Jumat, 22 Januari 2016

Makalah perkembangan dan kemajuan pendidikan islam pada zaman abbasiyah



PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN PENDIDIKAN ISLAM PADA ZAMAN ABBASIYAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Uas (Ujian Akhir Semester)
“SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”

                                                                                               





Oleh :
                                Siti Yulaekah       (D32210058)

Dosen Pembimbing:
Dr. Ibnu Anshori, SH. MA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2013

























KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun penjatkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat, taufiq dan hidayah-Nya maka penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Perkembangan Dan Kemajuan Pendidikan Islam Pada Zaman Abbasiyah”. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Dalam penyusunan makalah ini penyusun merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun, untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu terutama kepada dosen pembimbing mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam dalam menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang baik pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amin.

Surabaya, 26 Juni 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ ....................i
DAFTAR ISI............................................................................................... ....................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... ....................1
A.    Latar Belakang Penulisan................................................................. ....................1
B.    Rumusan Masalah............................................................................ ....................1
C.    Tujuan Masalah................................................................................ ....................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................2
A.    Bagaimana Kostruksi Sosial Pendidikan Islam di  Zaman Abbasiyah.................2
B.    Bagaimana Kebijakan Pendidikan Islam di Zaman Abbasiyah............................3
C.    Bagaimana Instutionalisasi Pendidikan Islam di Zaman Abbasiyah...................5
BAB III SIMPULAN................................................................................. ..................12
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. ..................14

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejak lahirnya agama islam, lahirlah pendidikan dan pengajaran islam, pendidikan dan pengajaran islam itu terus tumbuh dan berkembang pada masa khulafaurasyidin dan masa bani Umayyah.
Pada permulaan masa Abbasiyah pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat hebatnya di seluruh negara islam. Sehingga lahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya, tersebar di kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda berlomba-lomba untuk menuntut ilmu pengetahuan, pergi kepusat-pusat pendidikan, meninggalkan kampung halamannya karena cinta akan ilmu pengetahuan.
Kerajaan islam di Timur yang berpusat di Bagdad dan Cordova telah menunjukkan dalam segala cabang ilmu pengetahuan sehingga kalau kita buka lembaran sejarah dunia pada masa keemasan, yang bermula dengan berdirinya kerajaan Abbasiyah di Bagdad, pada tahun 750 M dan berakhir dengan kerajaan Abbasiyah pada tahun 1258 Masehi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konstruksi sosial pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah ?
2.      Bagaimana kebijakan pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah ?
3.      Bagaimama institusionalisasi pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah ?

C.    Tujuan Masalah
1.      Mengetahui  konstruksi sosial pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah
2.      Mengetahui kebijakan pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah
3.      Mengetahui institusionalisasi pendidikan Islam pada zaman Abbasiyah




















BAB II
PEMBAHASAN
A.      Konstruksi Sosial Pendidikan Islam pada Zaman Abbasiyah
Kekuasaan dinasti bani abbas, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw, dinasti didirikan oleh Abdullah Alsaffah Ibnu Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al- Abbas.[1]
Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti islam yang sempat membawa kejayaan umat islam pada masanya. Zaman keemasan islam dicapai pada masa dinasti-dinasti ini berkuasa. Pada masa ini pula umat islam banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya pada masa ini banyak para ilmuan dan cendikiawan bermunculan sehinnnngga membuat ilmu pengetahuan menjadi maju pesat.
Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mum (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al- Ma’mun pengganti Al- Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut golongan lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait Al- Hikmah, pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar dan menjadi perpustakaan umum dan diberi nama ”Darul Ilmi” yang berisi buku-buku yang tidak terdapat di perpustakaan lainnya. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, kekota inilah para pencari datang berduyun-duyun, dan pada masa ini pula kota Bagdad dapat memancarkan sinar kebudayaan dan peradaban islam keberbagai penjuru dunia[2].
B.       Kebijakan Pendidikan Islam pada Zaman Abbasiyah
1)      Kehidupan Guru
Tinggi rendahnya penghormatan terhadap guru pada awal abad-abad pendidikan muslim tergantung atas dua faktor, yaitu:
a)      Tempat dimana dia mengajar, di Persia: penghormatan kepada guru merupakan suatu tradisi lama dalam pendidikan zoroastrian, tradisi ini dilanjutkan kedalam periode islam.
b)      Tingkatan dimana ia belajar. Biasanya, penghormatan kepada guru semakin tinggi terhadap guru sekolah menengah dan pendidikan tinggi. Guru-guru sekolah dasar kurang dihargai karena pengetahuannya yang amat sederhana dan karena tingkat pendidikan tampaknya sudah menjadi daya tarik.
2)      Tipe-tipe guru.
Ada enam tipe guru yaitu muallim, mu’addib, mudarris, syaikh, ustad, imam, belum lagi termasukguru pribadi dan para muaiyyid atau asisten (guru-guru yunior). Muallim biasanya julukan bagi guru sekolah dasar, mu’addib, arti harfiyahnya orang yang beradab atau guru adab, adalah julukan untuk guru-guru sekolah dasar dan menengah, mudarris adalah satu julukan propesional untuk seorang murid atau pembantu. Ia sama dengan asisten profesor dan membantu mahasiswa menjelaskan hal-hal yang sulit mengenai kuliah yang diberikan profesornya, syaikh atau guru besar adalah julukan khusus yang menggambarkan keunggulan akademis atau teologis, imam adalah guru agama tertinggi.
3)      Pakaian guru
Selama pemerintahan abbasiyah para guru mengikuti gaya Persia, mengenakan tutup kepala Persia, celana lebar, rok, rompi, dan jaket. Semuanya ditutup dengan jubah atau aba mantel luar dan taylasan diatas surban.



4)      Organisasi guru
Keberadaan guru mempunyai pengaruh yang penting dalam suatu pemerintahan, bahkan kekuasaannya mempunyai andil yang besar dalam kekuasaan kholifah, karena guru terhimpun dalam suatu organisasi yang mempunyai fower yang dapat mengendalikan kepentingan kholifah, khususnya dalam hal pengangkatan dan pemberian izin untuk menjadi pengajar di masjid.
5)      Kurikulum pendidikan islam
1)      Kurikulumpendidikan islam sebelum berdirinya madrasah.
a.       Kurikulum pendidikan rendah
Sebelum berdirinya madrasah, tidak ada tingkatan dalam pendidikan islam, tetapi hanya satu tingkat yang bermula dikuttab dan berakhir didiskusi halaqah. Tidak ada kurikulum khusus yang diikuti oleh seluruh umat islam, dilembaga kuttab biasanya diajarkan membaca dan menulis disamping al-qur’an, kadang diajarkan bahasa nahwu dan arudh.
Sedangkan kurikulum yang ditawarkan oleh Ibnu Sina untuk tingkat ini adalah mengajari al-qur’an, karena anak-anak dari segi fisik dan mental telah siap menerima pendiktean. Namun demikian, ada perbedaan antara kuttab-kuttab yang diperuntukanbagi masyarakat umum yang ada diistana. Di istana orang tua (para pembesar istana) adalah yang membuat rencana pelajaran tersebut sesuai dengan anaknya dan tujuan yang dikehendaki. Rencana pelajaran untuk pendidikan istana ialah pidato, sejarah, peperangan-peperangan, cara bergaul dengan masyarakat disamping pengetahuan pokok, seperti al-qur’an, syair dan bahasa.
Kurikulum pada tingkat ini bervariasi tergantung pada tingkat kebutuhan masyarakat, karena sebuah kurikulum dibuat tidak akan pernah lepas dari faktor sosiologis, politis, ekonomis masyarakat yang melingkupinya.
b.      Kurikulum pendidikan tinggi.
Kurikulum pendidikan tinggi, berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu.
Kurikulum pendidikan tingkat ini dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu agama dan jurusan ilmu pengetahuan.
Al-Khuwarazmi (Yusuf al-kutub, tahun 976) meringkas kurikulum agama sebagai berikut: Ilmu Fiqih, ilmu nahwu, ilmu kalam, ilmu kitabah (sekretaris), ilmu arudh, dan lain-lain.
2)      Kurikulum setelah berdirinya madrasah.
Pada zaman keemasan islam, aktivitas-aktivitas kebudayaan pendidikan islam tidak mengizinkan teologi dan dugma membatasi ilmu pengetahuan mereka, mereka meyelidiki setip cabang ilmu pengetahuan manusia, baik psikologi, sejarah, historiografi, hukum, sosiologi, kesustraan, etika, filsafat, teologi, kedokteran, matematika, logika, seni, arsitektur.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan tingkat kebutuhan, mendirikan madrasah dianggap krusial. Pendirian lembaga pendidikan tinggi islam ini terjadi di bawah patronase wazir Nizam Al-Mulk (1064 M). Biasanya sebuah madrasah dibangun untuk seorang ahli fiqih yang termasyhur dalam suatu mazhab yang empat. Umpamanya Nuruddin Mahmud bin Zanki telah mendirikan di Damaskus dan Halab beberapa madrasah untuk mazhab Hanafi dan Syafi’i dan telah dibangun juga sebuah madrasah untuk mazhab ini di kota Mesir.
Berdirinya madrasah, pada satu sisi, merupakan sumbangan islam bagi peradaban sesudahnya, tapi pada sisi lain membawa dampak yang buruk bagi dunia pendidikan setelah hegomoni negara terlalu kuat terhadap madrasah ini. Akibatnya kurikulum madrasah ini dibatasi hanya pada wilayah hukum (fiqih) dan teologi. ”pemakruhan” penggunaan nalar setelah runtuhnya Mu’tazilah, ilmu-ilmu profan yang sangat dicurigai dihapus dari kurikulum madrasah, mereka yang punya minat besar terhadap ilmu-ilmu ini terpaksa belajar sendiri-sendiri. Karenanya ilmu-ilmu profan banyak berkembang di lembaga nonformal.[3]

C.      Institusionalisasi Pendidikan Islam pada Zaman Abbasiyah .
a)        Lembaga-lembaga pendidikan sebelum madrasah
Adapun lembaga-lembaga pendidikan islam yang sebelum kebangkitan madrasah pada masa klasik, adalah:
1.      Suffah
Pada masa Rasulullah SAW, suffah adalah suatu tempat yang dipakai untuk aktivitas pendidikan biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin disini para siswa diajari membaca dan menghafal al-qur’an secara benar dan hukum islam dibawah bimbingan langsung dari Nabi, dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar menghitung, kedokteran, astronomi, geneologi dan ilmu filsafat.
2.      Kuttab atau maktab.
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar yang sama, yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan kuttab atau maktab berarti tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan kegiatan tulis menulis.
Philip K. Hitti mengatakan bahwa kurikulum pendidikan dikuttab ini berorientasi kepada al-qur’an sebagai suatu tex book, hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa arab. Sejarah Nabi hadits, khususnya yang berkaitan dengan Nabi SAW. Bahkan dalam perkembangan kuttab dibedakan menjadi dua, yaitu kuttab yang mengajarkan pengetahuan non agama (secular learning) dan kuttab yang mengajarkan ilmu agama (religius learning).
Dengan adanya perubahan kurikulum tersebut dapat dikatakan bahwa kuttab pada awal perkembangan merupakan lembaga pendidikan yang tertutup dan setelah adanya persentuhan dengan peradaban helenisme menjadi lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan umum, termasuk filsafat.
3.      Halaqah.
Halaqah artinya lingkaran. Artinya proses belajar mengajar disini dilaksanakan dimana murid dan meringkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan di halaqah ini tidak khusus untuk megajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.
4.      Majlis.
Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama islam, mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat pelaksanakan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya disaat dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi dimana aktivitas pengajaran atau berlangsung.
Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan sebagai majlis banyak ragamnya, menurut Muniruddin Ahmad ada 7 (tujuh) macam majlis, sebagai berikut:
a. Majlis al-hadits
b. Majlis al-tadris
c. Majlis al-manazharah
d. Majlis muzakarah
e. Majlis al-syu’ara
f. Majlis al-adab
g. Majlis al-fatwa dan al-nazar
5.      Masjid
Semenjak berdirinya di zaman Nabi SAW, masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan.
Perkembangan masjid sangat signifikan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, terlebih lagi pada saat masyarakat islam mengalami kemajuan. Urgensi masyarakat terhadap masjid menjadi semakin kompleks, hal ini menyebabkan karakteristik masjid berkembang menjadi dua bentuk yaitu mesjid sebagai tempat sholat jum’at atau jami dan masjis biasa.
Kurikulum pendidikan dimasjid biasanya merupakan tumpuan pemerintah untuk memperoleh pejabat-penjabat pemerintah, seperti, qodhi, khotib dan iman masjid.
6.      Khan.
Khan biasanya difungsikan sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki banyak toko, seperti, khan al narsi yang berlokasi di alun-alun karkh di bagdad.
7.      Ribarth.
Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengkonsentrasikan diri untuk semata-mata ibadah.
8.       Rumah – Ulama.
Rumah sebenarnya bukan temapat yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, namun para ulama dizaman klasik banyak yang mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.
9.      Toko-toko buku dan perpustakaan.
Toko-toko buku memiliki peranan penting dalam kegiatan keilmuan islam, pada awalnya memang hanya manjual buku-buku, tetapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin sering dirancang dan dilaksanakan disitu.
Disamping toko buku, perpustakan juga memilki peranan penting dalam kegiatan transfer keilmuan islam.
10.  Rumah sakit.
Rumah sakit pada zaman klasik bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhungan dengan perawatan dan pengobatan. Pada masa itu, percabaan dalam bidang kedokteran dan obat-oibatan dilaksanakan sehingga ilmu kedoteran dan obat-obatan cukup pesat.
Rumah sakit juga merupan tempat praktikum sekolah kedoteran yang didirikan diluar rumah sakit, rumah sakit juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan .
11.  Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui)
Badiah merupakan sumber bahasa arab yang asli dan murni, dan mereka tetap mempertahankan keaslian dan kemurnian bahasa arab. Oleh karena itu badiah-badiah menjadi pusat untuk pelajaran bahasa arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak khulifah, ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan pergi kebadiah-badiah dalam rangka mempelajari bahasa dan kesusastraan arab. Dengan begitu badiah-badiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
b)        Madrasah
1.       Sejarah dan motivasi pendirian madrasah
Beberapa paradigma dapat digunakan dalam memandang sejarah dan motivasi pendirian madrasah. Paling tidak ada 3 teori tentang timbulnya madrasah:
    1. Madrasah selalu dikaitkan dengan nama nidzam al-mulk (W. 485 H/1092 M), salah seorang wajir dinasti saljuk sejak 456 H/1068 M sampai dengan wafatnya, dengan usahanya membangun madrasah nizhamiyah diberbagai kota utama daerah kekuasaan saljuk begituh dominannya peran nidzam al-mulk adalah orang pertama yang membangun madrasah.
    2. Menurut al-makrizi, ia berasumsi bahwa madrasah pertama adalah madrasah nizhamiyah yang didirikan tahun 457 H.
    3. Madrasah sudah eksis semenjak awal islam seperti bait al-hikmah yang didirikan Al-Makmun di Bagdad abad ke-3 H.
Dari informasi diterima diatas dapat diketahui bahwa madrasah yang pertama di Nisyapur. Namun demikian, madrasah itu kurang dikenal mengingat motivasi pendirian madrasah itu sendiri pada waktu itu masih bersifat ahliyah (keluarga) berdasarkan wakaf keluarga dan sejarah baru mencatat sesuatu bila telah menjadi fenomena yang meluas.
Lahirnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk madrasah merupakan pengembangan dari sistem pengajaran dan pendidikan yang pada awalnya berlangsung di mesjid-mesjid.
Disisi lain, syalabi mengemukakan bahwa perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung, menurutnya madrasah sebagai konsekuensi logis dari semakin ramainya pengajian di masjid yang fungsi utamanya adalah ibadah. Agar tidak kegiatan ibadah, dibuatlah tempat khusus untuk belajar yang dikenal madrasah.
Dengan berdirinya madrasah, maka pendidikan islam mesasuki periode baru. Yaitu pendidikan menjadi fungsi bagi negara dan madrasah-madrasah dilembagakan untuk tujuan pendidikan sektarian dan indoktrinasi politik.
Meskipun madrasah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran didunia islam baru timbul sekitara abad ke-14 H, ini bukan berarti bahwa sejak awal perkembangannya islam tidak mempunyai lembaga pendidikan dan pengajaran. Pada awal telah berdiri madrasah yang menjadi cikal bakal munculnya madrasah nizamiyah, madrasah tyersebut berada diwilayah Persia, tepatnya di daerah Nisyapur, misalnya madrasah al-baihaqiyah, madrasah sa’idiyah dan madrasah yang terdapat di Khusan.
2.      Madrasah Nizhamiyah.
Madrasah nizhamiyah merupakan pertotipe awal bagi lembaga pendidikan tinggi, ia juga dianggap sebagai tonggak baru dalam penyelenggaraan pendidikan islam, dan merupakan karakteristik tradisi pendidikan islam sebagai suatu lembaga pendidikan resmi dengan sistem asrama. Pemerintah atau penguasa ikut terlibat didalam menentukan tujuan, kurikulum, tenaga pengajar, pendanaan, sarana fisik dan lain-lain.
Kendati madrasah nizhamiyah mampu melestarikan tradisi keilmuan dan menyebarkan ajaran islam dalam persi tertentu. Tetapi keterkaitan dengan standarisasi dan pelestarian ajaran kurang mampu menunjang pengembangan ilmu dan penelitian yang inofatif.
3.      Madrasah di Mekah dan Madinah.
Informasi tentang madrasah mendapat dukungan banyak dari berbagai leteratur. Namun sayang para sejarawan tidak cukup tertarik berbicara madrasan di Mekah dan Madinah. Hal ini mengakibatkan pelacakan informasi tentang permasalahan tersebut kurang lengkap.
Lebih lanjut secara kuantitatif madrasah di Mekah lebih banyak dibandingkan di Madinah. Diantara madrasah Abu Hanifah, Maliki, madrasah ursufiyah, madrasah muzhafariah, sedangkan madrasah megah yang dijumpai di Mekah adalah madrasah qoi’it bey, didirikan oleh Sultan Mamluk di Mesir.[4]















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti islam yang sempat membawa kejayaan umat islam pada masanya. Zaman keemasan islam dicapai pada masa dinasti-dinasti ini berkuasa. Pada masa ini pula umat islam banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya pada masa ini banyak para ilmuan dan cendikiawan bermunculan sehinnnngga membuat ilmu pengetahuan menjadi maju pesat.
Ø  Lembaga-lembaga pendidikan
·         Suffah
·         Kuttab atau maktab.
·         Halaqah.
·         Majlis.
·         Masjid
·         Khan.
·         Ribarth.
·         Rumah – Ulama.
·         Toko-toko buku dan perpustakaan.
·         Rumah sakit.
·         Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui)
Ø  Kebijakan Pendidikan
·         Guru
·         Kurikulum pendidikan islam
-          Kurikulumpendidikan islam sebelum berdirinya madrasah.
-          Kurikulum pendidikan tinggi.
Kurikulum pendidikan tinggi, berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu.
-          Kurikulum pendidikan tinggi.
Kurikulum pendidikan tinggi, berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu.
-          Kurikulum setelah berdirinya madrasah.
Pada zaman keemasan islam, aktivitas-aktivitas kebudayaan pendidikan islam tidak mengizinkan teologi dan dugma membatasi ilmu pengetahuan mereka, mereka meyelidiki setip cabang ilmu pengetahuan manusia, baik psikologi, sejarah, historiografi, hukum, sosiologi, kesustraan, etika, filsafat, teologi, kedokteran, matematika, logika, seni, arsitektur.
























DAFTAR PUSTAKA

As’ad Mahrus, Sejarah Kebudayaan Islam, Bandung: CV Amirco, 1994

Nata Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004
Tafsir Ahmad,  Ilmu Pendidikan dalam Persepektif islam, Bandung: Remaja Rosdakarya 2000

Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002



[1] Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002),  hal 49
[2]  As’ad Mahrus, Sejarah Kebudayaan Islam, (Bandung: CV Amirco, 1994), hal 25-26

[3] Tafsir Ahmad,  Ilmu Pendidikan dalam Persepektif islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya 2000), hal 60.

[4]  Nata Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004), hal 32-42.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ILMU NAHWU (PELAJARAN 2) PELAJARAN 2 MENGENAL 5 MACAM ISIM             Ada 5 MACAM ISIM yang HARUS kita ketahui dan fahami de...