PROROSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyaroh Dalam Mengatasi Rendahnya Kemampuan
Berbicara dengan Menggunakan Bahasa Arab Pada Materi Bahasa Arab di kelas VIII
C di MTsN Mojosari. Tahun Pelajaran 2012/2013.
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Bahasa Arab sudah dimulai sejak di sekolah tingkat dasar
(Madrasah ibtidaiyah). Pendidikan itu dilanjutkan di sekolah menengah tingkat
pertama (Madrasah tsanawiyah). Aktivitas pembelajaran berjalan biasa-biasa
saja. Kalau ada masalah pada tingkat ini tidak begitu mendapat perhatian,
karena segera dimaklumi bahwa pelajaran bahasa Arab belum mendapat perhatian
begitu serius untuk pelajar setingkat ini.
Di samping itu juga masih ada anggapan bahwa pelajar tingkat tsanawiyah
adalah pelajar yang belum lama mempelajari bahasa Arab sehingga masalah yang
timbul dipandang sebagai suatu kewajaran dan tidak menimbulkan kerisauan. Lain
halnya apabila masalah itu muncul di sekolah menengah tingkat atas (aliyah).
Para pengajar akan merasakan langsung masalah-masalah dalam pendidikan bahasa
Arab di tingkat ini. Masalah tersebut tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah
yang dapat dimaklumi begitu saja seperti ketika di tingkat tsanawiyah. Dengan
demikian permasalahan pendidikan bahasa Arab baru muncul di tingkat aliyah,
karena mulai mendapat perhatian ‘agak’ serius.
Misalnya dalam hal keterampilan berbicara berbahasa arab, keterampilan
berbicara bahasa arab merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa
dalam rangka mengembangkan kemampuan berbahasa asing, dalam hal ini bahasa
Arab. Metode yang digunakan harus mampu bisa membuat siswa tertarik dan senang
dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang masih jarang atau bahkan tidak
dilaksanakan sama sekali oleh beberapa sekolah yang mengajarkan bahasa Arab.
Dari sinilah muncul beberapa masalah yang menjadi akibatnya, antara lain :
siswa tidak menyukai pelajaran bahasa Arab karena pembelajaran yang monoton,
atau siswa merasa kesulitan untuk mempelajari bahasa Arab, khususnya berbicara
bahasa Arab. Hal seperti ini juga dialami oleh siswa kelas VIII C MTsN Mojosari.
Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, rendahnya kemampuan berbicara
siswa menggunakan bahasa arab dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah
siswa yang memiliki minat sedikit untuk belajar. Sehingga siswa kurang mampu
berbicara menggunakan bahasa arab. Hal ini disebabkan karena guru dalam proses
belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah dan hanya terpaku dengan
adanya buku panduan serta lembar kerja siswa (LKS) tanpa menggunakan alat
peraga atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara
bahasa arab siswa.
Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya
membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing
siswa untuk menggunakan mufrodat yang telah diberikan guru untuk berbicara
kepada siswa yang lainnya, sehingga sedikit demi sedikit siswa mampu berbicara
menggunakan bahasa arab.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu
metode pembelajaran, yaitu metode Thoriqoh Mubasyarah untuk
mengungkapkan apakah dengan model penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah
dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab siswa. Penulis memilih
metode pembelajaran ini supaya mengkondisikan siswa untuk terbiasa berbicara
menggunakan bahasa arab.
Dalam metode Thoriqoh Mubasyarah siswa lebih aktif dalam
pembelajaran bahasa arab. sedang guru berperan sebagai pembimbing atau pemberi
materi dengan menggunakan media pembelajaran yang bersifat penunjang.
Dari latar belakang tersebut di atas maka penulis dalam penelitian ini
mengambil judul "Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah dalam
Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Arab Siswa Di Kelas VIII C MTsN
Mojosari”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang hendak di
kaji dapat dirumuskan sebagai berikut :
- Bagaimana pelaksanaan metode Thoriqoh Mubasyarah dalam mengatasi kesulitan berbicara bahasa Arab pada siswa kelas kelas Kelas VIII C MTsN Mojosari ?
- Bagaimana pengaruh metode Thoriqoh Mubasyarah dalam meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab siswa di kelas Kelas VIII C MTsN Mojosari ?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang hendak di kaji tersebut, maka penelitian ini
bertujuan untuk :
- Mengetahui peningkatan kemampuan bebicara bahasa arab siswa setelah diterapkannya Thoriqoh Mubasyarah pada siswa Kelas VIII C MTsN Mojosari.
- Mengetahui pengaruh dari penerapan Thoriqoh Mubasyarah pada siswa Kelas VIII C MTsN Mojosari.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian, diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain:
1.
Lembaga
Sebagai pemberi informasi
tentang hasil dari penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah dalam proses
belajar mengajar khususnya Bahasa Arab, serta sebagai bahan pertimbangan bagi
lembaga dalam memberikan kebijakan kepada para guru dalam penyampaian materi
Bahasa Arab.
2.
Guru
Agar guru lebih mudah dalam
menyampaikan materi yaitu secara praktis, efektif dan efesien dalam mencapai
hasil pembelajaran yang maksimal, serta untuk menambah wawasan tentang
penggunaan metode pembelajaran.
3.
Siswa
Siswa agar lebih mudah dalam
memahami materi yang disampaikan guru serta lebih mudah dalam memotivasi
kegiatan belajar materi Bahasa Arab khususnya dalam hal berbicara menggunakan
bahasa Arab.
E. Hipotesis Tindakan
Dengan menggunakan Metode Thoriqoh Mubasyarah Dapat meningkatkan
kemampuan berbicara menggunakan bahasa Arab pada siswa Kelas VIII C MTsN
Mojosari.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup
dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1.
Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah rendahnya kemampuan
berbicara bahasa Arab siswa di kelas VIII C MTsN Mojosari.
2. Penelitian tindakan kelas ini dikenakan pada siswa
kelas VIII C MTsN Mojosari.
3. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTsN
Mojosari Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto.
4. Dalam penelitian ini dilaksanakan pada semester satu
tahun pelajaran 2012/2013.
5. Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi
siswa dalam kemampuan berbicara dengan menggunakan bahasa arab.
G. Definisi Operasional
Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini,
maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1. Metode Langsung adalah metode bahasa yang dalam
pelaksanaannya menolak pemakaian bahasa ibu pelajar. Metode ini memiliki tujuan
yang terfokus pada peserta didik agar dapat memiliki kompetensi berbicara yang
baik. Karena itu, kegiatan belajar mengajar bahasa Arab dilaksanakan dalam
bahasa Arab langsung baik melalui peragaan dan gerakan. Penerjemahan secara
langsung dengan bahasa peserta didik dihindari.
2. Kemampuan berbicara adalah Kemampuan yang
dimiliki seseorang dalam berkomunikasi menggunakan bahasa tertentu, dalam
hal ini khususnya mampu atau bisa berbicara dengan menggunakan bahasa arab
dengan baik dan benar.
H. Kajian Pustaka
1.
Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
a) Sejarah Metode Langsung (الطريقة
المباشرة)
Metode yang lazim digunakan
dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariqah al – mubasyarah). Munculnya
metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, oleh
karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil
belajar bahasa.
Berdasarkan asumsi yang ada
dalam proses berbahasa antara Ibu dan anak, maka F.Gouin (1980-1992)
mengembangkan suatu metode yang diberi nama dengan metode langsung (thariqah
mubasyarah), sebuah metode yang sebenarnya juga pernah digunakan dalam dunia
pembelajaran bahasa asing abad XV). Metode ini mendapatkan momentum yang baik sejak jaman Romawi ( pada awal abad ke-20) di Eropa dan Amerika, serta
digunakan baik dinegara Arab maupun di negara-negara Islam di Asia termasuk
Indonesia pada waktu yang bersamaan.[1]
b) Definisi Metode Langsung (الطريقة
المباشرة)
Direct artinya langsung. Direct Method atau metode
langsung yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru
langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, tanpa
menggunakan bahasa anak didik sedikitpun dalam mengajar. Jika ada suatu
kata-kata yang sulit dimengerti anak didik, guru dapat mengartikan dengan
menggunakan alat peraga, mendemonstrasikan, dan menggambarkan.
Metode ini memiliki tujuan yang terfokus pada peserta
didik agar dapat memiliki kompetensi berbicara yang baik. Karena itu, kegiatan
belajar mengajar bahasa Arab dilaksanakan dalam bahasa Arab langsung baik
melalui peragaan dan gerakan. Penerjemahan secara langsung dengan bahasa
peserta didik dihindari.
c) Karakteristik Metode Thoriqoh Mubasyarah
Metode ini memiliki beberapa
karakterisktik, diantaranya adalah:
1) Memberi prioritas tinggi pada keterampilan berbicara
sebagai ganti keterampilan membaca, menulis dan terjemah.
2) Basis pembelajarannya terfokus pada teknik
demonsratif; menirukan dan menghafal langsung, dimana murid-murid
mengulang-ngulang kata, kalimat dan percakapan melalui asosiasi, konteks dan
definisi yang diajarkan secara induktif yakni berangkat dari contoh-contoh
kemudian diambil kesimpulan.
3) Mengelakan jauh-jauh penggunaan bahasa ibu pelajar.
4) Kemapuan komunikasi lisan dilatih secara tepat melalui
Tanya jawab yang terancang dalam pola interaksi yang bervariasi.
5) Interaksi antara guru dan murid terjalin secara aktif,
dimana guru berperan memberikan stimulus berupa contoh-contoh, sedangkan siswa
hanya merespon dalam bentuk menirukan, menjawab pertanyaan dan
memperagakannnya.
d) Kelebihan dan Kekurangan Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
Diantara kelebihan-kelebihan Metode Langsung (الطريقة المباشرة) yang di ungkapkan oleh para pakar bahasa:
1) Kita dapat menghindarkan diri dari menyuruh pembelajar
menghafal bahasa baku yang baku yang kadang-kadang tidak sesuai dengan
pemakaian bahasa yang sesungguhnya dalam masyarakat.
2) Perhatian dan kegiatan-kegiatan pembelajar akan lebih
besar daripada menerima pelajaran secara verbalistik. Perhatian pembelajar
merupakan tumbuh dengan sewajarnya tanpa desakan yang dibuat-buat.
3) Pembentukan kepribadian pelajar agar mampu berbicara
secara spontanitas dengan tata bahasa yang fungsional.
4) Mengontrol kebenaran pengujaran siswa sebagaiman
penutur aslinya.
e) Kekurangan Metode Langsung (الطريقة
المباشرة)
Meskipun metode ini banyak kelebihan dibanding metode-metode
yang lain, tidak bisa dimungkiri bahwa pada metode ini terdapat juga
kritikan-kritikan pedas yang dilontarkan oleh beberapa pakar bahasa.
1) Tidak semua vokabuler dapat diajarkan dengan cara
menghubungkan secara langsung benda, situasi atau pekerjaan yang
digambarkannya. Sebagian harus dijelaskan dengan memberikan sinonim, antonim,
definisi, penjelasan-penjelasan atau dalam pemakaiannya. Oleh karena itu banyak
kesukaran yang dihadapi dan kesalahan-kesalahan mudah terjadi.
2) Pembelajar cenderung secara diam-diam menterjemahkan
lebih dahulu dalam hati kata-kata bahasa baru itu ke dalam bahasa ibunya dalam
usahanya mencari persamaan pengertian yang dikemukakan dalam bahasa baru itu.
Dalam hal ini tampak metode langsung lebih kompleks daripada metode terjemahan.
3) Jika semua kata harus diajarkan demikian, kemajuan
dalam pelajaran membaca pada taraf-taraf permulaan cenderung menjadi lambat.
Pembelajar memperoleh pengetahuan kata-kata secara berlebih-lebihan. Sedangkan
penguasaan dalam pemakaiannya tidak seberapa.
4) Pembelajar memperoleh kesukaran tentang bentuk-bentuk
tata bahasa oleh karena media dalam menerangkan bentuk-bentuk bahasa ini
merupakan sumber kesukaran. Hanya di kelas-kelas lebih tinggi pembelajar dapat
dianggap mampu berpikir dalam bahasa itu.
5) Jika pengajar dapat menciptakan suasana pembelajar
belajar bahasa ibunya, kita dapat mengharapkan hasil pengajaran yang baik,
tetapi suasana kelas yang seperti itu hanya berlangsung dalam waktu yang
pendek, sedangkan suasana yang persis sama jarang dapat dipertahankan untuk
waktu yang lama.
6) Metode langsung tidak mengemukakan sesuatu tentang
pemilihan bahan, penentuan urutan bahan dan sangat sedikit mengemukakan
cara-cara penyajian bahan, kecuali hanya mengemukakan bahwa pengunaan bahasa
ibu dan terjemahan ke dalam bahasa ibu dilarang.[2]
Petunjuk Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah
adalah sebagai berikut :
Bentuk Pelaksanaan Pelaksanaan metode langsung secara murni dapat
digambarkan sebagai berikut. Mula mula anak-anak disuruh meniru perbuatan
pengajar dan diiringi dengan berbicara (perkataan atau kalimat yang
menggambarkan perbuatan itu). Kemudian gerak dan berbicara ini dilanjutkan
dengan dialog ringkas, percakapan segi-tiga, berempat, dan seterusnya sampai
akhirnya pelajaran menjadi sebuah sandi. wara kecil, penuh dengan gerak gerik
dan penggunaan bahasa. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan permainan yang
lebih panjang.
Contoh sederhana:
Seorang guru
menghidupkan tape recorder yang berisikan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW (dengan
bahasa arab) dalam waktu 10 menit dan siswa diminta untuk mendengarkan secara
seksama, setelah itu tape recorder dibunyikan sekali lagi (untuk pemantapan
bagi siswa) kemudian beberapa siswa dimintai untuk maju kedepan untuk
memperagakan apa yang telah mereka dengar tadi.
2.
Kemampuan berbicara
Bahasa merupakan alat komunikasi yang secara
esensial, umum dan bersifat sosial karena dalam komunikasi selalu ada dua pihak
yang terlibat, yaitu sebagai pemberi materi dan penerima informasi. Informasi
yang dimaksud pada dasarnya dapat dibagi atas dua jenis yaitu sebagai berikut:
a. Informasi kognitif: informasi yang berkaitan dengan
penalaran, seperti pengrtian-pengertian, asumsi-asumsi, dan pikiran-pikiran
tentang sesuatu.
b. Informasi afektif: informasi yang berkaitan dengan
perasaan sedih, rasa sakit, solidaritas, kegembiraan, dan pengharapan.
Kedua fungsi tersebut
diatas, yang paling dominan adalah fungsi kognitif. Dalam berkomunikasi ada dua
macam, yakni komunikasi lisan dan komunikasi tulisan. Berdasarkan sistem
komunikasi dalam kemampuan berbahasa ada empat kemampuan yang harus dibina dan
dikembangkan, yaitu sebagai berikut:
a. Menyimak
b. Berbicara
c. Membaca
d. Menulis
Dua kemampuan berbahasa
pertama diperoleh sebagai komunikasi lisan, yakni menyimak dan berbicara
serta kemampuan berbahasa lainnya sebagai komunikasi tertulis, yaitu membaca
dan menulis. Urutan pemerolehan kemampuan berbahasa seseorang mulai dari
menyimak lalu mulai berbicara, membaca kemudian menulis. Hal ini diperoleh
waktu masih anak-anak, namun ketika seseorang sudah mulai berusia dewasa, maka
pemerolehan bahasa selanjutnya keempat kemampuan itu sudah berfungsi integral
dalam arti saling mendukung.
Keterampilan berbicara
adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada
seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan
jarak jauh. Moris dalam Novia (2002) menyatakan bahwa berbicara merupakan alat
komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan
sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial. Sedangkan, Wilkin dalam Maulida
(2001) menyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa Inggris dewasa ini adalah
untuk berbicara. Lebih jauh lagi Wilkin dalam Oktarina (2002) menyatakan bahwa
keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena
komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah
laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda.
I. Metode Penilitian
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti memilih pendekatan kualitatif. Pendekatan
kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak
dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara lain
dari pengukuran.[3]
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas
yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan pembelajaran dalam
mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran.
Menurut T. Raka Joni dalam F.X Soedarsono penelitian tindakan kelas
merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang
dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi-kondisi di mana praktek-praktek
pembelajaran tersebut dilakukan.[4]
Menurut Hopkins (1992), penelitian tindakan kelas disebut dengan classroom
action reseach.[5] Dengan melaksanakan PTK, para guru, pendidik, dan
peneliti yang terlibat secara langsung mendapatkan metode yang tepat yang
dibangun sendiri melalui tindakan yang telah diuji kemanjurannya dalam proses
pembelajaran.[6] Menurut Tim Penyusun Buku Penataran PTK (1999), PTK
akan mampu menghasilkan teori sehingga guru menjadi the teorizing
practitioner.[7]
Penelitian ini dilaksanakan di VIII C MTsN Mojosari yang terletak di
Jl, RA KARTINI NO.11 Mojosari Mojokerto merupakan salah satu
Sekolah yang berada di Mojosari di bawah naungan Departemen Agama.
Penelitian ini akan difokuskan pada peserta didik kelas VIII C
MTsN Mojosari yang berjumlah 34 siswa pada saat mengikuti kegiatan proses
belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Arab.
2. Kehadiran Peneliti
Pada penelitian ini,
peneliti sebagai mahasiswa dan merencanakan kegiatan berikut :
a. Observasi tempat serta melakukan perizinan observasi
kepada kepala sekolah.
b. Mengumpulkan data dengan cara mengamati kegiatan
pembelajaran dan wawancara kepada guru pengajar mata pelajaran bahasa arab
untuk mengetahui proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas.
c. Melaksanakan rencana program pembelajaran yang telah
dibuat.
d. Melaporkan hasil penelitian.
3. Lokasi Penelitian.
Penelitian
ini dilaksanakan di MTsN Mojosari, Kecamatan Mojosari, Kabupaten
Mojokerto.
4. Data dan sumber.
Data dalam penelitian ini adalah kemampuan berbicara
siswa dalam menggunakan bahasa arab. Data untuk hasil penelian diperoleh
berdasarkan nilai ulangan harian (test) dan hasil wawancara peneliti dengan
guru serta peneliti dengan siswa.Sumber data penelitian adalah siswa kelas VIII
C MTsN Mojosari sebagai obyek penelitian.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan teknik sebagai berikut :
a. Wawancara
Wawancara
awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan. Wawancara
dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
b. Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berbicara bahasa arab siswa yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh peneliti perseorangan.
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berbicara bahasa arab siswa yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh peneliti perseorangan.
c. Catatan lapangan
Catatan
lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian sehingga diharapkan
semua data yang tidak termasuk dalam observasi dapat dikumpulkan pada penelitian
ini.
d. Analisis data
Proses
analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai
sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan,
dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya.
J. Tahap-tahap Penelitian.
Berdasarkan observasi awal
yang dilakukan proses pembelajaran yang dilakukan adalah model pembelajaran
dengan menggunakan metode Thoriqoh Mubasyaroh.Penelitian ini akan
dilaksanakan dalam 2 siklus . Setiap siklus tediri dari perencanaan,
tindakan, penerapan tindakan, observasi, refleksi.
Siklus I:
a.
Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan
persiapan atau perencanaan. Kegiatan pada tahap ini adalah :
1) Penyusunan RPP dengan metode audio-lingual yang
direncanakan dalam PTK.
2) Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai
dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai.
3) Membuat soal test yang akan diadakan untuk
mengetahui hasil pembelajaran siswa.
4) Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik
pelaksanaan model pembelajaran dengan menggunakan metode audio-lingual yang
akan dilaksanakan.
b.
Pelaksanaan Tindakan
1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran
yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama
pembelajaran, siswa dibimbing untuk belajar bahasa Arab dengan menggunakan
model pembelajaran dengan menggunakan metode Thoriqoh Mubasyaroh.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah:
2)
Guru memberikan materi berbahasa arab menggunakan metode Thoriqoh
Mubasyaroh dengan media yang telah dipersiapkan seperti kaset, video
atau suara dari guru langsung.
3)
Siswa diharapkan mendengarkan dengan baik serta memahami materi bahasa arab
yang tengah di dengarnya.
4)
Setelah mendengarkan dan memahami guru menyuruh siswa menjelaskan kembali
materi yang telah di dengarnya dengan menggunakan bahasa arab yang baik dan
benar.
5)
Guru memberikan soal tanya jawab kepada siswa sesuai dengan materi yang
telah diberikan.
6)
Guru memberikan test dengan model Test Isian.
7)
Kegiatan penutup
Di akhir
pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis
untuk mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
c. Observasi
Pengamatan dilakukan selama proses proses pembelajaran
berlangsung dan hendaknya pengamat melakukan kolaborasi dalam pelaksanaannya.
d. Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah
diperoleh. Hasil analisis data yang telah ada dipergunakan untuk melakukan
evaluasi terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai.
Refleksi daimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa
yang telah atau belum terjadi, apa yang dihasilkan,kenapa hal itu terjadi dan
apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan
langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan pada siklus II.
Siklus II:
Kegiatan pada siklus dua pada dasarnya sama dengan
pada siklus I hanya saja perencanaan kegiatan mendasarkan pada hasil
refleksi pada siklus I sehingga lebih mengarah pada perbaikan pada pelaksanaan
siklus I.
K. Jadwal Penelitian
|
No
|
Hari dan Tanggal
|
Kegiatan
|
|
1
|
Sabtu, 17 November 2012
|
Izin untuk penelitian
|
|
2
|
Selasa, 20 November 2012
|
Mengamati proses pembelajaran bahasa arab di kelas VIII C.
Wawancara kepada guru pengajar.
|
L. Daftar Pustaka
Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab, Bandung: Humaniora, 2009.
Anselm,dkk, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif Prosedur, Tehnik dan Teori
Grounded, Penyadur Junaidi Ghony, P T Bina Ilmu, 1997.
Hopkins, 1992
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2181451-metode-langsung.
(Akses Tgl 2 Desember 2012)
Soedarsono, F.X, AplikasiPenelitian Tindakan Kelas. Departemen
Pendidikan Nasional.
Sukidin, dkk, Manajemen
Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Insan Cendekia, 2002
Tim Penyusun
Buku Penataran PTK, 1999
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : VIII
C
Waktu : 3 x40 menit
Standar Kompetensi:
Berbicara: Mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman
secara lisan dalam bentuk sederhana tentang upacara-upacara keagamaan.
Kompetensi Dasar :
Melakukan dialog sederhana tentang : المناسبات الدينية
Materi Pokok :
Hiwar tentang المناسبات الدينية
Indikator :
-
Mengucapkan materi hiwar dengan
baik dan benar.
-
Mempraktekkan dialog sederhana dengan baik dan
benar.
-
Metode : Mubasyaroh.
Langkah-langkah
pembelajaran:
|
URAIAN KEGIATAN
|
KARAKTER
|
|
Kegiatan awal:
- Berdoa.
- Mengecek
kehadiran siswa.
- Menanyakan
kabar siswa-dengan fokus pada mereka yang tidak datang.
- Appersepsi
(pertanyaan tentang pernah atau tidak berdialog dengan menggunakan teks)
- Penjelasan
tujuan pembelajaran.
|
Taqwa
Disiplin
Peduli
|
|
Kegiatan inti:
·
Guru membacakan contoh dialog dalam buku dan
Siswa mendengarkan dialog.
·
Guru mencontohkan
dialog kembali dan siswa menirukan secara bersama-sama.
·
Siswa mempraktekkan
dialog secara berkelompok dengan bimbingan dari guru.
·
Siswa diminta mencari
pasangan untuk mempraktekkan isi dialog sekaligus latihan dengan pasangan
masing-masing.
·
Tanya jawab tentang isi
dialog yang belum dipahami disamping
latihan dengan pasangan.
·
Siswa yang sudah siap
dipersilahkan maju kedepan untuk mempraktekkan dialog dengan pasangannya
secara bergantian.
|
Karakter yang dikembangkan:
Ingin tahu, cinta ilmu, percaya diri
|
|
Kegiatan akhir
· Guru memberikan penguatan dalam bentuk lisan tentang isi dialog
yang didengarkan..
· Memberi motivasi.
·
Peserta didik membuat kesimpulan tentang isi
dialog.
|
|
Alat dan
Sumber Belajar:
· Buku paket
Penilaian
a. Bentuk tes : Performance
b. Materi tes :
mendemonstrasikan hiwar tentang الحفل بذكرى ميلاد الرسول صلى
الله عليه و سلم
form penilaian
|
No
|
Nama
|
Intonasi
|
Kelancaran
|
Kesesuaian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengetahui, Surabaya,
19 Desember 2012
Kepala Sekolah Guru
Bahasa Arab
......................... ............................
LAMPIRAN
LEMBAR
PENGAMATAN PROSES PEMBELAJARAN
|
NO
|
JENIS KEGIATAN DAN INDIKATOR
|
PELAKSANAAN
|
||
|
Baik
|
cukup
|
kurang
|
||
|
1.
|
Membuka Pelajaran
a.
Membuka pelajaran dengan salam;
b.
Menarik perhatian dan menimbulkan
mativasi;
c.
Menjelaskan kompetensi dasar dan
indicator;
d.
Mengaitkan pelajaran dengan
pengalaman kehidupan siswa
|
|
|
|
|
2.
|
Penguasaan Materi Pembelajaran
a.
Mendemonstrasikan materi
pembelajaran secara cermat dengan bahasa yang sederhana dan jelas;
b.
Mendemonstrasikan materi sesuai
dengan faktanya;
c.
Mengaitkan pengalaman yang
diajarkan dengan pengetahuan lain yang relevan;
|
|
|
|
|
3.
|
Penggunaan Strategi/Metode Pembelajaran
a.
Kesesuaian strategi/metode dengan
indicator kompetensi;
b.
Menekankan pada pemecahan masalah
kehidupan sehari-hari;
c.
Melibatkan semua peserta didik
melakukan aktivitas pembelajaran;
|
|
|
|
|
4.
|
Penggunaan Media, Bahan, dan Sumber
Pembelajaran (MBSP)
a.
Kesesuaian MBSP dengan indikator
kompetensi;
b.
Kesesuaian MBSP dengan karakter
materi pembelajaran;
c.
Kesesuaian MBSP dengan karakter
peserta didik;
d.
Variasi MBSP dengan memanfaatkan
benda di lingkungan sekitar;
|
|
|
|
|
5.
|
Kemampuan Bertanya
a.
Pertanyaan jelas, konkrit, sesuai
dengan indikator kompetensi;
b.
Pemerataan pertanyaan pada
peserta didik.
|
|
|
|
|
6.
|
Pemberian Penguatan
a.
Meberi penguatan verbal dan
nonverbal;
b.
Member kesempatan peserta didik
untuk konfirmasi.
|
|
|
|
|
7.
|
Menutup Pelajaran
a.
Meninjau kembali dan menarik
kesimpulan;
b.
Menilai sesuai dengan indicator
kompetensi yang akan dicapai;
c.
Menyampaikan pesan moral sesuai
dengan indicator yang telah dipelajari;
|
|
|
|
|
8.
|
Performanca
a.
Bersikap tenang, dan nada suara
tegas, optimis, dan tidak ragu;
b.
Merespon setiap pertanyaan
peserta didik secara positif dan ramah;
c.
Menunjukkan diri sebagai pribadi
yang menyenangkan.
|
|
|
|
OBSERVASI
UNTUK GURU
|
NO
|
URAIAN
|
YA
|
TDK
|
|
1.
|
Apakah guru melakukan kegiatan membuka
pelajaran?
|
ü
|
|
|
2.
|
Apakah guru menjelaskan materi secara urut
sesuai RPP yang telah dibuat?
|
ü
|
|
|
3.
|
Apakah guru menggunakan alat peraga yang
telah disiapkan?
|
ü
|
|
|
4.
|
Apakah guru mengajar sesuai dengan alokasi
waktu yang telah direncanakan?
|
|
ü
|
|
5.
|
Apakah guru mengajarkan semua kompetensi
yang telah direncanakan?
|
|
ü
|
|
6.
|
Apakah guru menjelaskan materi secara jelas?
|
ü
|
|
|
7.
|
Apakah guru melaksanakan kegiatan menutup
pelajaran?
|
ü
|
|
PEDOMAN
OBSERVASI UNTUK SISWA
|
NO
|
URAIAN
|
YA
|
TDK
|
|
1.
|
Apakah siswa memperhatikan apa yang
dijelaskan oleh guru?
|
ü
|
|
|
2.
|
Apakah siswa berpatisipasi aktif dalam
proses belajar mengajar?
|
|
ü
|
|
3.
|
Apakah siswa nampak ada kesulitan dalam
memahami materi yang dijelaskan oleh guru?
|
ü
|
|
|
4.
|
Apakah siswa Nampak antusias dalam mengikuti
pelajaran?
|
|
ü
|
PROPOSAL
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS (PTK)
Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah dalam Meningkatkan Kemampuan
Berbicara Bahasa Arab Siswa Di Kelas VIII C MTsN Mojosari
Diajukan untuk memenuhi tugas akhir semester
” Penelitian Tindakan Kelas (BAHTS AL-AMALY
AL-SHAFFY) ”

Oleh :
SITI YULAEKAH
NIM. D32210058
Dosen
Pembimbing:
Hisbuallah Huda, M.Ag
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2012
[1]
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2181451-metode-langsung.
(Akses Tgl 2 Desember 2012)
[2]
Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab, (Bandung, Humaniora, 2009), 86-88.
[3]Anselm,dkk,
Dasar-dasar Penelitian Kualitatif
Prosedur, Tehnik dan Teori Grounded, (Penyadur Junaidi Ghony, P T Bina Ilmu,
1997 ), 11.
[4]Soedarsono, F.X, AplikasiPenelitian Tindakan Kelas,
( Departemen Pendidikan
Nasional), 2
[5] Hopkins, 1992
[6] Sukidin, dkk, Manajemen Penelitian Tindakan
Kelas, (.........: Insan Cendekia, 2002), 14
[7] Tim Penyusun Buku Penataran PTK, 1999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar