PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN PENDIDIKAN
ISLAM PADA ZAMAN ABBASIYAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Uas
(Ujian Akhir Semester)
“SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”
Oleh :
Siti
Yulaekah (D32210058)
Dosen Pembimbing:
Dr. Ibnu Anshori, SH. MA
JURUSAN
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penyusun
penjatkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat, taufiq dan hidayah-Nya maka
penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Perkembangan
Dan Kemajuan Pendidikan Islam Pada Zaman Abbasiyah”. Penulisan
makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan
mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di jurusan Pendidikan Bahasa Arab
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Dalam penyusunan
makalah ini penyusun merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun, untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah
ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada
pihak-pihak yang membantu terutama kepada dosen pembimbing mata kuliah Sejarah Pendidikan
Islam dalam menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya penulis
berharap semoga Allah memberikan imbalan yang baik pada mereka yang telah
memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amin.
Surabaya, 26 Juni 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ ....................i
DAFTAR ISI............................................................................................... ....................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... ....................1
A. Latar Belakang
Penulisan................................................................. ....................1
B. Rumusan
Masalah............................................................................ ....................1
C. Tujuan
Masalah................................................................................ ....................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................2
A. Bagaimana
Kostruksi Sosial Pendidikan Islam di
Zaman Abbasiyah.................2
B. Bagaimana
Kebijakan Pendidikan Islam di Zaman Abbasiyah............................3
C. Bagaimana
Instutionalisasi Pendidikan Islam di Zaman Abbasiyah...................5
BAB III SIMPULAN................................................................................. ..................12
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. ..................14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejak lahirnya agama islam,
lahirlah pendidikan dan pengajaran islam, pendidikan dan pengajaran islam itu
terus tumbuh dan berkembang pada masa khulafaurasyidin dan masa bani Umayyah.
Pada permulaan masa Abbasiyah
pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat hebatnya di seluruh negara
islam. Sehingga lahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya, tersebar
di kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda berlomba-lomba untuk menuntut
ilmu pengetahuan, pergi kepusat-pusat pendidikan,
meninggalkan kampung halamannya karena cinta akan ilmu pengetahuan.
Kerajaan islam di Timur yang
berpusat di Bagdad dan Cordova telah menunjukkan dalam segala cabang ilmu pengetahuan sehingga kalau
kita buka lembaran sejarah dunia pada masa keemasan, yang bermula dengan
berdirinya kerajaan Abbasiyah di Bagdad, pada tahun 750 M dan berakhir dengan
kerajaan Abbasiyah pada tahun 1258 Masehi.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana konstruksi sosial
pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah ?
2.
Bagaimana kebijakan pendidikan
Islam pada zaman Abbasiyah ?
3.
Bagaimama institusionalisasi
pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah ?
C.
Tujuan Masalah
1.
Mengetahui konstruksi sosial pendidikan Islam pada zaman
Abbasiyah
2.
Mengetahui kebijakan pendidikan
Islam pada zaman Abbasiyah
3.
Mengetahui institusionalisasi
pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konstruksi Sosial Pendidikan
Islam pada Zaman Abbasiyah
Kekuasaan dinasti bani abbas,
sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani Umayyah. Dinamakan
khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah
keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw, dinasti didirikan oleh Abdullah
Alsaffah Ibnu Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al- Abbas.[1]
Dinasti Abbasiyah merupakan
dinasti islam yang sempat membawa kejayaan umat islam pada masanya. Zaman keemasan islam dicapai
pada masa dinasti-dinasti ini berkuasa. Pada masa ini pula umat islam banyak melakukan
kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya pada masa ini banyak para
ilmuan dan cendikiawan bermunculan sehinnnngga membuat ilmu pengetahuan menjadi
maju pesat.
Popularitas daulah Abbasiyah
mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya
Al-Ma’mum (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk
keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi
didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter.
Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang
paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial,
kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan
berada pada zaman keemasannya.pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya
sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al- Ma’mun pengganti Al- Rasyid,
dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa
pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan
buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan
penganut golongan lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu
karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait Al- Hikmah, pusat
penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang
besar dan menjadi perpustakaan umum dan diberi nama ”Darul Ilmi” yang berisi
buku-buku yang tidak terdapat di perpustakaan lainnya. Pada masa Al-Ma’mun
inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, kekota
inilah para pencari datang berduyun-duyun, dan pada masa ini pula kota Bagdad
dapat memancarkan sinar kebudayaan dan peradaban islam keberbagai penjuru dunia[2].
B.
Kebijakan Pendidikan Islam pada Zaman
Abbasiyah
1)
Kehidupan Guru
Tinggi rendahnya penghormatan
terhadap guru pada awal abad-abad pendidikan muslim tergantung atas dua faktor,
yaitu:
a) Tempat dimana dia mengajar, di Persia: penghormatan kepada guru merupakan
suatu tradisi lama dalam pendidikan zoroastrian, tradisi ini dilanjutkan
kedalam periode islam.
b) Tingkatan dimana ia belajar. Biasanya, penghormatan kepada guru semakin
tinggi terhadap guru sekolah menengah dan pendidikan tinggi. Guru-guru sekolah
dasar kurang dihargai karena pengetahuannya yang amat sederhana dan karena
tingkat pendidikan tampaknya sudah menjadi daya tarik.
2) Tipe-tipe guru.
Ada enam tipe guru yaitu muallim, mu’addib, mudarris,
syaikh, ustad, imam, belum lagi termasukguru pribadi dan para muaiyyid atau
asisten (guru-guru yunior). Muallim biasanya julukan bagi guru sekolah dasar,
mu’addib, arti harfiyahnya orang yang beradab atau guru adab, adalah julukan
untuk guru-guru sekolah dasar dan menengah, mudarris adalah satu julukan
propesional untuk seorang murid atau pembantu. Ia sama dengan asisten profesor
dan membantu mahasiswa menjelaskan hal-hal yang sulit mengenai kuliah yang
diberikan profesornya, syaikh atau guru besar adalah julukan khusus yang
menggambarkan keunggulan akademis atau teologis, imam adalah guru agama
tertinggi.
3) Pakaian guru
Selama pemerintahan abbasiyah para guru mengikuti gaya
Persia, mengenakan tutup kepala Persia, celana lebar, rok, rompi, dan jaket.
Semuanya ditutup dengan jubah atau aba mantel luar dan taylasan diatas surban.
Keberadaan guru mempunyai pengaruh yang penting dalam
suatu pemerintahan, bahkan kekuasaannya mempunyai andil yang besar dalam
kekuasaan kholifah, karena guru terhimpun dalam suatu organisasi yang mempunyai
fower yang dapat mengendalikan kepentingan kholifah, khususnya dalam hal
pengangkatan dan pemberian izin untuk menjadi pengajar di masjid.
5) Kurikulum pendidikan islam
1) Kurikulumpendidikan islam sebelum berdirinya madrasah.
a. Kurikulum pendidikan rendah
Sebelum berdirinya madrasah,
tidak ada tingkatan dalam pendidikan islam, tetapi hanya satu tingkat yang
bermula dikuttab dan berakhir didiskusi halaqah. Tidak ada kurikulum khusus
yang diikuti oleh seluruh umat islam, dilembaga kuttab biasanya diajarkan
membaca dan menulis disamping al-qur’an, kadang diajarkan bahasa nahwu dan
arudh.
Sedangkan kurikulum yang
ditawarkan oleh Ibnu Sina untuk tingkat ini adalah mengajari al-qur’an, karena
anak-anak dari segi fisik dan mental telah siap menerima pendiktean. Namun
demikian, ada perbedaan antara kuttab-kuttab yang diperuntukanbagi masyarakat
umum yang ada diistana. Di istana orang tua (para pembesar istana) adalah yang
membuat rencana pelajaran tersebut sesuai dengan anaknya dan tujuan yang
dikehendaki. Rencana pelajaran untuk pendidikan istana ialah pidato, sejarah,
peperangan-peperangan, cara bergaul dengan masyarakat disamping pengetahuan
pokok, seperti al-qur’an, syair dan bahasa.
Kurikulum pada tingkat ini bervariasi tergantung pada
tingkat kebutuhan masyarakat, karena sebuah kurikulum dibuat tidak akan pernah
lepas dari faktor sosiologis, politis, ekonomis masyarakat yang melingkupinya.
b. Kurikulum pendidikan tinggi.
Kurikulum pendidikan tinggi,
berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak
terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak
mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu.
Kurikulum pendidikan tingkat ini
dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu agama dan jurusan ilmu
pengetahuan.
Al-Khuwarazmi (Yusuf al-kutub, tahun 976) meringkas
kurikulum agama sebagai berikut: Ilmu Fiqih, ilmu nahwu, ilmu kalam, ilmu
kitabah (sekretaris), ilmu arudh, dan lain-lain.
2) Kurikulum setelah berdirinya madrasah.
Pada zaman keemasan islam, aktivitas-aktivitas
kebudayaan pendidikan islam tidak mengizinkan teologi dan dugma membatasi ilmu
pengetahuan mereka, mereka meyelidiki setip cabang ilmu pengetahuan manusia,
baik psikologi, sejarah, historiografi, hukum, sosiologi, kesustraan, etika,
filsafat, teologi, kedokteran, matematika, logika, seni, arsitektur.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan tingkat
kebutuhan, mendirikan madrasah dianggap krusial. Pendirian lembaga pendidikan
tinggi islam ini terjadi di bawah patronase wazir Nizam Al-Mulk (1064 M).
Biasanya sebuah madrasah dibangun untuk seorang ahli fiqih yang termasyhur dalam
suatu mazhab yang empat. Umpamanya Nuruddin Mahmud bin Zanki telah mendirikan
di Damaskus dan Halab beberapa madrasah untuk mazhab Hanafi dan Syafi’i dan
telah dibangun juga sebuah madrasah untuk mazhab ini di kota Mesir.
Berdirinya madrasah, pada satu sisi, merupakan
sumbangan islam bagi peradaban sesudahnya, tapi pada sisi lain membawa dampak
yang buruk bagi dunia pendidikan setelah hegomoni negara terlalu kuat terhadap
madrasah ini. Akibatnya kurikulum madrasah ini dibatasi hanya pada wilayah
hukum (fiqih) dan teologi. ”pemakruhan” penggunaan nalar setelah runtuhnya
Mu’tazilah, ilmu-ilmu profan yang sangat dicurigai dihapus dari kurikulum
madrasah, mereka yang punya minat besar terhadap ilmu-ilmu ini terpaksa belajar
sendiri-sendiri. Karenanya ilmu-ilmu profan banyak berkembang di lembaga
nonformal.[3]
C.
Institusionalisasi Pendidikan Islam
pada Zaman Abbasiyah .
a)
Lembaga-lembaga pendidikan
sebelum madrasah
1. Suffah
Pada masa Rasulullah SAW, suffah
adalah suatu tempat yang dipakai untuk aktivitas pendidikan biasanya tempat ini
menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin
disini para siswa diajari membaca dan menghafal al-qur’an secara benar dan
hukum islam dibawah bimbingan langsung dari Nabi, dalam perkembangan
berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar menghitung,
kedokteran, astronomi, geneologi dan ilmu filsafat.
2. Kuttab atau maktab.
Kuttab atau maktab berasal dari
kata dasar yang sama, yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan kuttab atau
maktab berarti tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan kegiatan
tulis menulis.
Philip K. Hitti mengatakan bahwa
kurikulum pendidikan dikuttab ini berorientasi kepada al-qur’an sebagai suatu
tex book, hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi,
gramatikal bahasa arab. Sejarah Nabi hadits, khususnya yang berkaitan dengan
Nabi SAW. Bahkan dalam perkembangan kuttab dibedakan menjadi dua, yaitu kuttab
yang mengajarkan pengetahuan non agama (secular learning) dan kuttab yang
mengajarkan ilmu agama (religius learning).
Dengan adanya perubahan kurikulum
tersebut dapat dikatakan bahwa kuttab pada awal perkembangan merupakan lembaga
pendidikan yang tertutup dan setelah adanya persentuhan dengan peradaban
helenisme menjadi lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan umum,
termasuk filsafat.
3. Halaqah.
Halaqah artinya lingkaran.
Artinya proses belajar mengajar disini dilaksanakan dimana murid dan meringkari
gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan
karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan
di halaqah ini tidak khusus untuk megajarkan atau mendiskusikan ilmu agama,
tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.
4. Majlis.
Istilah majlis telah dipakai
dalam pendidikan sejak abad pertama islam, mulanya ia merujuk pada arti
tempat-tempat pelaksanakan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya
disaat dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi
dimana aktivitas pengajaran atau berlangsung.
Seiring dengan perkembangan
pengetahuan dalam islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu
pengetahuan sebagai majlis banyak ragamnya, menurut Muniruddin Ahmad ada 7
(tujuh) macam majlis, sebagai berikut:
a. Majlis al-hadits
b. Majlis al-tadris
c. Majlis al-manazharah
d. Majlis muzakarah
e. Majlis al-syu’ara
f. Majlis al-adab
g. Majlis al-fatwa dan al-nazar
5. Masjid
Semenjak berdirinya di zaman Nabi
SAW, masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum
muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang
lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan.
Perkembangan masjid sangat
signifikan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, terlebih lagi pada
saat masyarakat islam mengalami kemajuan. Urgensi masyarakat terhadap masjid
menjadi semakin kompleks, hal ini menyebabkan karakteristik masjid berkembang
menjadi dua bentuk yaitu mesjid sebagai tempat sholat jum’at atau jami dan
masjis biasa.
Kurikulum pendidikan dimasjid
biasanya merupakan tumpuan pemerintah untuk memperoleh pejabat-penjabat
pemerintah, seperti, qodhi, khotib dan iman masjid.
6. Khan.
Khan biasanya difungsikan sebagai
penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang
memiliki banyak toko, seperti, khan al narsi yang berlokasi di alun-alun karkh
di bagdad.
7. Ribarth.
Ribath adalah tempat kegiatan
kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan
mengkonsentrasikan diri untuk semata-mata ibadah.
8. Rumah – Ulama.
Rumah sebenarnya bukan temapat
yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, namun para ulama dizaman klasik
banyak yang mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar
mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.
9. Toko-toko buku dan perpustakaan.
Toko-toko buku memiliki peranan
penting dalam kegiatan keilmuan islam, pada awalnya memang hanya manjual
buku-buku, tetapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat,
bahkan pertemuan rutin sering dirancang dan dilaksanakan disitu.
Disamping toko buku, perpustakan juga memilki peranan penting dalam
kegiatan transfer keilmuan islam.
10. Rumah sakit.
Rumah sakit pada zaman klasik
bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit,
tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhungan dengan perawatan dan
pengobatan. Pada masa itu, percabaan dalam bidang kedokteran dan obat-oibatan
dilaksanakan sehingga ilmu kedoteran dan obat-obatan cukup pesat.
Rumah sakit juga merupan tempat
praktikum sekolah kedoteran yang didirikan diluar rumah sakit, rumah sakit juga
berfungsi sebagai lembaga pendidikan .
11. Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui)
Badiah merupakan sumber bahasa
arab yang asli dan murni, dan mereka tetap mempertahankan keaslian dan
kemurnian bahasa arab. Oleh karena itu badiah-badiah menjadi pusat untuk
pelajaran bahasa arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak khulifah,
ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan pergi kebadiah-badiah dalam rangka
mempelajari bahasa dan kesusastraan arab. Dengan begitu badiah-badiah telah
berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
b)
Madrasah
1. Sejarah dan motivasi pendirian madrasah
Beberapa paradigma dapat
digunakan dalam memandang sejarah dan motivasi pendirian madrasah. Paling tidak
ada 3 teori tentang timbulnya madrasah:
- Madrasah selalu dikaitkan dengan nama nidzam al-mulk (W. 485 H/1092 M), salah seorang wajir dinasti saljuk sejak 456 H/1068 M sampai dengan wafatnya, dengan usahanya membangun madrasah nizhamiyah diberbagai kota utama daerah kekuasaan saljuk begituh dominannya peran nidzam al-mulk adalah orang pertama yang membangun madrasah.
- Menurut al-makrizi, ia berasumsi bahwa madrasah pertama adalah madrasah nizhamiyah yang didirikan tahun 457 H.
- Madrasah sudah eksis semenjak awal islam seperti bait al-hikmah yang didirikan Al-Makmun di Bagdad abad ke-3 H.
Dari informasi diterima diatas
dapat diketahui bahwa madrasah yang pertama di Nisyapur. Namun demikian,
madrasah itu kurang dikenal mengingat motivasi pendirian madrasah itu sendiri
pada waktu itu masih bersifat ahliyah (keluarga) berdasarkan wakaf keluarga dan
sejarah baru mencatat sesuatu bila telah menjadi fenomena yang meluas.
Lahirnya lembaga pendidikan
formal dalam bentuk madrasah merupakan pengembangan dari sistem pengajaran dan
pendidikan yang pada awalnya berlangsung di mesjid-mesjid.
Disisi lain, syalabi mengemukakan
bahwa perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung,
menurutnya madrasah sebagai konsekuensi logis dari semakin ramainya pengajian
di masjid yang fungsi utamanya adalah ibadah. Agar tidak kegiatan ibadah,
dibuatlah tempat khusus untuk belajar yang dikenal madrasah.
Dengan berdirinya madrasah, maka
pendidikan islam mesasuki periode baru. Yaitu pendidikan menjadi fungsi bagi
negara dan madrasah-madrasah dilembagakan untuk tujuan pendidikan sektarian dan
indoktrinasi politik.
Meskipun madrasah sebagai lembaga
pendidikan dan pengajaran didunia islam baru timbul sekitara abad ke-14 H, ini
bukan berarti bahwa sejak awal perkembangannya islam tidak mempunyai lembaga
pendidikan dan pengajaran. Pada awal telah berdiri madrasah yang menjadi cikal
bakal munculnya madrasah nizamiyah, madrasah tyersebut berada diwilayah Persia,
tepatnya di daerah Nisyapur, misalnya madrasah al-baihaqiyah, madrasah
sa’idiyah dan madrasah yang terdapat di Khusan.
2. Madrasah Nizhamiyah.
Madrasah nizhamiyah merupakan
pertotipe awal bagi lembaga pendidikan tinggi, ia juga dianggap sebagai tonggak
baru dalam penyelenggaraan pendidikan islam, dan merupakan karakteristik
tradisi pendidikan islam sebagai suatu lembaga pendidikan resmi dengan sistem
asrama. Pemerintah atau penguasa ikut terlibat didalam menentukan tujuan,
kurikulum, tenaga pengajar, pendanaan, sarana fisik dan lain-lain.
Kendati madrasah nizhamiyah mampu
melestarikan tradisi keilmuan dan menyebarkan ajaran islam dalam persi
tertentu. Tetapi keterkaitan dengan standarisasi dan pelestarian ajaran kurang
mampu menunjang pengembangan ilmu dan penelitian yang inofatif.
3. Madrasah di Mekah dan Madinah.
Informasi tentang madrasah
mendapat dukungan banyak dari berbagai leteratur. Namun sayang para sejarawan
tidak cukup tertarik berbicara madrasan di Mekah dan Madinah. Hal ini
mengakibatkan pelacakan informasi tentang permasalahan tersebut kurang lengkap.
Lebih lanjut secara kuantitatif
madrasah di Mekah lebih banyak dibandingkan di Madinah. Diantara madrasah Abu
Hanifah, Maliki, madrasah ursufiyah, madrasah muzhafariah, sedangkan madrasah
megah yang dijumpai di Mekah adalah madrasah qoi’it bey, didirikan oleh Sultan
Mamluk di Mesir.[4]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah merupakan
dinasti islam yang sempat membawa kejayaan umat islam pada masanya. Zaman keemasan islam dicapai
pada masa dinasti-dinasti ini berkuasa. Pada masa ini pula umat islam banyak melakukan
kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya pada masa ini banyak para
ilmuan dan cendikiawan bermunculan sehinnnngga membuat ilmu pengetahuan menjadi
maju pesat.
Ø Lembaga-lembaga pendidikan
·
Suffah
·
Kuttab atau maktab.
·
Halaqah.
·
Majlis.
·
Masjid
·
Khan.
·
Ribarth.
·
Rumah – Ulama.
·
Toko-toko buku dan perpustakaan.
·
Rumah sakit.
·
Badiah (padang pasir, dusun
tempat tinggal badui)
Ø Kebijakan Pendidikan
·
Guru
·
Kurikulum pendidikan islam
-
Kurikulumpendidikan islam sebelum
berdirinya madrasah.
-
Kurikulum pendidikan tinggi.
Kurikulum pendidikan tinggi,
berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak
terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak
mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu.
-
Kurikulum pendidikan tinggi.
Kurikulum pendidikan tinggi,
berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak
terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak
mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu.
-
Kurikulum setelah berdirinya
madrasah.
Pada zaman keemasan islam,
aktivitas-aktivitas kebudayaan pendidikan islam tidak mengizinkan teologi dan
dugma membatasi ilmu pengetahuan mereka, mereka meyelidiki setip cabang ilmu
pengetahuan manusia, baik psikologi, sejarah, historiografi, hukum, sosiologi,
kesustraan, etika, filsafat, teologi, kedokteran, matematika, logika, seni,
arsitektur.
DAFTAR PUSTAKA
As’ad
Mahrus, Sejarah Kebudayaan Islam, Bandung: CV Amirco, 1994
Nata Abuddin, Sejarah Pendidikan
Islam, Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004
Tafsir Ahmad, Ilmu
Pendidikan dalam Persepektif islam,
Bandung: Remaja Rosdakarya 2000
Yatim Badri,
Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002

Tidak ada komentar:
Posting Komentar