Abstrak
Agriculture is the activity that is synonyms with
rural communities. So also in the village Krangkong Kepohbaru Bojonegoro, this
activity is done on a daily basis. However, concern and indecisive. This
environmentally-friendly agriculture is notactually occur dozens or even
desades ago. The use of pesticides and chemical fertilizers are too frequent
and sometimes execessive. Agriculture always involves two main elements, namely
land and human labor. The longer the role of both the elements of the greater,
so that the possessionof land and human slavery into the feudal core gripping
power of human freedom. Shackles lack of balance between the two main elements
of this farm is very slow Krangkong realized by farmers. The solution given by
Gramci is that communites have a critical consciousness. Where one first made
aware of the purpose of this hegemony. Once a person unconscious, he will not
feel dihegemoni again but by consciously doing it voluntarily. So there are two
types of hegemony, the one through domination or oppression and the other
through the moral consciousness. Hegemony with dominance or suppression of an
orthodox Marxist concept of hegemony, usually negative shades. Meanwhile
hegemony by Gramci, hegemony is the intellectual and moral leadership, nuanced
usually positive. Because these chains must be overcome and need for a new
adaptation to achieve better result. Therefore, the attempt to realize an
environmentally friendly land should be done as quickly as possible. So we need
a broad knowledge realeted to sustainable agriculture. Especially for farmers.
Keywords : Shackles,
agriculture, non-organic
A.
Pendahuluan
Secara teori, memang jika segala macam
bentuk tanaman yang dikelolah dengan proporsional maka akan memberikan hasil
yang memuaskan. Namun, sepertinya tidak untuk para petani Desa Krangkong.
Aktifitas pertanian setiap hari
dilakukan. Namun, yang menjadi perhatian adalah kondisi keseimbangan kesuburan
tanah yang membuat hati para petani gundah dan bimbang. Pertanian tidak ramah
lingkungan ini sebenarnya sudah terjadi belasan bahkan puluhan tahun lalu.
Pemakaian pestisida dan pupuk kimia yang terlalu sering dan kadang berlebihan.
Pertanian selalu melibatkan dua unsure utama, yaitu tanah dan tenaga kerja
manusia. Makin lama peran kedua unsure tersebut makin besar, sehingga
penguasaaan tanah dan perbudakan manusia menjadi inti kekuasaan feodalisme yang
mencengkeram kebebasan manusia.
Pada awalnya petani setempat hanya
pasrah terhadap kondisi yang mereka alami. Setelah mendapat berbagai informasi
tentang pertanian, petani kembali percaya diri untuk mengelolah lahan mereka
kembali. Meskipun informasi yang di dapat sebenarnya membahayakan lahan mereka.
Sehingga kebimbangan mereka berujung pada pestisida yang berasal dari oli motor
dan detergent. Hal ini menunjukkan ketidak pedulian lembaga pertanian Krangkong.
Hal ini kalau dilihat dari kaca mata
Gramsci sebagai kebiasaan petani tergantung pada pasar yang membelenggu dan
kondisi pasar yang menghegemoni. Menurut Gramsci bahwa bentuk hegemoni yang
demikian, merupakan bentuk kepemimpinan kultural yang dilaksakanakan oleh oleh
kelas penguasa dan pemilik modal.[1]
B. Konsep Hegemoni Antonio
Gramsci
Hegemoni,
bagi Gramsci, akan menjelaskan mengapa suatu kelompok atau kelas secara
sukarela atau dengan konsensus mau menundukkan diri pada kelompok atau kelas
yang lain Teori hegemoni Gramci adalah salah sebuah teori politik paling
penting abad XX. Teori ini dibangun diatas premis pentingnya ide dan tidak
mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Di mata
Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus
merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih
dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah
yang dimaksud Gramsci dengan "hegemoni" atau menguasi dengan
"kepemimpinan moral dan intelektual" secara konsensual[2]
Ada
dua hal mendasar menurut Gramsci menjadi biang keladinya, yaitu pendidikan di
satu pihak dan mekanisme kelembagaan di lain pihak. Untuk itu Gramsci
mengatakan bahwa pendidikan yang ada tidak pernah menyediakan kemungkinan
membangkitkan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan sistematis bagi kaum
buruh. Di lain pihak, mekanisme kelembagaan (sekolah, gereja, parpol, media
massa dan sebagainya) menjadi "tangan-tangan" kelompok yang berkuasa
untuk menentukan ideologi yang mendominir. Bahasa menjadi sarana penting untuk
melayani fungsi hegemonis. Konflik sosial yang ada dibatasi baik intensitas
maupun ruang lingkupnya, karena ideologi yang ada membentuk
keinginan-keinginan, nilai-nilai dan harapan menurut sistem yang telah
ditentukan.[3]
politik, gagasan hegemoni tersebut adalah pengalaman
Gramsci sendiri. Fokus perhatian Gramsci pada hal tersebut muncul dari situasi
politik ketika ia hidup dan menjadi pemimpin intelektual dari gerakan massa
proletar - di Turin - selama Perang Dunia Pertama dan masa sesudah itu. Italia,
menjelang perang usai merupakan sebuah pemandangan penting dari pertarungan
politik partai, baik Kiri maupun Kanan. Sebuah pertarungan yang dengan cepat
membuahkan kemenangan kepada fasisme pada 1922 dan melenyapkannya hak-hak
politik. Sebagai anggota kunci dari Partai Sosialis Italia dan kemudian Partai
Komunis Italia (PCI), Gramsci melihat kegagalan gerakan massa buruh
revolusioner dan bangkitnya fasisme reaksioner didukung oleh massa kelas
pekerja.[4]
C. Rusaknya Lahan
Pertanian Karena Pupuk dan Racun Kimia
Bentuk
permasalahan yang ada di Desa Krangkong
Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro sangatlah kompleks. Semua
bentuk permasalahan yang ada pada masyarakat Desa Krangkong, tersusun dari
berbagai unsur yang telah lama beku tanpa pernah dicairkan. Kebekuan berbagai
bentuk permasalahan tersebut terakumulasi sehingga memberikan akibat yang
sangat kronis kepada kehidupan masyarakat Desa Krangkong yang pada akhirnya
menimbulkan kemunduran pada setiap komponen kehidupan.
Bagan 1
Calender season
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
Bulan
|
|
Hujan
|
Laboh
|
Kemarau
|
Hujan
|
Musim
|
||||||||
|
Sedang
|
Rendah
|
Tinggi
|
Curah hujan
|
|||||||||
|
|
|
Padi
|
|
|
Tembakau
|
|
|
Padi
|
Tanam
|
|||
|
|
Padi
|
|
|
Padi
|
|
|
Tembakau
|
|
|
|
Panen
|
|
Musim penghujan mulai pada bulan Oktober sampai bulan
Maret, sedangkan bulan April-Mei merupakan musim laboh yaitu masa pergantian
musim dari musim hujan ke musim kemarau. Bulan juni sampai September adalah
musim kemarau. Pada bulan Oktober sampai bulan Desember curah hujan tinggi
karena merupakan musim pancaroba (pergantian dari musim kemarau ke musim
hujan). Pada masa ini masyarakat mulai menanam padi. Masa ini dianggap paling
tepat untuk menanam padi. Karena pada masa ini tingkat kelembaban tanah
dianggap mencukupi untuk tanaman padi. Pada bulan Januari hingga April curah
hujan mulai berkurang dari curah hujan tinggi menjadi sedang. Pada masa ini
petani mulai melakukan perawatan pada tanaman padi mereka. Mulai dari pemberian
obat, pupuk dan pengontrolan hama wereng,
belalang, ulat, burung dan rumput liar.
Sedangkan pada musim kemarau curah hujan sangat rendah. Pada musim
kemarau ini jika harga tembakau naik, maka petani berbondong-bondong untuk
menanam tembakau. Namun, jika harga tembakau turun, petani membiarkan lahan
mereka beroh[5].
Secara teori, memang jika segala macam bentuk
tanaman yang dikelolah dengan proporsional maka akan memberikan hasil yang
memuaskan. Namun, sepertinya tidak untuk para petani Desa Krangkong.
Selama ini tumpuhan hidup masyarakat Krangkong di
dapat dari pertanian, meskipun sebagian dari mereka adalah PNS atau pekerja
pabrik, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa bertani adalah komponen utama
dalam kehidupan masyarakat Krangkong. Dari hasil pertanian yang mereka kelola,
mereka bisa terbantu mencukupi kebutuhan sekunder dan primer mereka. Dengan
cara mengelolah lahan mereka, mereka mampu bertahan dari masa ke masa. Setiap
harinya mereka melakukan aktifitas pertanian dari jam 06.00 sampai jam 10.00
pagi, dengan berjalan kaki, karena letak sawah mereka berdampingan dengan rumah
masyarakat setempat. Dan menjadi pembatas masing-masing dusun yang ada di Desa
Krangkong.
Jika dilihat secara kasat mata lahan persawahan yang
ada di Desa Krangkong terlihat subur dan tidak mengalami kerusakan, tetapi
setelah di tes dari pihak dinas pertanian dan pihak BASF, lahan persawahan yang
mereka kelolah mengalami penurunan tingkat kesimbangan tanah atau biasa disebut
PH menjadi 3-4,5% dari tingkat keseimbangan kesuburan tanah (kelembaban). Sementara tingkat keasaman tanah menjadi
lebih tinggi[6].
Hal ini yang menyebabkan lahan mereka menjadi lahan produktif yang tidak ramah
lingkungan.
Sementara sebab dari menurunnya PH[7]
tanah adalah penggunaaan obat dan pupuk yang tidak proporsional. Bukan hanya
itu, obat dan pupuk yang mereka gunakan sering kali adalah pupuk non organik.
Usaha untuk mempertahankan lahan pertanian mereka sudah dilakukan dengan cara
sosialisasi pertanian dan penyuluhan obat dari pemerintah desa setempat, tetapi
sebagian besar hanya mengenai penyuluhan obat yang dilakukan oleh beberapa
perusahan obat pertanian. Dalam artian, penyuluhan obat pertanian juga sebagai
ajang promosi produk mereka. Bukan hanya itu perusahan obat yang didatangkan
utuk memberikan penyuluhan, adalah obat yang sebagian bahan dasarnya bersifat
kimiawi. Menurut penuturan salah satu masyarakat setempat, upaya untuk
menggunakan pupuk organik terus digalang oleh beberapa petani, tetapi hasilnya
masih rendah, kadang pada masa padi mapak
anak[8],
tanaman yang awalnya menggunakan pupuk organik justru mengalami kerusakan
tanpa di duga. Justru yang menggunakan obat dan pupuk subsidi hasilnya lebih
bagus. Sebenarnya ini yang menjadi pertanyaan para petani[9].
Masyarakat desa krangkong jika dilihat dari kondisi
ekonomi termasuk dalam tiga kategori, miskin, sedang dan kaya. kondisi ini bisa
dilihat dari pekerjaan dan kondisi rumah tangga mereka. Meskipun secara fisik
sebagian besar rumah masyarakat setempat terbuat dari kayu, ada juga yang masih
terbuat dari anyaman bambu. Kebanyakan dari mereka bekerja menjadi buruh
pabrik, PNS, merantau ke Kalimantan, Papua, bahkan ada yang menjadi TKI diluar
negeri seperti Korea dan Malaysia.
Seperti halnya Siswanto (37) salah seorang pekerja
Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Namun, luas lahan pertanian yang
dimiliki seluas dua bau[10].
Dari luas lahan dikelolah, Siswanto membutuhkan setidaknya sepuluh kwintal
pupuk untuk tanaman padi, dari tandur
sampai mapak anak. Jenis pupuk yang
digunakan juga bermacam-macam, seperti urea, sp36 dan za. Namun, diantara jenis
tersebut penggunaan pupuk za dan sp36 paling dominan. Menurutnya pemakaian
jenis-jenis pupuk tersebut sebenarnya adalah upaya untuk meningkatkan hasil
pertanian. Tetapi yang di dapat bukan hasil yang maksimal. Justru seringkali
mengalami kegagalan.
Begitu juga dengan pestisida yang
digunakan oleh kebanyak petani Krangkong. Mereka cenderung memilih pestisida
instan yang sudah dikemas oleh perusahan-perusahan pestisida yang ada. Petani
setempat memilih yang mudah, terlebih bisa menghutang terlebih dahulu ke
kios-kios pertanian.
Bagan
2
Diagram
besaran kepercayaan petani terhadap masalah pertanian
![]() |
|||
Dari diagram di atas, terlihat bahwa petani
mempunyai ketergantungan kepada kios-kios yang menyediakan pupuk dan pestisida
instan. Belum lagi banyaknya sosialisasi pertanian yang berujung pada promosi
pestisida instan yang menggelitik hati petani untuk membelinya, karena para petani
dimudahkan soal pembayaran, petani cukup membayar ketika musim panen.
Sementara keberadaan Gapoktan hanya dianggap sebagai
lembaga yang menaungi kebutuhan mereka dalam waktu yang benar-benar mendesak.
Sebenarnya Gapoktan juga sudah memberi peluang anggotanya untuk
mengapresiasikan segala bentuk kegundahan dan keresahan. Bahkan sering kali
Ketua Gapoktan sendiri yang turun tangan untuk menghadapi permasalahan petani.
Namun, tidak bagi pengurus Gapoktan lainnya. Apalagi anggota Gapoktan yang
cenderung memilih percaya kepada pihak-pihak yang dirasa lebih menguntungkan
petani. Padahal pola yang ditawarkan oleh pihak-pihak tersebut adalah pola
pertanian instan. Hal ini membuat Gapoktan terkesan tidak peduli, sekalipun
banyak program yang mengarah kepada pertanian tepat sasaran. Hal ini juga yang
menyebabkan beberapa program Gapoktan tidak berjalan.
Diskusi pemetaan masalah ini difasilitasi oleh tim
fasilitator. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa fokus permasalahan yang
belasan tahun terakhir ini menghantui masyarakat setempat adalah masalah
pertanian yang bersumber dari menurunnya tingkat kesimbangan tanah. Menurunnya
tingkat keseimbangan tanah atau tingkat kesuburan tanah disebabkan salah
satunya kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan bahan organik.
Bukan hanya itu, masyarakat setempat sering kali menggunakan pupuk berbahan
kimiawi dengan porsi yang berlebihan. Menurut salah seorang masyarakat, penggunaan bahan non organik sudah dilakukan sejak lama.
Baik itu pupuk, maupun obat pertanian. Para petani Desa Krangkong memilih cara yang instan, namun menginginkan
hasil yang maksimal[11].
Selama ini masyarakat Desa Krangkong sudah mencoba untuk membuat
perbandingan, antara tanaman yang menggunakan pupuk organik dengan
tanaman yang menggunakan pupuk kimia. Namun, hasil yang mereka dapat masih
belum sesuai dengan keinginan mereka.
D. Merintis
Pendidikan Pertanian
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)
merupakan salah satu lembaga penting dalam kemajuan pertanian Desa Krangkong.
Selain sebagai lembaga yang mengordinir kelompok tani dari masing-masing Dusun,
lembaga ini juga mempunyai peranan penting dalam memberikan informasi terkait masalah
pertanian. Meskipun pada dasarnya dari masa ke masa Gapoktan memberikan
sumbangsi cukup besar terhadap pertanian Krangkong. Namun, yang menjadi catatan
adalah selama ini Gapoktan yang menjembatani adanya misi terselubung dari
perusahaan pestisida yang hanya menawarkan produknya tanpa memberikan
pendampingan pertanian yang diharapkan dan dibutuhkan petani setempat.
Sejak adanya FGD resmi dengan anggota
kelompok tani pada tanggal 29 Januari 2014. Secara tidak langsung Gapoktan
adalah lembaga yang menjembatani adanya pendidikan pertanian tepat sasaran.
Kelompok tani diberikan pemahaman mengenai cara peningkatan PH tanah, petani
diberikan pemahaman bagaimana penggunaan pupuk dan pestisida secara baik dan
benar. Bukan hanya itu, para petani juga diberikan wawasan mengenai kandungan
yang ada pada pestisida yang selama ini digunakan.
Pada tahap selanjutnya petani bersama-sama
mengikuti pendampingan pertanian dengan pelatihan-pelatihan di bawah ini:
·
Pelatihan
Pemulihan Tanah
Pelatihan
pemulihan tanah, dilakukan di lahan percontohan pertanian (Demonstrasi Plot)
yang ada di lahan pekarangan Rois (48),
pelatihan tahap pertama hanya diikuti oleh anggota Gapoktan sebanyak 25
orang. Pelatihan ini dilaksanakan dari pagi sampai siang. Pelatihan ini
disambut dengan sangat antusias, kerena mereka merasa mendapat ilmu baru untuk
kepentingan pertanian mereka.
. Penggarapan lahan seluas 8 m2 yang
dimulai pada tanggal 24 Januari 2014 di lahan pekarangan rumah Rois (48). Pada tanggal tersebut
terlebih dahulu dilakukan pembersihan pekarangan yang masih berumput. Kemudian
pada tanggal 29 Januari susai mengadalah FGD resmi di Balai Desa Krankong
anggota Gapoktan bersama-sama melakukan penggundukan dan pemberian pupuk organic,
mengingat lahan tesebut sudah memiliki unsure batu kapur golongan C (dolomite),
maka tidak perlu lagi dilakukan penyebaran kapur dolomit.
Pelatihan selanjutnya dilaksanakan pada tanggal 2
Pebruari 2014, pelatihan ini sekaligus dijadikan aksi menanam buah dan sayuran
oleh generasi muda Desa Krangkong. dari aksi ini diharapkan generasi muda
krangkong sadar akan perkembangan Desa mereka. Terlebih di bidang pertanian.
Pelatihan merupakan wujud dari perencanaan yang sudah di susun bersama-sama
dari lintas generasi. Dari pelatihan ini di harapkan mampu untuk mengembalikan
kondisi tanah yang mengalami kerusakan akibat racun kimia.
Pada pelatihan ini, petani di dampingi dan di latih
untuk mengolah pertanian dengan cara organik. Termasuk bagaimana penggunaan
pupuk dan obat kimia, jika memang masih dibutuhkan untuk pertanian mereka.
Petani setempat juga di didik agar tidak lagi terlalu bergantung pada pasar dan
pupuk kimia. Selain itu petani diberi pemahaman bagaimana menjadikan dolomit
sebagai pupuk dan juga sebagai pestisida.
E. Refleksi
Sebenarnya didesa Krangkong memiliki aset alam yang
memadai, jika dilihat secara kasat mata tidak mungkin masyarakat Krangkong
mendapati kesusahan dalam segi pencukupan kebutuhan sehari-hari. Namun,
berbagai masalah timbul silih berganti. Mulai dari menejemen pemasaran hasil
pertanian yang masih bergantung pada tengkulak dan pabrik. Hasil alam yang
tidak dimanfaatkan dengan sempurna, bahkan pola pertanian yang tidak ramah
lingkungan. Padahal jika dilihat dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat setempat
baik dalam hal pengolahan pangan dari hasil bumi yang ada maupun dalam hal
pengolahan kebutuhan pertanian. Seharusnya masyarakat mampu untuk mengentaskan
permasalahan yang mereka hadapi. Namun, yang selalu menjadi kendala adalah
akses yang mereka miliki, baik itu informasi maupun pendampingan.
Selama ini pola
pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Desa Krangkong lebih
menggunakan konsep top-down yaitu
pemerintah setempat langsung mengadakan sosialisasi tanpa adanya diskusi
terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya para petani, sehingga konsep
tersebut kurang efektif. Buktinya, para petani masih mengeluhkan adanya
permasalahn pada lahan dan hasil pertanian mereka. Bahkan untuk pembasmian hama
yang menyerang pertanian mereka, sebagian petani menggunakan pestisida yang
memiliki kandungan residu yang tinggi. Bukan hanya itu petani juga menggunakan
oli dan detergent sebagai pestisida. Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran
masyarakat akan kelestarian lingkungannya berimbas pada banyak aspek kehidupan
bermasyarakat.
Hal ini kalau
dilihat dari kaca mata Gramsci sebagai kebiasaan petani tergantung pada pasar
yang membelenggu dan kondisi pasar yang menghegemoni. Menurut Gramsci bahwa
bentuk hegemoni yang demikian, merupakan bentuk kepemimpinan kultural yang
dilaksakanakan oleh oleh kelas penguasa dan pemilik modal.[12]
Terdapat dua pengertian hegemoni yang berbeda, yang satu versi Marxis ortodoks
dan yang satu versi dari Gramsci. Hegemoni menurut Marxis, menekankan
pentingnya peranan reprensif dari negara dan masyarakat-masyarakat kelas,
Pemikiran Marx beranggapan kebudayaan kehidupan manusia semata-mata merupakan
cerminan dari dasar ekonomi masyarakat, Gramsci menyebut ekonomi jenis ini
sebagai materialisme vulgar. Jadi hegemoni Marxis merupakan hegemoni negara.
Sementara hegemoni Gramsci berbeda, Gramsci tidak setuju dengan konsep Marxis
yang lebih kasar dan ortodoks mengenai “dominasi kelas” dan lebih setuju dengan
konsep “kepemimpinan moral”.
Hegemoni Gramsci
menekankan kesadaran moral, dimana seseorang disadarkan lebih dulu akan tujuan
hegemoni itu. Setelah seseorang sadar, ia tidak akan merasa dihegemoni lagi
melainkan dengan sadar melakukan hal tersebut dengan suka rela. Jadi terdapat
dua jenis hegemoni, yang satu melalui dominasi atau penindasan, dan yang lain
melalui kesadaran moral. Hegemoni dengan dominasi atau penindasan merupakan
hegemoni konsep Marxis ortodoks, biasanya bernuansa negatif. Sementara itu
hegemoni menurut Gramsci, adalah hegemoni dengan kepemimpinan intelektual dan
moral, biasanya bernuansa positif.
Hegemoni Gramsci
memuat ide tentang usaha untuk mengadakan perubahan sosial secara radikal dan
revolusioner. Gagasan hegemoni Gramsci telah mengadung isu-isu pokok dalam
studi kultural, seperti tentang pluralisme, multikultural, dan budaya marginal.
Jadi hegemoni Gramsci menolak konsep-konsep yang mengedepankan kebenaran
mutlak, baik yang terkandung dalam Marxisme maupun non-Marxisme.
Agar masyarakat
tidak merasa dihegemoni, perlu adanya pengarahan konsep pemikiran oleh suatu
konsensus. Konsensus dapat dilaksanakan melalui lembaga sosial, atau dapat juga
konsensus dilaksanakan melalui penanaman ideologi. Menurut Gramsci, ideologi
tidak otomatis tersebar dalam masyarakat, melainkan harus melalui
lembaga-lembaga sosial tertentu yang menjadi pusatnya (Faruk, 1994: 74).
Kata intelektual
dalam hegemoni Gramsci dipahami sebagai suatu strata sosial yang menyeluruh
yang menjalankan suatu fungsi organisasional dalam pengertian yang luas. Jadi
intelektual bisa mencakup bidang kebudayaan atau administrasi politik, mereka
mencakup kelompok-kelompok misalnya dari pegawai yunior dalam ketentaraan sampai
dengan pegawai yang lebih tinggi. Dengan pengertian setiap kelompok sosial
dalam lapangan ekonomi menciptakan satu atau lebih strata intelektual, akan
memberikan homogenitas dan suatu kesadaran mengenai fungsinya sendiri.
Seiring dengan
perkembangan teknologi, dominan budaya, politik dan ekonomi bisa menguasai dari
satuan yang besar hingga satuan yang kecil. Satuan besar yaitu negara, satuan
kecil hingga perorangan. Perlu disadari hegemoni sekarang bisa dipahami sebagai
dominansi dari budaya negara maju terhadap negara berkembang. Jadi hegemoni
tidak semata-mata dalam bentuk penindasan/penguasaan secara fisik, tetapi bisa
penguasaan secara wacana. Hegemoni wacana inilah yang berbahaya, karena manusia
tidak sadar bahwa dia telah dihegemoni.
F. Penutup
Krangkong,
desa lepas landas yang berada di ujung timur wilayah kabupaten Bojonegoro.
Memiliki lingkungan persawahan yang luas dan produktif. Bisa digambarkan kalau
daerah seperti ini adalah daerah yang bisa ditanami jenis tanaman apapun.
Seperti halnya wilayah Bojonegoro lain yang merupakan daerah agraris. Desa
Krangkong juga merupakan desa penghasil padi dan tembakau setiap tahunnya.
Kehidupan
di Desa Krangkong sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan mereka.
Seperti pertanian yang tidak ramah
lingkungan, tengkulak, budaya konsumtif, dan kecenderungan generasi muda yang
lebih memilih untuk bertahn hidup di perantauan. Maka sangat tepat jika
masyarakat ini melakukan penerapan pengolahan pertanian organik. Untuk
mewujudkan pertanian yang ramah ingkungan.
Upaya
ini juga akan berimbas pada perekonomian dan pola pertanian mereka. Mereka juga
akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang pertanian yang baik dan benar.
Sehingga tidak akan lagi mengalami kerugaian dan kegundahan yang mendalam.
Dalam upaya ini, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang bagaimana
pemenuhan kebutuhan pangan melalui hasil pertanian yang mereka kelola.
[1] George Ritzer dan Douglas J. Goodman. Teori
Sosial Modern, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 176.
[2] Muhadi Sugiono, Kritik Antonio
Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar,1999), 30-31
[3] Nezar Patria & Andi Arief, Antonio Gramsci, Negara
dan Revolusi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, h: 127
[6] Hasil FGD dengan Ir. Heru Hidayat. S, perwakilan dari PT. BASF yang
di tunjuk sebgai fasilitator pernatian kabupaten Bojonegoro serta anggota
GAPOKTAN desa Krangkong, Rabo, 29 Januari 2014 pukul 10.30 WIB
[7] pH adalah tingkat keasaman atau kebasa-an suatu
benda yang diukur dengan menggunakan skala
pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa
mempunyai nilai pH 7 hingga 14
[8] Mapak anak adalah sebutan padi yang sudah berusia 15-20 hari
[9] Hasil FGD dengan Sukadi, salah seorang anggota GAPOKTAN desa Krangkong dalam sosialisasi pertanian
dengan UPTD Kec. Kepohbaru kerjasama dengan PT. BASF, Rabo, 29 Januari 2014
[10] Bau adalah istilah yang
digunakan petani setempat untuk menyebut lahan seluas 500 M2. Dua
bau berarti 1000 M2.
[11] Hasil FGD dengan Sunarto
[12] George Ritzer dan Douglas J. Goodman. Teori
Sosial Modern, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 176.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar