maksimal, agar ketika menjual hasil pertanian kepada tengkulak merasa sama-sama untuk tanpa memikirkan kondisi yang lainnya.

c.       Tingginya Tingkat Perantau Bagi Usia Produktif
            Pendidikan bagi masyarakat Desa Krangkong merupakan hal yang penting. Bagi mereka pendidikan anak-anak mereka adalah upaya untuk mengentaskan kebodohan dan kehidupan yang kurang layak. Meskipun orang tua dari anak-anak mereka adalah petani dan orang desa, setidaknya anak-anak mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak setara dengan jenjang pendidikan yang mereka tempuh.
            Meskipun setelah lulus SMA sebagian dari mereka merantau dan menjadi TKI, dan sebagian lagi melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Tetapi, asumsi mereka yang sudah menetap diperantauan baik itu kuliah maupun bekerja, sedikit banyak telah meringankan perekonomian keluarga. Bukan hanya itu, para orang tua juga beranggapan bahwa anak mereka tidak harus kembali ke desa, karena jika anak mereka bertahan diperantauan mereka, secara otomatis masyarakat setempat akan beranggapan bahwa mereka tergolong orang-orang sukses.
            Banyaknya usia produktif yang merantau, manjadi salah satu penyebab Desa ini sulit berkembangan. Kebanyakan dari mereka memilih merantau di negara-negara berkembang seperti di Korea dengan jumlah perantau sebanyak 16 orang, salah satunya adalah anak tertua dari Kepala Desa Krangkong. Di kota-kota besar di Indonesia juga menjadi sasaran rantauan para generasi muda Krangkong seperti di Surabaya lebih dari 10 orang yang menetap di kota ini. Sebagian dari mereka ada yang masih kuliah ada yang bekerja sebagai buruh pabrik.
            Indikasi itu juga diperkuat dengan banyaknya generasi muda Dusun Temu dan Krangkong yang pasif terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Muda Karya. Para pemuda dari Dusun Juwet yang selama ini rela meluangkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang membangun Desa mereka.
                 
Bagan 2:4
Time line perkembangan organisasi pemuda Desa Krangkong

Tahun
Kejadian
1996
Karang taruna Muda Karya didirikan oleh pemerintah setempat dan di ketuai Agung Sutikno
2001-2003
Karang taruna Muda Karya mengalami kefakuman akibat ketua Karang Taruna mendapat pendidikan lanjutan di jepang selama 2 tahun.
2004-sekarang
Keadaan stabil setelah kembalinya ketua dari jepang. Meskipun anggota karang taruna yang masih aktif mengikuti kegiatan hanya dari dusun juwet

            Jika dilihat dari tabel di atas dan  keseharian para pemuda Desa Krangkong pada umunya, memang yang memiliki kontribusi besar untuk perubahan dan perkembangan Krangkong adalah pemuda dari dusun Juwet, meskipun sebagian dari mereka adalah pengangguran dan calon sarjana gagal. Dari tahun ke tahun pemuda Juwetlah yang selalu ikut meramaikan kegiatan Krangkong. Meskipun organisasi yang menaungi mereka sempat fakum. Namun, semangat mereka untuk berkontribusi tetaplah tinggi.
























BAB III
DINAMIKA PRSOSES PENDAMPINGAN PEMECAHAN MASALAH DESA KRANGKONG
Dari fakta penyebab dan akibat permasalahan pemanfaatan lahan pertanian ramah lingkungan di Desa Krangkong, maka harapan yang diinginkan oleh masyarakat agar pemanfaatan lahan bisa semaksimal mungkin adalah seperti dalam pohon harapan berikut :
Bagan 3: 1
Analisis Pohon Harapan








                                    




Pulihnya lahan pertanian karena pengolahan pertanian organik dapat dilihat dari meningkatnya pengetahuan  dan kesadaran  petani terhadap pengolahan  pertanian  ramah lingkungan, masyarakat tidak lagi bergantung deangan pasar dan pupuk kimia, dan meningkantnya peran pemerintah lokal. Lahan yang dikatakan ramah lingkugan jika tingkat kesuburan tanah sudah mencapai 6-7 dari ukuran PH tanah yang sudah ditentukan. Lahan pertanian di Desa Krangkong mengalami peningkatan kadar keasaman tanah dan penurunan kadar kesuburan tanah, sehingga hasil dari Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan bersama dengan anggota gapoktan, dapat digaris bawahi bahwa petani setempat mengarapkan pemerintah lokal lebih peduli terhadap apresiasi masyarakat dengan wujud intensitas penyuluhan dan pendampingan pertanian ramah lingkungan. Demikian pula diharapkan adanya kerjasama yang baik antara pengurus gapoktan dan anggota, agar segala yang menjadi kegundahan dan kebingungan para petani segera terselesaikan.
Sebernarnya di Desa Krangkong sudah sering kali diadakan sosialisasi obat dan pupuk pertanian, baik dari jenis padi, palawija, dan tembakau. Tetapi tidak menunjukkan kesehatan tanaman mereka, bahkan  sebagian besar dari mereka mengalami kerugian tanpa diduga. Seperti yang dialami Endang (45) sering mangalami kerugian ketika musim panen tembakau tiba. Bukan hanya itu pada saat petani wilayah Bojonegoro-Tuban mengalami gagal panen besar-besaran dikarenalan serangan penyakit pertanian toklu (ketok gulu)[15], petani Krangkong juga mengalami kerugian. Setelah diusut secara mendalam secara mayoritas petani Bojonegoro pada umunya dan petanin Krangkong pada khususnya, memakai pupuk dan pestisida kimia yang residunya bisa membahyakan unsur hara dan manusia.
Hal ini disebabkan obat dan pupuk yang disosialisakan adalah obat dan pupuk yang bersifat kimiawi. Oleh karena itu, masyarakat mengharapkan adanya transformasi sosial secara nyata, baik itu dari segi pemerintahan, maupun dari segi pola fikir masyarakat secara massif. Karena transformasi sosial yang mengarah pada pertanian adalah salah satu  upaya untuk kesejahteraan dan pelestarian salah satu kebutuhan pokok masyarakat setempat, maka diharapkan adanya simbiosis-mutualisme antara pemerintah lokal dengan masyarakat setempat.
Sementara mengenai manfaat dari meningkatnya lahan ramah lingkungan adalah: meningkatnya peren pemerintah lokal, hasil pertanian meningkat, dan ketergantungan kepada pasar dan pupuk kimian menurun . Sehingga petani dan masyarakat pada umumnya tidak lagi mengalami kegundahan dan kebingungan terkait lahan pengelolaan pertanian mereka. Demikian pula diharapkan masyarakat akan mampu menyehatkan dan meningkatkan hasil pertanian mereka, karena selama ini asumsi mereka tentang pertanian hanya berorientasi pada keuntungan atau hasil.
Focus Group Discussion (FGD) dengan semua anggota kelompok tani dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2014. FGD perdana ini membahas mengenai pupuk dan obat yang biasa digunakan untuk pengolahan lahan pertanian setempat. Dilanjutkan dengan pemahaman mengenai cara yang tepat mengenai penggunaan pupuk dan obat pertanian secara proporsional, selain itu pemaparan mengenai tingkat kesuburan dan keasaman lahan pertanian di Desa Krangkong. Setelah pemaparan mengenai kondisi lahan pertanian, para petani terlihat kaget dan satu persatu mulai menuturkan kondisi lahan mereka. Secara tidak langsung mereka terangsang untuk menciptakan transformasi pada pertanian mereka.











Gambar 10
FGD dengan Kelompok Tani
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 15\DSC01723.JPG
FGD perdana ini, dilaksanakan dibalai Desa Krangkong yang berada di Dusun Juwet. Dalam FDG perdana ini tim fasilitator bekerja sama dengan UPTD kecamatan Kepohbaru dan PT BASF atas inisiatif  Agung Sutikno selaku ketua gapoktan dan karang taruna desa krangkong.
Permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat desa krangkong seperti yang tertera dalam pohon masalah hasil pemetaan, adalah rusaknya lahan pertanian karena pupuk dan racun kimia. Sehingga, diskusi pada pagi itu pun langsung menjurus pada masalah kerentaan yang mereka hadapi, yaitu kondisi pertanian. Meskipun banyak masalah lain di desa krangkong. Masyarakat yang pada umumnya adalah petani meminta agar masalah pertanian yang notabennya adalah taruhan antara hidup dan mati mereka harus didahulukan dan mendapatkan prioritas utama. 
Proses diskusi tentang pertanian ini, diawali dari berbagai macam curahan hati dan keluhan-keluhan masyarakat tentang kondisi pertanian mereka. Seperti pengakuan beberapa petani yang beberapa kali menggunakan detergen, solar dan pelumas kendaraan untuk membasmi hama yang menyerang tanaman mereka. Setelah itu, peserta diskusi diberikan penjabaran mengenai kondisi lahan mereka, dijelaskan pula bagaimana sebab-sebab yang mejadikan lehan mereka mengalami  penurunan tingkat kesuburan. Karena masalah pertanian diposisikan menjadi masalah yang sampai saat masih belum menemukan solusi yang tepat. Masalah pertama, sebenarnya yang diingankan oleh masyarakat setempat adalah wujud penyuluhan dan pendampingan pertanian yang baik dan benar serta proporsional, karena pertanian yang mereka kelolah juga berimbas pada perekonomian mereka. Setelah diberikan pemahaman mendalam mengenai kondisi pertanian yang sedang mereka alami, masyarakat mulai berfikir bahwa segala sesuatu yang berurusan dengan pembangunan berupa fisik, maka secara otomatis pemerintah yang akan turun tangan.
Masalah kedua, penyuluhan yang selama ini diadakan oleh pemerintah local, hanya berupa penyuluhan obat dan pupuk pertanian yang bersifat kimiawi. Hal ini juga mempunyai misi terselubung, yaitu peserta penyuluhan diwajibkan untuk menggunakan produk yang mereka bawa. Dalam artian pihak penyuluh juga mempunyai agen yang menjualkan produk mereka. Seharusnya hal seperti ini, perlu dikaji lebih mendalam oleh masyarakat, apakah itu menguntungkan atau bahkan bisa sangat merugikan. 
Masalah ketiga, selain mempunyai misi terselubung. Menurut Mujiono selaku Kepala Dusun Juwet Desa Krangkong, penyuluhan itu hanya bentuk formalitas saja dari pihak pemerintah local, harusnya pemerintah local faham dengan apa yang betul-betul menjadi kebutuhan masyarakatnya. Penyuluhan itu juga tidak memberikan dampak yang positif terhadap kondisi lahan pertanian, jika dirasakan semakin dalam justru dari obat dan pupuk kimia yang dibawa mereka tingkat kesuburan lahan pertanian di Desa Krangkong semakin menurun. Hal ini yag mengakibatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pengolahan lahan pertanian ramah lingkungan nimim, meskipun segelintir dari masyarakat krankong sudah ada yang mulai menyadari dan berupaya untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Diskusi ini berakhir dengan kesepakat untuk mengentaskan masalah pertanian tidak ramah lingkungan ini dengan segera. Langkah pertama dimulai dari sebuah keberanian mengusut masalah-masalah tentang kondisi lahan pertanian, dengan pemerintah local sebagai stakeholder. Langkah ini dibantu oleh PT BASF, meskipun dalam jangka selanjutnya kemungkinan besar perusahaan obat tersebut akan memeliki agen-agen di Desa Krangkong seperti perusahan-perusahan obat pertanian sebelumnya. Tetapi jika dilihat dari upaya pendampingan yang dilakukan oleh pihak PT BASF sangatlah menguntungkan masyarakat Desa Krangkong.
Gambar 11
Pendampingan pertanian oleh PT BASF
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 15\DSC01770.JPG
Langkah kedua yang dilakukan adalah memberikan pemahaman dan pendampingan pengolahan yang sesuai dengan tata-cara pemulihan tingkat kesuburan tanah. Langkah ini dilanjutkan dengan pendampingan pengolahan tanaman holty[16] sebagai alternative pengembalian tingkat kesuburan tanah. Selain itu tanaman holty juga merukan altelnatif peralihan tanam dari padai ke tembakau, mengingat harga tembakau semakin anjlok. Karena dalam proses pengolahan membutuhkan penyebaran dolomite sebelum tanah di gundukan. Dolomite sendiri berfungsi untuk mengurangi tingkat keasaman tanah. Meskipun dalam pengolahan tanaman holty membutuhkan banyak tenaga dan financial. Tetapi dalam proses pengolahan dan perawatannya tidak membutuhkan pupuk dan obat kimia dalam jumlah besar. Dalam segi penjualannya pun tidak selalu bergantung pada tengkulak, bahkan dari hasil tanaman holty kebutuhan konsumsi pangan rumah tangga terpenuhi tanpa harus mengeluarkan uang lagi.
Selain permasalahan pertanian tidak ramah lingkungan, masih banyak permasalahan lain yang menunggu giliran untuk segera dipecahkan. Meskipun ratingya masih dibawah permasalahan pertanian tidak ramah lingkungan. Permasalahan-permasalahan tersebut menyakut potensi masyarakat dan pemberdayaan sumberdaya serta pembangunan fisik yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat. Permasalahan potensi masyarakat dan pemberdayaan sumberdaya yang ada misalnya minimnya pemanfaatan dan pengolahan hasil bumi. Sedangkan permasalahan fisik, misalnya tempat pembuangan limbah rumah tangga masih berupa selokan-selokan disamping rumah atau dibelakang rumah mereka.
Berdasarkan kesepakatan masyarakat setempat, yang akan terlebih dahulu diselesaikan adalah masalah pemanfaatan potensi alam. Mengingat banyaknya kemampuan masyarakat patut untuk dikembangkan, seperti pengolahan pupuk kompos, membuat anyaman bambu yang bernialai jual lumayan tinggi, membuat pestisida alami, membuat olahan pangan dari sumber alam yang mereka miliki.



BAB IV
MEWUJUDKAN HARAPAN MASYARAKAT KRANGKONG MELALUI PENERAPAN PENGOLAHAN PERTANIAN ORGANIK

a.      Merintis Pendidikan Pertanian
      Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) merupakan salah satu lembaga penting dalam kemajuan pertanian Desa Krangkong. Selain sebagai lembaga yang mengordinir kelompok tani dari masing-masing Dusun, lembaga ini juga mempunyai peranan penting dalam  memberikan informasi terkait masalah pertanian. Meskipun pada dasarnya dari masa ke masa Gapoktan memberikan sumbangsi cukup besar terhadap pertanian Krangkong. Namun, yang menjadi catatan adalah selama ini Gapoktan yang menjembatani adanya misi terselubung dari perusahaan pestisida yang hanya menawarkan produknya tanpa memberikan pendampingan pertanian yang diharapkan dan dibutuhkan petani setempat.
      Sejak adanya FGD resmi dengan anggota kelompok tani pada tanggal 29 Januari 2014. Secara tidak langsung Gapoktan adalah lembaga yang menjembatani adanya pendidikan pertanian tepat sasaran. Kelompok tani diberikan pemahaman mengenai cara peningkatan PH tanah, petani diberikan pemahaman bagaimana penggunaan pupuk dan pestisida secara baik dan benar. Bukan hanya itu, para petani juga diberikan wawasan mengenai kandungan yang ada pada pestisida yang selama ini digunakan.
      Pada tahap selanjutnya petani bersama-sama mengikuti pendampingan pertanian dengan pelatihan-pelatihan di bawah ini:

·         Pelatihan Pemulihan Tanah
            Pelatihan pemulihan tanah, dilakukan di lahan percontohan pertanian (Demonstrasi Plot) yang ada di lahan pekarangan Rois (48),  pelatihan tahap pertama hanya diikuti oleh anggota Gapoktan. Penggarapan lahan seluas 8 m2 yang dimulai pada tanggal 24 Januari 2014 di lahan pekarangan  rumah Rois (48). Pada tanggal tersebut terlebih dahulu dilakukan pembersihan pekarangan yang masih berumput. Kemudian pada tanggal 29 Januari susai mengadalah FGD resmi di Balai Desa Krankong anggota Gapoktan  bersama-sama melakukan  penggundukan dan pemberian pupuk organic, mengingat lahan tesebut sudah memiliki unsure batu kapur golongan C (dolomite), maka tidak perlu lagi dilakukan penyebaran kapur dolomit.
Jumlah anggota Gapoktan yang mengikuti pelatihan pemulihan tanah sebanyak 25 orang. Pelatihan ini dilaksanakan dari pagi sampai siang. Pelatihan ini disambut dengan sangat antusias, kerena mereka merasa mendapat ilmu baru untuk kepentingan pertanian mereka.
Pelatihan selanjutnya dilaksanakan pada tanggal 2 Pebruari 2014, pelatihan ini sekaligus dijadikan aksi menanam buah dan sayuran oleh generasi muda Desa Krangkong. dari aksi ini diharapkan generasi muda krangkong sadar akan perkembangan Desa mereka. Terlebih di bidang pertanian. Pelatihan merupakan wujud dari perencanaan yang sudah di susun bersama-sama dari lintas generasi. Dari pelatihan ini di harapkan mampu untuk mengembalikan kondisi tanah yang mengalami kerusakan akibat racun kimia.
Pada pelatihan ini, petani di dampingi dan di latih untuk mengolah pertanian dengan cara organik. Termasuk bagaimana penggunaan pupuk dan obat kimia, jika memang masih dibutuhkan untuk pertanian mereka. Petani setempat juga di didik agar tidak lagi terlalu bergantung pada pasar dan pupuk kimia. Selain itu petani diberi pemahaman bagaimana menjadikan dolomit sebagai pupuk dan juga sebagai pestisida.








Gambar 12
Tanah yang sudah di taburi batu pertanian
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 19\100_4365.JPG
Dolomit adalah merupakan pupuk magnesium berkadar tinggi, digunakan baik untuk tanah pertanian, tanah perkebunan, kebutuhan industri dan bahkan untuk perikanan /tambak. Bahan baku Super Dolomit berasal dari batuan dolomit yang ditambang dari kawasan pertambangan di Gresik. Menurut pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Bandung, batuan dolomit di Gresik adalah jenis batuan dolomit yang berkualitas tinggi, yakni dengan kadar MgO 18% - 21%
Keunggulan Pupuk Super Dolomit
1.      Ukuran butir seragam, dan minimal 95% lolos ayakan 100 mesh
Ø  Kadar MgO minimal 18%
Ø  Daya larut dalam air cepat, sehingga cepat tersedia bagi tanaman
Ø  Sebagai pupuk Mg memiliki efektifitas tinggi
Ø  Daya tangkal pengasaman cepat
Ø  Untuk mencapai produktifitas yang sama hanya memerlukan 60% super dolomit bila dibandingkan dengan dolomit biasa, sehingga mengurangi biaya aplikasi pemupukan dan biaya pengiriman
2.      Pemakaian Kieserite dapat digantikan oleh super dolomit, jika super dolomit telah dicampur dengan ZA, Selain itu dapat memberikan manfaat lebih tinggi sebagai berikut :
Ø  Pemakaian kombinasi super dolomit + ZA mampu memasok hara Magnesium (Mg) dan Sulfat Nitrogen pada tanaman dan tidak mengasamkan tanah
Ø  Penghematan biaya produksi karena pemakaian Super Dolomit + ZA harganya lebih murah dibandingkan dengan Kieserite
Ø  Penghematan devisa, karena import Kieserite dapat ditiadakan


Kegunaan Super Dolomite
Ø  Penyembuhan
Untuk tanaman, kekurangan Magnesium (Mg) berakibat sangat fatal. Tanaman yang menderita kekurangan Magnesium ditandai dengan daun yang menguning, sehingga kehilangan kemampuan menghasilkan CO2, dengan demikian, pemberian pupuk Super Dolomite akan mampu menambah unsur hara Magnesium yang diperlukan tanaman tersebut, sehingga warna daunnya akan menjadi hijau lagi.

Ø  Amelioran
Pada tanah masam atau PH rendah, selain pertumbuhan tanaman akan terganggu, juga keracunan A1 dan Fe sering terjadi. Dengan pemberian Super Dolomit, selain dapat menetralisir A1 dan Fe, juga menaikkan PH tanah sehingga penyerapan unsur unsur hara, N Fosfor (P), K oleh tanaman menjadi baik
Ø  Pembenah
Pemberian pupuk berbentuk Amonium (UREA/DAP) dan kalcium (KCL/ZK) yang terlalu banyak, dapat mengakibatkan kekurangan Magnesium (Mg). Selain itu pupuk nitrogen mempunyai kecenderungan menciptakan suasana masam. Pemberian pupuk Super Dolomit mampu menetralisir reaksi tanah yang bersifat masam akibat pemberian pupuk yang berlebihan.

Cara penggunaan
Ø  Lahan seluas 1 Ha membutuhkan 16 Ton kapur pertanian (dolomit)
Ø  Dolomit ditaburkan minimal dua minggu sebelum tanam dan tanah sudah di bajak[17]

b.      Membangun Kepercayaan Generasi Muda Tentang Pertanian
      Masyarakat Desa Krangkong mayoritas petani, meskipun sebagian dari mereka ada yang berprofesi sebagai guru, pekerja pabrik, TKI dan PNS. Meskipun demikian masing-masing dari mereka memiliki lahan pertanian yang dikelolah. Namun, generasi muda dari dua dusun di Krangkong. Mengalami eksodus. Mereka lebih senang menetap diperantauan daripada dirumah sendiri.
      Di sisi lain terdapat harapan terhadap organisasi atau generasi muda untuk membangun sebuah kepercayaan yang nantinya akan bertugas sebagai penggiat, pelaksana sekaligus evaluator sebagai bentuk rencana program baik dalam segi sosial maupun segi fisik. Selain itu, generasi muda juga berperan untuk  mendampingi dan mengontrol segala kebijakan desa, juga segala macam bentuk bantuan yang nantinya akan masuk ke Desa Krangkong.
      Mereka adalah pemuda dari dusun Juwet, meskipun sebagian dari mereka adalah pengangguran dan hanya membantu orang tua mereka ke sawah. Namun, ini adalah peluang penyadaran dan proses regenerasi petani terdidik. Mereka adalah calon sarjana yang berhenti ditengah jalan, setidaknya untuk penyadaran dan  pemberian pemahaman mengenai pertanian lebih mudah dibandingkan dengan pemuda yang sudah lama menetap diperantauan seperti manado, papua, dsbg.


Bagan 4:1
Kegiatan harian pemuda Krangkong
Waktu
Kegiatan
06.00-13.00
Kerja, sekolah, membantu orang tua di sawah
13.00-15.00
Pergi ke warung, nongkrong, main gitar
15.00-18.00
Membantu orang tua
18.00-00.00
Nongkrong
00.00-05.00
Istirahat

Dilihat dari kegiatan harian pemuda, masih ada waktu kosong yang memungkinkan untuk pembelajran pertanian tepat sasaran. Hal ini juga membantu untuk mempertahankan generasi muda yang peduli terhadap pertanian dan kemajuan suatu bangsa.

C.    Menanam Harapan Pada Sepetak Tanah
Perjuangan masyarakat Desa Krangkong dalam megusut permasalahan pertanian tidak ramah lingkungan dilanjutkan denga penggarapan lahan seluas 8 m2 yang dimulai pada tanggal 24 Januari 2014 di lahan pekarangan rumah Rois (48). Pada tanggal tersebut terlebih dahulu dilakukan pembersihan pekarangan yag masih berumput, kemudian dilanjutkan dengan penggundukan dan pemberian pupuk organic, mengingat lahan tesebut sudah memiliki unsure batu kapur golongan C (dolomite), maka tidak perlu lagi dilakukan penyebaran kapur dolomit.
Lahan pekarangan tersebut dijadikan sebagai lahan percontohan pengolahan tanaman holty mulai dari pembibitan, pengolahan tanah, sampai penanaman. Pada tanggal 29 Januari 2014, setelah diadakan penyuluhan dan pendampingan perdana oleh PT BASF, masyarakat bersama-sama melakukan penanaman jenis tanaman holty, berikut juga dengan percontohan-percontohan penyakit yang menyerang tanaman mereka beserta sebab-sebab penyakit tidak bisa dbasmi dan cara untuk membasmi penyakit tersebut, tentunya dengan cara yang lebih aman dan benar. Lokasi ini dikhususkan untuk Gapoktan sebagai lokasi keedua dari pendampingan yang dilakukan oleh tim fasilitator. Lokasi ini juga sebagai stimulus terhadap masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian yang luas dengan lahan yang sempit pun bisa untuk mengolah tanaman holty.

Gambar 13
Lokasi DEMPLOT pertanian organik dan holty
Description: Description: D:\FOTO KKN PAR\HARI KE 13\IMG_3567.JPG
Pada tanggal 28 Januari 2014, pengolahan awal lokasi dampingan pertama yang berada di sebelah barat lapangan Desa Krangkong,  tepatnya di Dusun Juwet dengan luas lahan 25 m2. Pengolahan lahan akan digunakan sebagai lokasi dampingan dibantu oleh Rois (48) dan Suyadi (52). Sedangkan untuk pembelian bibit buah dan sayuran, dibantu agung Sutikno selaku ketua Gapoktan dan karang taruna. Selanjutnya pada tanggal 02 Februari 2014, tim fasilitator dibantu oleh karang taruna krangkong, bersama semua lapisan masyarakat bergotong royong  untuk mewujudkan harapan baru.

Gambar 14
Lahan percontohan di pekarangan rumah Rois
Description: Description: F:\photovideo\IMG_3629.JPG
Disinilah sejarah baru pertanian Desa Krangkong dimulai. Sebuah peristiwa yang patut untuk dikenang. Setelah menempuh perjalan yang panjang dan berbatu, akhirnya masyarakat Kranngkong bisa merasakan manisnya buah dari perjuangan mereka. Tanah akan kembali pada tingkat kesuburan normal, tanaman sehat dan hasil pertanian melimpah.
Mengenai pengolahan holtykultural, aksi ini adalah upaya penyadaran untuk petani, bahwa tidak harus tembakau yang dipertahankan, bahwa tidak harus mengikuti harga yang diberikan oleh instansi-instasi yang berkuasa terhadap penjualan tembakau. Pada segala musim holtykultural juga bisa ditanam. Mengenai penjualannya holtykultural tidak harus dibawa ke pabrik atau tengkulak, bisa jadi petani sendiri yang mengelolah hasil pertaniannya. Entah langsung menjulnya ke agribisnis atau langsung bekerja sama dengan UMKM Kabupaten setempat. Bukan hanya itu untuk konsumsi sehari-hari petani tidak lagi bergantung kepada musim penghujan lagi, dimana petani bisa menikmati hasil panen padi baik itu materi atau sebagai simpanan bahan pokok. Dari holty petani diharapkan mampu untuk bertahan hidup tanpa ada ketergantungan lagi. Cara pengolahan holtykultural juga sedikit banyak membantu untuk meningkatkan PH tanah
BAB V
SEBUAH CATATAN REFLEKSI

Desa krangkong merupakan desa yang secara administrative termasuk dalam  kecamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro. Desa dengan jumlah penduduk sebanyak 2561 jiwa ini, mempunyai bentang pertanian yang luas. Hampir seluruh penduduknya adalah petani. Mereka memiliki cara pertanian sesuai dengan kalender musim mereka. Masyarakat menyebutnya pindon.
Banyak ragam permasalahan yang dihadapi masyarakat Krangkong, tetapi yang menjadi permasalahan pada umumnya adalah permasalahan pertanian. Masalah ini seringkali menjadi buah bibir, tapi belum menemukan pemecahan yang tepat. Berulang kali diadakan sosialisasi pertanian, tetapi dibalik semua itu ada misi terselubung. Bukan hanya itu pendampingan pertanian belum pernah dilakukan oleh pihak manapun, sehingga masalah ini seringkali hanya seperti kabar angin.
Masalah lain yang ada di Krangkong adalah kecenderungan generasi muda yang secara keseluruan lebih suka menetap di luar daerah mereka daripada menetap didaerah mereka sendiri. Dengan alasan di Desa mereka tidak ada pekerjaan yang mereka butuhkan. Padahal jika diteliti secara mendalam mereka bekerja di luar daerah mereka juga sebagai buruh, dalam artian skill yang mereka miliki masih belum mencukupi. Kecenderungan generasi muda yang seperti inilah yang menjadikan paradigma masyarakat memulai berubah. Serperti dari paradigma yang awalnya kolot menjadi paradigma yang mengikuti arus perkembangan zaman, padahal sejatinya mereka hanya ikut-ikutan.
Sebenarnya didesa Krangkong memiliki aset alam yang memadai, jika dilihat secara kasat mata tidak mungkin masyarakat Krangkong mendapati kesusahan dalam segi pencukupan kebutuhan sehari-hari. Namun, berbagai masalah timbul silih berganti. Mulai dari menejemen pemasaran hasil pertanian yang masih bergantung pada tengkulak dan pabrik. Hasil alam yang tidak dimanfaatkan dengan sempurna, bahkan pola pertanian yang tidak ramah lingkungan. Padahal jika dilihat dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat setempat baik dalam hal pengolahan pangan dari hasil bumi yang ada maupun dalam hal pengolahan kebutuhan pertanian. Seharusnya masyarakat mampu untuk mengentaskan permasalahan yang mereka hadapi. Namun, yang selalu menjadi kendala adalah akses yang mereka miliki, baik itu informasi maupun pendampingan.
Selama ini pola pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Desa Krangkong lebih menggunakan konsep top-down yaitu pemerintah setempat langsung mengadakan sosialisasi tanpa adanya diskusi terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya para petani, sehingga konsep tersebut kurang efektif. Buktinya, para petani masih mengeluhkan adanya permasalahn pada lahan dan hasil pertanian mereka. Bahkan untuk pembasmian hama yang menyerang pertanian mereka, sebagian petani menggunakan pestisida yang memiliki kandungan residu yang tinggi. Bukan hanya itu petani juga menggunakan oli dan detergent sebagai pestisida. Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungannya berimbas pada banyak aspek kehidupan bermasyarakat.
Masyarakat yang konsumtif juga menjadi pemandangan tersendiri. Hal ini dilihat dari survey belanja harian masyarakat setempat. Mereka cenderung untuk menikmati bahan pokok yang disuplay dari luar mereka. Ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat belum bisa memaksimalkan pemanfaatan aset yang mereka miliki.
Desa Krangkong memang memiliki permasalahan yang hampir mirip dengan desa-desa di sekitarnya. Namun, dalam penyikapan penguraian dan pemecahan masalah jelaslah sangat berbeda. Untuk menyikapinya harus menggunakan konsep bottom-up yaitu dilakukan proses penelitian mendalam terlebih dahulu untuk mengetahui akar permasalahan masyarakat setempat. Sehingga hasil  dari riset tersebut bisa menjadi dasar untuk mencabut akar permasalahan yang selama ini dihadapi oleh masyarakat setempat. Artinya dalam konsep ini potensi keberhasilannya lebih unggul dibandingkan dengan konsep top-down yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.
Upaya pendampingan untuk pemecahan permasalahan  tetap digalang, karena dari pendampingan inilah kesadaran masyarakat akan muncul. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi jika suatu saat menghadapi permasalahan yang memiliki konteks berbeda dari maslah yang mereka hadapi saat ini. Setidaknya masyarakat setempat sudah pernah pernah merasakan apa yang dinamakan pemberdayaan. Dari sinilah masyarakat sudah memiliki pengalaman untuk memecahkan masalahnya sendiri.
Perubahan yang kini terjadi dalam masyarakat desa Krangkong salah satunya adalah cara pandang masyarakat atau perubahan paradigma masyarakat terhadap pola pertanian yang semakin berkembang saat ini, semakin sering mereka mengikuti pelatihan dan pendampingan tentang pertanian, sedikit demi sedikit pemahaman dan pengetahuan mereka mengenai masalah pertanian semakin bertambah  inovatif. Beberapa pelatihan pertanian yang pernah mereka ikuti membuat mereka mulai membuka fikirannya dan mulai menerima pemikiran-pemikiran baru yang menurut mereka bisa membawa pola pertanian yang lebih baik di Desa ini.
Dengan pola pikir yang semakin berkembang, mereka mulai bisa mempertimbangkan system apakah yang cocok untuk lahan dan bahan yang seperti apa yang lebih baik di gunakan di daerah ini. Mulai dari pupuk, obat-obatan, bibit, dan system pengolahan yang tepat dan efektif untuk diterapkan.
Pemilihan pupuk yang tepat merupakan factor yang sangat penting dalam pengolahan lahan dan dapat mengurangi resiko gagal panen. Jenis tanah yang kurang subur lebih banyak memerlukan pupuk, sedangkan tanah yang memiliki tingkat kesuburan yang tinggi tidak banyak memerlukan pupuk, dalam hal ini pupuk hanya sebagai perawatan tanaman saja. Demikian pula dengan obat-obatan, obat-obatan ini diperlukan ketika tanaman mengalami gangguan seperti halnya masalah hama, cuaca yang kurang bersahabat, dan bencana alam. Selanjutnya adalah bibit, bibit juga merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam dunia pertanian. Biasanya pertimbangan dalam pemilihan bibit merupakan hal yang sangat sulit. Pemilihan bibit sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tanah dan cuaca yang sedang terjadi pada saat itu. Pemilihan sitem pengolahn tanah di sini merupakan hal pokok yang bisa dilakukan untuk mengurangi kegagalan panen dan menambah hasil panen dan kualitas hasil panen. Sistem pertanian dilakukan untuk mensiasati agar lebih memudahkan pengolahan lahan dan mengurangi modal pengolahan dan juga mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan.
Setelah diskusi panjang dengan kelompok tani, pemuda, dan pemerintah Desa, sepakat untuk mengolah lahat seluas 8x10 dan lahan 8m2 untuk dijadikan sebagai lahan percontohan pengolahan pertanian organik. Namun, tanaman yang di tanam pada lahan ini bukan tanaman yang biasa mereka tanam setiap musimnya. Mayarakat setempat sepakat untuk menggunakan jenis tanaman holty. Karena langkah ini merupakan langkah untuk mengalihkan sistem tanam yang bukan hanya padi dan tembakau. Langkah ini juga bertujuan untuk bisa memenuhi perekonomian masyarakat setempat, mengingat harga tembakau semakin menurun. Meskipun pada awalnya petani setempat banyak bertanya, dan beranggapan bahwa tim fasilitator tidak akan mampu untuk mengadakan pendampingan pertanian. Tetapi anggapan itu kemudian sirna ketika tim PPL Kepohbaru datang bersama tim pendamping pertanian dari PT BASF.
           













BAB VI
PENUTUP

Krangkong, desa lepas landas yang berada di ujung timur wilayah kabupaten Bojonegoro. Memiliki lingkungan persawahan yang luas dan produktif. Bisa digambarkan kalau daerah seperti ini adalah daerah yang bisa ditanami jenis tanaman apapun. Seperti halnya wilayah Bojonegoro lain yang merupakan daerah agraris. Desa Krangkong juga merupakan desa penghasil padi dan tembakau setiap tahunnya.
Kehidupan di Desa Krangkong sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan mereka. Seperti  pertanian yang tidak ramah lingkungan, tengkulak, budaya konsumtif, dan kecenderungan generasi muda yang lebih memilih untuk bertahn hidup di perantauan. Maka sangat tepat jika masyarakat ini melakukan penerapan pengolahan pertanian organik. Untuk mewujudkan pertanian yang ramah ingkungan.
Upaya ini juga akan berimbas pada perekonomian dan pola pertanian mereka. Mereka juga akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang pertanian yang baik dan benar. Sehingga tidak akan lagi mengalami kerugaian dan kegundahan yang mendalam. Dalam upaya ini, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang bagaimana pemenuhan kebutuhan pangan melalui hasil pertanian yang mereka kelola.
Selama ini pola pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Desa Krangkong lebih menggunakan konsep top-down yaitu pemerintah setempat langsung mengadakan sosialisasi tanpa adanya diskusi terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya para petani, sehingga konsep tersebut kurang efektif. Buktinya, para petani masih mengeluhkan adanya permasalahn pada lahan dan hasil pertanian mereka. Bahkan untuk pembasmian hama yang menyerang pertanian mereka, sebagian petani menggunakan pestisida yang memiliki kandungan residu yang tinggi. Bukan hanya itu petani juga menggunakan oli dan detergent sebagai pestisida. Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungannya berimbas pada banyak aspek kehidupan bermasyarakat.
Desa Krangkong memang memiliki permasalahan yang hampir mirip dengan desa-desa di sekitarnya. Namun, dalam penyikapan penguraian dan pemecahan masalah jelaslah sangat berbeda. Untuk menyikapinya harus menggunakan konsep bottom-up yaitu dilakukan proses penelitian mendalam terlebih dahulu untuk mengetahui akar permasalahan masyarakat setempat. Sehingga hasil  dari riset tersebut bisa menjadi dasar untuk mencabut akar permasalahan yang selama ini dihadapi oleh masyarakat setempat. Artinya dalam konsep ini potensi keberhasilannya lebih unggul dibandingkan dengan konsep top-down yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.




[1] Angon = menggembala
[2] Berkatan yang dibagikan
[3] istilah jawa yang berarti makan bersama
[4] Kosong tanpa tanaman apapun kecuali rumput
[5] Hasil FGD dengan Ir. Heru Hidayat. S, perwakilan dari PT. BASF yang di tunjuk sebgai fasilitator pernatian kabupaten Bojonegoro serta anggota GAPOKTAN desa Krangkong, Rabo, 29 Januari 2014 pukul 10.30 WIB
[6] pH adalah tingkat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14
[7] Mapak anak adalah sebutan padi yang sudah berusia 15-20 hari
[8] Hasil FGD dengan Sukadi, salah seorang anggota GAPOKTAN  desa Krangkong dalam sosialisasi pertanian dengan UPTD Kec. Kepohbaru kerjasama dengan PT. BASF, Rabo, 29 Januari 2014
[9] Hasil FGD dengan Tasrip, salah seorang anggota GAPOKTAN
[10] Bau adalah istilah yang digunakan petani setempat untuk menyebut lahan seluas 500 M2. Dua bau berarti 1000 M2.
[11] Hasil FGD dengan Sunarto
[12] Pindon istilah yang digunakan untuk menyebut pola  tanam dalam setahun, padi sebayak 2 kali tanam dan tembakau sekali tanam.
[14] Hasil wawancara dengan
[15] Toklu istilah yang digunakan petani setempat untuk menyebut penyakit yang menyerang pada leher padi pada saat padi menjelang musim panen.
[16] Holty merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan jenis tanaman buah dan sayur, yang tidak membutuhka banyak pupuk dan obat pertanian.
[17] Hasil diskusi dengan Ir. Heru Hidayat. S. Pendamping pertanian dari PT BASF, 29 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ILMU NAHWU (PELAJARAN 2) PELAJARAN 2 MENGENAL 5 MACAM ISIM             Ada 5 MACAM ISIM yang HARUS kita ketahui dan fahami de...