Sabtu, 23 Januari 2016

Jurnal KKN PAR



Abstrak
Agriculture is the activity that is synonyms with rural communities. So also in the village Krangkong Kepohbaru Bojonegoro, this activity is done on a daily basis. However, concern and indecisive. This environmentally-friendly agriculture is notactually occur dozens or even desades ago. The use of pesticides and chemical fertilizers are too frequent and sometimes execessive. Agriculture always involves two main elements, namely land and human labor. The longer the role of both the elements of the greater, so that the possessionof land and human slavery into the feudal core gripping power of human freedom. Shackles lack of balance between the two main elements of this farm is very slow Krangkong realized by farmers. The solution given by Gramci is that communites have a critical consciousness. Where one first made aware of the purpose of this hegemony. Once a person unconscious, he will not feel dihegemoni again but by consciously doing it voluntarily. So there are two types of hegemony, the one through domination or oppression and the other through the moral consciousness. Hegemony with dominance or suppression of an orthodox Marxist concept of hegemony, usually negative shades. Meanwhile hegemony by Gramci, hegemony is the intellectual and moral leadership, nuanced usually positive. Because these chains must be overcome and need for a new adaptation to achieve better result. Therefore, the attempt to realize an environmentally friendly land should be done as quickly as possible. So we need a broad knowledge realeted to sustainable agriculture. Especially for farmers.
Keywords : Shackles, agriculture, non-organic
A.    Pendahuluan
Secara teori, memang jika segala macam bentuk tanaman yang dikelolah dengan proporsional maka akan memberikan hasil yang memuaskan. Namun, sepertinya tidak untuk para petani Desa Krangkong. Aktifitas  pertanian setiap hari dilakukan. Namun, yang menjadi perhatian adalah kondisi keseimbangan kesuburan tanah yang membuat hati para petani gundah dan bimbang. Pertanian tidak ramah lingkungan ini sebenarnya sudah terjadi belasan bahkan puluhan tahun lalu. Pemakaian pestisida dan pupuk kimia yang terlalu sering dan kadang berlebihan. Pertanian selalu melibatkan dua unsure utama, yaitu tanah dan tenaga kerja manusia. Makin lama peran kedua unsure tersebut makin besar, sehingga penguasaaan tanah dan perbudakan manusia menjadi inti kekuasaan feodalisme yang mencengkeram kebebasan manusia.
Pada awalnya petani setempat hanya pasrah terhadap kondisi yang mereka alami. Setelah mendapat berbagai informasi tentang pertanian, petani kembali percaya diri untuk mengelolah lahan mereka kembali. Meskipun informasi yang di dapat sebenarnya membahayakan lahan mereka. Sehingga kebimbangan mereka berujung pada pestisida yang berasal dari oli motor dan detergent. Hal ini menunjukkan ketidak pedulian lembaga pertanian  Krangkong.
Hal ini kalau dilihat dari kaca mata Gramsci sebagai kebiasaan petani tergantung pada pasar yang membelenggu dan kondisi pasar yang menghegemoni. Menurut Gramsci bahwa bentuk hegemoni yang demikian, merupakan bentuk kepemimpinan kultural yang dilaksakanakan oleh oleh kelas penguasa dan pemilik modal.[1]

B.     Konsep Hegemoni Antonio Gramsci
Hegemoni, bagi Gramsci, akan menjelaskan mengapa suatu kelompok atau kelas secara sukarela atau dengan konsensus mau menundukkan diri pada kelompok atau kelas yang lain Teori hegemoni Gramci adalah salah sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dibangun diatas premis pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Di mata Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud Gramsci dengan "hegemoni" atau menguasi dengan "kepemimpinan moral dan intelektual" secara konsensual[2]
Ada dua hal mendasar menurut Gramsci menjadi biang keladinya, yaitu pendidikan di satu pihak dan mekanisme kelembagaan di lain pihak. Untuk itu Gramsci mengatakan bahwa pendidikan yang ada tidak pernah menyediakan kemungkinan membangkitkan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan sistematis bagi kaum buruh. Di lain pihak, mekanisme kelembagaan (sekolah, gereja, parpol, media massa dan sebagainya) menjadi "tangan-tangan" kelompok yang berkuasa untuk menentukan ideologi yang mendominir. Bahasa menjadi sarana penting untuk melayani fungsi hegemonis. Konflik sosial yang ada dibatasi baik intensitas maupun ruang lingkupnya, karena ideologi yang ada membentuk keinginan-keinginan, nilai-nilai dan harapan menurut sistem yang telah ditentukan.[3]
politik, gagasan hegemoni tersebut adalah pengalaman Gramsci sendiri. Fokus perhatian Gramsci pada hal tersebut muncul dari situasi politik ketika ia hidup dan menjadi pemimpin intelektual dari gerakan massa proletar - di Turin - selama Perang Dunia Pertama dan masa sesudah itu. Italia, menjelang perang usai merupakan sebuah pemandangan penting dari pertarungan politik partai, baik Kiri maupun Kanan. Sebuah pertarungan yang dengan cepat membuahkan kemenangan kepada fasisme pada 1922 dan melenyapkannya hak-hak politik. Sebagai anggota kunci dari Partai Sosialis Italia dan kemudian Partai Komunis Italia (PCI), Gramsci melihat kegagalan gerakan massa buruh revolusioner dan bangkitnya fasisme reaksioner didukung oleh massa kelas pekerja.[4]

C.    Rusaknya Lahan Pertanian Karena Pupuk dan Racun Kimia

Bentuk permasalahan yang ada di Desa Krangkong  Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro sangatlah kompleks. Semua bentuk permasalahan yang ada pada masyarakat Desa Krangkong, tersusun dari berbagai unsur yang telah lama beku tanpa pernah dicairkan. Kebekuan berbagai bentuk permasalahan tersebut terakumulasi sehingga memberikan akibat yang sangat kronis kepada kehidupan masyarakat Desa Krangkong yang pada akhirnya menimbulkan kemunduran pada setiap komponen kehidupan.
Bagan 1
Calender season
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Bulan
Hujan
Laboh
Kemarau
Hujan
Musim
Sedang
Rendah
Tinggi
Curah hujan


Padi 


Tembakau


Padi
Tanam

Padi


Padi


Tembakau



Panen
     
Musim penghujan mulai pada bulan Oktober sampai bulan Maret, sedangkan bulan April-Mei merupakan musim laboh yaitu masa pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau. Bulan juni sampai September adalah musim kemarau. Pada bulan Oktober sampai bulan Desember curah hujan tinggi karena merupakan musim pancaroba (pergantian dari musim kemarau ke musim hujan). Pada masa ini masyarakat mulai menanam padi. Masa ini dianggap paling tepat untuk menanam padi. Karena pada masa ini tingkat kelembaban tanah dianggap mencukupi untuk tanaman padi. Pada bulan Januari hingga April curah hujan mulai berkurang dari curah hujan tinggi menjadi sedang. Pada masa ini petani mulai melakukan perawatan pada tanaman padi mereka. Mulai dari pemberian obat, pupuk dan pengontrolan hama wereng, belalang, ulat, burung dan rumput liar.  Sedangkan pada musim kemarau curah hujan sangat rendah. Pada musim kemarau ini jika harga tembakau naik, maka petani berbondong-bondong untuk menanam tembakau. Namun, jika harga tembakau turun, petani membiarkan lahan mereka beroh[5].
Secara teori, memang jika segala macam bentuk tanaman yang dikelolah dengan proporsional maka akan memberikan hasil yang memuaskan. Namun, sepertinya tidak untuk para petani Desa Krangkong.
Selama ini tumpuhan hidup masyarakat Krangkong di dapat dari pertanian, meskipun sebagian dari mereka adalah PNS atau pekerja pabrik, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa bertani adalah komponen utama dalam kehidupan masyarakat Krangkong. Dari hasil pertanian yang mereka kelola, mereka bisa terbantu mencukupi kebutuhan sekunder dan primer mereka. Dengan cara mengelolah lahan mereka, mereka mampu bertahan dari masa ke masa. Setiap harinya mereka melakukan aktifitas pertanian dari jam 06.00 sampai jam 10.00 pagi, dengan berjalan kaki, karena letak sawah mereka berdampingan dengan rumah masyarakat setempat. Dan menjadi pembatas masing-masing dusun yang ada di Desa Krangkong.
Jika dilihat secara kasat mata lahan persawahan yang ada di Desa Krangkong terlihat subur dan tidak mengalami kerusakan, tetapi setelah di tes dari pihak dinas pertanian dan pihak BASF, lahan persawahan yang mereka kelolah mengalami penurunan tingkat kesimbangan tanah atau biasa disebut PH menjadi 3-4,5% dari tingkat keseimbangan kesuburan tanah (kelembaban).  Sementara tingkat keasaman tanah menjadi lebih tinggi[6]. Hal ini yang menyebabkan lahan mereka menjadi lahan produktif yang tidak ramah lingkungan.
Sementara sebab dari menurunnya PH[7] tanah adalah penggunaaan obat dan pupuk yang tidak proporsional. Bukan hanya itu, obat dan pupuk yang mereka gunakan sering kali adalah pupuk non organik. Usaha untuk mempertahankan lahan pertanian mereka sudah dilakukan dengan cara sosialisasi pertanian dan penyuluhan obat dari pemerintah desa setempat, tetapi sebagian besar hanya mengenai penyuluhan obat yang dilakukan oleh beberapa perusahan obat pertanian. Dalam artian, penyuluhan obat pertanian juga sebagai ajang promosi produk mereka. Bukan hanya itu perusahan obat yang didatangkan utuk memberikan penyuluhan, adalah obat yang sebagian bahan dasarnya bersifat kimiawi. Menurut penuturan salah satu masyarakat setempat, upaya untuk menggunakan pupuk organik terus digalang oleh beberapa petani, tetapi hasilnya masih rendah, kadang pada masa padi mapak anak[8], tanaman yang awalnya menggunakan pupuk organik justru mengalami kerusakan tanpa di duga. Justru yang menggunakan obat dan pupuk subsidi hasilnya lebih bagus. Sebenarnya ini yang menjadi pertanyaan para petani[9].
Masyarakat desa krangkong jika dilihat dari kondisi ekonomi termasuk dalam tiga kategori, miskin, sedang dan kaya. kondisi ini bisa dilihat dari pekerjaan dan kondisi rumah tangga mereka. Meskipun secara fisik sebagian besar rumah masyarakat setempat terbuat dari kayu, ada juga yang masih terbuat dari anyaman bambu. Kebanyakan dari mereka bekerja menjadi buruh pabrik, PNS, merantau ke Kalimantan, Papua, bahkan ada yang menjadi TKI diluar negeri seperti Korea dan Malaysia.
Seperti halnya Siswanto (37) salah seorang pekerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Namun, luas lahan pertanian yang dimiliki seluas dua bau[10]. Dari luas lahan dikelolah, Siswanto membutuhkan setidaknya sepuluh kwintal pupuk untuk tanaman padi, dari tandur sampai mapak anak. Jenis pupuk yang digunakan juga bermacam-macam, seperti urea, sp36 dan za. Namun, diantara jenis tersebut penggunaan pupuk za dan sp36 paling dominan. Menurutnya pemakaian jenis-jenis pupuk tersebut sebenarnya adalah upaya untuk meningkatkan hasil pertanian. Tetapi yang di dapat bukan hasil yang maksimal. Justru seringkali mengalami kegagalan.
Begitu juga dengan pestisida yang digunakan oleh kebanyak petani Krangkong. Mereka cenderung memilih pestisida instan yang sudah dikemas oleh perusahan-perusahan pestisida yang ada. Petani setempat memilih yang mudah, terlebih bisa menghutang terlebih dahulu ke kios-kios pertanian.

Bagan 2
Diagram besaran kepercayaan petani terhadap masalah pertanian






Oval: Gapoktan


 











Dari diagram di atas, terlihat bahwa petani mempunyai ketergantungan kepada kios-kios yang menyediakan pupuk dan pestisida instan. Belum lagi banyaknya sosialisasi pertanian yang berujung pada promosi pestisida instan yang menggelitik hati petani untuk membelinya, karena para petani dimudahkan soal pembayaran, petani cukup membayar ketika musim panen.
Sementara keberadaan Gapoktan hanya dianggap sebagai lembaga yang menaungi kebutuhan mereka dalam waktu yang benar-benar mendesak. Sebenarnya Gapoktan juga sudah memberi peluang anggotanya untuk mengapresiasikan segala bentuk kegundahan dan keresahan. Bahkan sering kali Ketua Gapoktan sendiri yang turun tangan untuk menghadapi permasalahan petani. Namun, tidak bagi pengurus Gapoktan lainnya. Apalagi anggota Gapoktan yang cenderung memilih percaya kepada pihak-pihak yang dirasa lebih menguntungkan petani. Padahal pola yang ditawarkan oleh pihak-pihak tersebut adalah pola pertanian instan. Hal ini membuat Gapoktan terkesan tidak peduli, sekalipun banyak program yang mengarah kepada pertanian tepat sasaran. Hal ini juga yang menyebabkan beberapa program Gapoktan tidak berjalan.
Diskusi pemetaan masalah ini difasilitasi oleh tim fasilitator. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa fokus permasalahan yang belasan tahun terakhir ini menghantui masyarakat setempat adalah masalah pertanian yang bersumber dari menurunnya tingkat kesimbangan tanah. Menurunnya tingkat keseimbangan tanah atau tingkat kesuburan tanah disebabkan salah satunya kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan bahan organik. Bukan hanya itu, masyarakat setempat sering kali menggunakan pupuk berbahan kimiawi dengan porsi yang berlebihan. Menurut salah seorang  masyarakat, penggunaan bahan  non organik sudah dilakukan sejak lama. Baik  itu pupuk, maupun obat  pertanian. Para  petani Desa Krangkong  memilih cara yang instan, namun menginginkan hasil yang maksimal[11]. Selama ini masyarakat Desa Krangkong sudah mencoba untuk  membuat  perbandingan, antara tanaman yang menggunakan pupuk organik dengan tanaman yang menggunakan pupuk kimia. Namun, hasil yang mereka dapat masih belum sesuai dengan keinginan mereka.

D.    Merintis Pendidikan Pertanian
      Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) merupakan salah satu lembaga penting dalam kemajuan pertanian Desa Krangkong. Selain sebagai lembaga yang mengordinir kelompok tani dari masing-masing Dusun, lembaga ini juga mempunyai peranan penting dalam  memberikan informasi terkait masalah pertanian. Meskipun pada dasarnya dari masa ke masa Gapoktan memberikan sumbangsi cukup besar terhadap pertanian Krangkong. Namun, yang menjadi catatan adalah selama ini Gapoktan yang menjembatani adanya misi terselubung dari perusahaan pestisida yang hanya menawarkan produknya tanpa memberikan pendampingan pertanian yang diharapkan dan dibutuhkan petani setempat.
      Sejak adanya FGD resmi dengan anggota kelompok tani pada tanggal 29 Januari 2014. Secara tidak langsung Gapoktan adalah lembaga yang menjembatani adanya pendidikan pertanian tepat sasaran. Kelompok tani diberikan pemahaman mengenai cara peningkatan PH tanah, petani diberikan pemahaman bagaimana penggunaan pupuk dan pestisida secara baik dan benar. Bukan hanya itu, para petani juga diberikan wawasan mengenai kandungan yang ada pada pestisida yang selama ini digunakan.
      Pada tahap selanjutnya petani bersama-sama mengikuti pendampingan pertanian dengan pelatihan-pelatihan di bawah ini:

·         Pelatihan Pemulihan Tanah
            Pelatihan pemulihan tanah, dilakukan di lahan percontohan pertanian (Demonstrasi Plot) yang ada di lahan pekarangan Rois (48),  pelatihan tahap pertama hanya diikuti oleh anggota Gapoktan sebanyak 25 orang. Pelatihan ini dilaksanakan dari pagi sampai siang. Pelatihan ini disambut dengan sangat antusias, kerena mereka merasa mendapat ilmu baru untuk kepentingan pertanian mereka.
. Penggarapan lahan seluas 8 m2 yang dimulai pada tanggal 24 Januari 2014 di lahan pekarangan  rumah Rois (48). Pada tanggal tersebut terlebih dahulu dilakukan pembersihan pekarangan yang masih berumput. Kemudian pada tanggal 29 Januari susai mengadalah FGD resmi di Balai Desa Krankong anggota Gapoktan  bersama-sama melakukan  penggundukan dan pemberian pupuk organic, mengingat lahan tesebut sudah memiliki unsure batu kapur golongan C (dolomite), maka tidak perlu lagi dilakukan penyebaran kapur dolomit.
Pelatihan selanjutnya dilaksanakan pada tanggal 2 Pebruari 2014, pelatihan ini sekaligus dijadikan aksi menanam buah dan sayuran oleh generasi muda Desa Krangkong. dari aksi ini diharapkan generasi muda krangkong sadar akan perkembangan Desa mereka. Terlebih di bidang pertanian. Pelatihan merupakan wujud dari perencanaan yang sudah di susun bersama-sama dari lintas generasi. Dari pelatihan ini di harapkan mampu untuk mengembalikan kondisi tanah yang mengalami kerusakan akibat racun kimia.
Pada pelatihan ini, petani di dampingi dan di latih untuk mengolah pertanian dengan cara organik. Termasuk bagaimana penggunaan pupuk dan obat kimia, jika memang masih dibutuhkan untuk pertanian mereka. Petani setempat juga di didik agar tidak lagi terlalu bergantung pada pasar dan pupuk kimia. Selain itu petani diberi pemahaman bagaimana menjadikan dolomit sebagai pupuk dan juga sebagai pestisida.

E.     Refleksi
Sebenarnya didesa Krangkong memiliki aset alam yang memadai, jika dilihat secara kasat mata tidak mungkin masyarakat Krangkong mendapati kesusahan dalam segi pencukupan kebutuhan sehari-hari. Namun, berbagai masalah timbul silih berganti. Mulai dari menejemen pemasaran hasil pertanian yang masih bergantung pada tengkulak dan pabrik. Hasil alam yang tidak dimanfaatkan dengan sempurna, bahkan pola pertanian yang tidak ramah lingkungan. Padahal jika dilihat dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat setempat baik dalam hal pengolahan pangan dari hasil bumi yang ada maupun dalam hal pengolahan kebutuhan pertanian. Seharusnya masyarakat mampu untuk mengentaskan permasalahan yang mereka hadapi. Namun, yang selalu menjadi kendala adalah akses yang mereka miliki, baik itu informasi maupun pendampingan.
Selama ini pola pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Desa Krangkong lebih menggunakan konsep top-down yaitu pemerintah setempat langsung mengadakan sosialisasi tanpa adanya diskusi terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya para petani, sehingga konsep tersebut kurang efektif. Buktinya, para petani masih mengeluhkan adanya permasalahn pada lahan dan hasil pertanian mereka. Bahkan untuk pembasmian hama yang menyerang pertanian mereka, sebagian petani menggunakan pestisida yang memiliki kandungan residu yang tinggi. Bukan hanya itu petani juga menggunakan oli dan detergent sebagai pestisida. Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungannya berimbas pada banyak aspek kehidupan bermasyarakat.
Hal ini kalau dilihat dari kaca mata Gramsci sebagai kebiasaan petani tergantung pada pasar yang membelenggu dan kondisi pasar yang menghegemoni. Menurut Gramsci bahwa bentuk hegemoni yang demikian, merupakan bentuk kepemimpinan kultural yang dilaksakanakan oleh oleh kelas penguasa dan pemilik modal.[12] Terdapat dua pengertian hegemoni yang berbeda, yang satu versi Marxis ortodoks dan yang satu versi dari Gramsci. Hegemoni menurut Marxis, menekankan pentingnya peranan reprensif dari negara dan masyarakat-masyarakat kelas, Pemikiran Marx beranggapan kebudayaan kehidupan manusia semata-mata merupakan cerminan dari dasar ekonomi masyarakat, Gramsci menyebut ekonomi jenis ini sebagai materialisme vulgar. Jadi hegemoni Marxis merupakan hegemoni negara. Sementara hegemoni Gramsci berbeda, Gramsci tidak setuju dengan konsep Marxis yang lebih kasar dan ortodoks mengenai “dominasi kelas” dan lebih setuju dengan konsep “kepemimpinan moral”.
Hegemoni Gramsci menekankan kesadaran moral, dimana seseorang disadarkan lebih dulu akan tujuan hegemoni itu. Setelah seseorang sadar, ia tidak akan merasa dihegemoni lagi melainkan dengan sadar melakukan hal tersebut dengan suka rela. Jadi terdapat dua jenis hegemoni, yang satu melalui dominasi atau penindasan, dan yang lain melalui kesadaran moral. Hegemoni dengan dominasi atau penindasan merupakan hegemoni konsep Marxis ortodoks, biasanya bernuansa negatif. Sementara itu hegemoni menurut Gramsci, adalah hegemoni dengan kepemimpinan intelektual dan moral, biasanya bernuansa positif.
Hegemoni Gramsci memuat ide tentang usaha untuk mengadakan perubahan sosial secara radikal dan revolusioner. Gagasan hegemoni Gramsci telah mengadung isu-isu pokok dalam studi kultural, seperti tentang pluralisme, multikultural, dan budaya marginal. Jadi hegemoni Gramsci menolak konsep-konsep yang mengedepankan kebenaran mutlak, baik yang terkandung dalam Marxisme maupun non-Marxisme.
Agar masyarakat tidak merasa dihegemoni, perlu adanya pengarahan konsep pemikiran oleh suatu konsensus. Konsensus dapat dilaksanakan melalui lembaga sosial, atau dapat juga konsensus dilaksanakan melalui penanaman ideologi. Menurut Gramsci, ideologi tidak otomatis tersebar dalam masyarakat, melainkan harus melalui lembaga-lembaga sosial tertentu yang menjadi pusatnya (Faruk, 1994: 74).
Kata intelektual dalam hegemoni Gramsci dipahami sebagai suatu strata sosial yang menyeluruh yang menjalankan suatu fungsi organisasional dalam pengertian yang luas. Jadi intelektual bisa mencakup bidang kebudayaan atau administrasi politik, mereka mencakup kelompok-kelompok misalnya dari pegawai yunior dalam ketentaraan sampai dengan pegawai yang lebih tinggi. Dengan pengertian setiap kelompok sosial dalam lapangan ekonomi menciptakan satu atau lebih strata intelektual, akan memberikan homogenitas dan suatu kesadaran mengenai fungsinya sendiri.
Seiring dengan perkembangan teknologi, dominan budaya, politik dan ekonomi bisa menguasai dari satuan yang besar hingga satuan yang kecil. Satuan besar yaitu negara, satuan kecil hingga perorangan. Perlu disadari hegemoni sekarang bisa dipahami sebagai dominansi dari budaya negara maju terhadap negara berkembang. Jadi hegemoni tidak semata-mata dalam bentuk penindasan/penguasaan secara fisik, tetapi bisa penguasaan secara wacana. Hegemoni wacana inilah yang berbahaya, karena manusia tidak sadar bahwa dia telah dihegemoni.
F.     Penutup
Krangkong, desa lepas landas yang berada di ujung timur wilayah kabupaten Bojonegoro. Memiliki lingkungan persawahan yang luas dan produktif. Bisa digambarkan kalau daerah seperti ini adalah daerah yang bisa ditanami jenis tanaman apapun. Seperti halnya wilayah Bojonegoro lain yang merupakan daerah agraris. Desa Krangkong juga merupakan desa penghasil padi dan tembakau setiap tahunnya.
Kehidupan di Desa Krangkong sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan mereka. Seperti  pertanian yang tidak ramah lingkungan, tengkulak, budaya konsumtif, dan kecenderungan generasi muda yang lebih memilih untuk bertahn hidup di perantauan. Maka sangat tepat jika masyarakat ini melakukan penerapan pengolahan pertanian organik. Untuk mewujudkan pertanian yang ramah ingkungan.
Upaya ini juga akan berimbas pada perekonomian dan pola pertanian mereka. Mereka juga akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang pertanian yang baik dan benar. Sehingga tidak akan lagi mengalami kerugaian dan kegundahan yang mendalam. Dalam upaya ini, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang bagaimana pemenuhan kebutuhan pangan melalui hasil pertanian yang mereka kelola.





[1] George Ritzer dan Douglas J. Goodman. Teori Sosial Modern, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 176.
[2] Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar,1999), 30-31
[3] Nezar Patria & Andi Arief, Antonio Gramsci, Negara dan Revolusi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, h: 127

[4] Ibid, 12-13
[5] Kosong tanpa tanaman apapun kecuali rumput
[6] Hasil FGD dengan Ir. Heru Hidayat. S, perwakilan dari PT. BASF yang di tunjuk sebgai fasilitator pernatian kabupaten Bojonegoro serta anggota GAPOKTAN desa Krangkong, Rabo, 29 Januari 2014 pukul 10.30 WIB
[7] pH adalah tingkat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14
[8] Mapak anak adalah sebutan padi yang sudah berusia 15-20 hari
[9] Hasil FGD dengan Sukadi, salah seorang anggota GAPOKTAN  desa Krangkong dalam sosialisasi pertanian dengan UPTD Kec. Kepohbaru kerjasama dengan PT. BASF, Rabo, 29 Januari 2014
[10] Bau adalah istilah yang digunakan petani setempat untuk menyebut lahan seluas 500 M2. Dua bau berarti 1000 M2.
[11] Hasil FGD dengan Sunarto
[12] George Ritzer dan Douglas J. Goodman. Teori Sosial Modern, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 176.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ILMU NAHWU (PELAJARAN 2) PELAJARAN 2 MENGENAL 5 MACAM ISIM             Ada 5 MACAM ISIM yang HARUS kita ketahui dan fahami de...