|
PENDAMPINGAN PEMANFAATAN LAHAN RAMAH LINGKUNGAN
DENGAN PENGOLAHAN PERTANIAN ORGANIK DI DESA
KRANGKONG KEPUH BARU BOJONEGORO
Laporan
Narasi Riset Aksi Partisipatif
Kulih Kerja Nyata Transformatif
UIN Sunan Ampel Tahun 2014
Desa Krangkong Kec. Kepohbaru Kabupaten
Bojonegoro
Oleh:
Ragil Rachmad Januar (FA) Siti Zulaikah (FA)
M. Sahlun Najih (FDIK) Faridatul Qomariah (FA)
M. Nasikhul Amin (FDIK) Nur Wachidah (FDIK)
Arganing Adwi Sandi (FS) Khoirotun
Nadhifah (FDIK)
M. Fahmi Zaki (FS) Musyarrofah (FDIK)
Muhammad Najib (FS) Siti Yulaikah (FTIK)
Lailatul Maghfiroh (FS) Wahyu Diah
Suswandani (FTIK)
Siti Masluhah (FS) Kamalia Ihsana (FTIK)
Siti Nur Cholidah (FS) Septi Putri Hidayati (FTIK)
Dosen
Pendamping Lapangan:
Airlangga Bramayudha, MM.
NIP.
097912142011011005
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN
KEPADA MASYARAKAT UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2014
DAFTAR ISI
SURAT
PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
BAB I : PENDAHULUAN
A.
MENEROPONG
BENTANG ALAM DESA KRANGKONG 1
B.
ASPEK
GEOGRAFIS 3
C.
POLA PEREKONOMIAN MASYRAKAT 3
D.
PARADIGMA PENDIDIKAN 4
E.
KEKAYAAN
ASET DAN AKSES 6
F.
ASAL
USUL NAMA KRANGKONG 12
G.
ADAT
ISTIADAT DAN MITOS MASYARAKAT 15
H.
POLA PERTANIAN 17
I.
POLA KESEHATAN 19
J.
POLA POLITIK PEMBANGUNAN 20
BAB II :
KETERBELUNGGUAN MASYARAKAT PADA POLA PERTANIAN TIDAK RAMAH LINGKUNGAN
A. RUSAKNYA LAHAN PERTANIAN KARENA PUPUK DAN RACUN KIMIA 30
B. BELENGGU KUASA TENGKULAK 33
C. GENERASI MUDA DUSUN TEMU, (JUWET), DAN
KRANGKONG 34
BAB III : DINAMIKA
PROSES PENDAMPINGAN PEMECAHAN MASALAH DESA KRANGKONG
BAB IV : MEWUJUDKAN
HARAPAN MASYARAKAT KRANGKONG MEMALUI PENERAPAN PENGOLAHAN ORGANIK
A. MERINTIS PENDIDIKAN PERTANIAN 42
B. MEMBANGUN KEPERCAYAAN GENERASI MUDA
TENTANG PERTANIAN 46
C. MENANAM HARAPAN PADA SEPETAK TANAH 46
BAB V : SEBUAH CATATAN REFLEKSI 51
BAB VI : PENUTUP 55
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 :
kondisi jalan menuju Dusun Krangkong
Gambar 2 :
kondisi halaman SDN Krangkong
Gambar 3 :
kondisi salah satu TPQ Krangkong
Gambar 4 :
hamparan persawahan Desa Krangkong
Gambar 5 :
jalan menuju Mbah Danyang
Gambar 6 :
makam sesepuh Juwet
Gambar 7 :
pelaksanaan posyandu
Gambar 8 :
kondisi lahan dan tanaman padi Desa Krangkong
Gambar 9 :
diskusi pertanian
Gambar 10 : FGD
dengan kelompok tani
Gambar 11 :
pendampingan pertanian oleh PT BASF
Gambar 12 :
tanah yang sudah di taburi batu pertanian
Gambar 13 :
lokasi DEMPLOT pertanian organik dan holty
Gambar 14 :
lahan percontohan di pekarangan rumah Rois
DAFTAR BAGAN
Bagan 1: 1 :
peta Desa Krangkong
Bagan 1:2 :
survey belanja harian masyarakat Krangkong
Bagan 2:1 :
diagram besaran alur kepercayaan petani terhadap masalah pertanian
Bagan 2:2 :
analisis pohon masalah
Bagan 2:3 :
alur penjualan pertanian
Bagan 2:4 :
timeline perkembangan organisasi pemuda Krangkong
Bagan 3:1 :
analisis pohon harapan
Bagan 4:1 :
kegiatan harian pemuda Krangkong
BAB I
PENDAHULUAN
A. Meneropong
Bentang Desa Krangkong
Desa
krangkong merupakan desa yang secara administrative termasuk dalam kecamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro.
Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor dari ibukota kabupaten, lama jarak yang
harus ditempuh 3 jam. Desa agraris ini memiliki pesona alam yang indah,
hamparan padi yang luas hingga berhektar-hektar, bambu-bambu yang masih
terjaga, sehingga memberikan kesejukan alami yang jarang ditemukan di
kota-kota.
Desa ini memiliki batas teritorial, di sebelah utara desa
Krangkong berbatasan dengan desa Jipo kecamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro,
di sebelah selatannya berbatasan dengan desa Simorejo kecamatan Kepohbaru
kabupaten Bojonegoro, di sebelah timurnya berbatasan dengan desa Jati Payak
kecamatan Mojo kabupaten Lamongan, dan disebelah baratnya berbatasan dengan
desa Nglumber kacamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro.
Desa agrari dengan luas lahan pertanian ± 209 Ha dan 66
Ha untuk pemukiman dan pekarangan masyarakat. Memiliki
berbagai aset alam yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari oleh
masyarakat setempat. Seperti halnya padi, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang
panjang, timun, terong, singkong, cabe, tomat, pepaya jambu. Hamparan sawah yang membentang
menjadi kekayaan tersendiri yang menunjukkan kemakmuran masyarakat Desa ini. Sehingga Desa
ini pun juga merupakan dusun yang produktif dalam
aspek pertanian.
Bagan 1:1
Peta Desa Krangkong
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||||
B.
Aspek Demografis
Desa Krangkong terdiri atas tiga Dusun, diantaranya Dsn.
Temu, Dsn. Juwet, dan Dsn. Krangkong.
Penduduk Desa Krangkong sebanyak 2561 jiwa, 1257
laki-laki dan 1304 perempuan. Penduduk
usia 0-6 tahun ada 97 laki-laki dan 111 perempuan. Pada usia 7-18 tahun ada 197
laki-laki dan 217 perempuan. Penduduk usia 56 tahun keatas ada 224 laki-laki
dan 252 perempuan. Angkatan kerja 744 laki-laki dan 763 perempuan.
Desa Krangkong terbagi atas 14 RT dan 5 RW. RT 01 s/d RT
05 terdapat di Dusun Temu. RT 06 s/d RT 11 terdapat di dusun Juwet. Sementara
RT 12 s/d 14 terdapat di Dusun Krangkong. Desa ini memiliki 3 masjid, yang terdiri dari 1 masjid di Dusun Temu, 1
masjid di Dusun Juwet, dan 1 masjid di Dusun Krangkong. Sedangkan untuk jumlah
mushala secara keseluruhan ada 17 mushala yang aktif digunakan untuk kegiatan
peribadatan masyarakat setempat.
C.
Pola Perekonomian
Masyarakat
Seacra mayoritas mata
pencarian masyarakat Krangkong adalah petani. Namun, dari data yang diperoleh
masyarakat Krangkong memiliki berbagai mata pencarian sebagai
berikut: petani 353 laki-laki dan perempuan 330. Buruh tani 385 laki-laki dan
303 perempuan. Buruh migran perempuan tidak ada sedangkan buruh laki-laki 190.
Pegawai Negeri Sipil 10 laki-laki dan 8 perempuan. Pengrajin industri rumah
tangga 5 orang laki-laki dan 11 perempuan. Pedagang keliling 4 laki-laki dan 5
orang perempuan. Perawat swasta 1 laki-laki dan 1 perempuan. TNI terdapat 5
orang laki-laki. POLRI terdapat 1 orang laki-laki. Pensiunan PNS/TNI/POLRI
terdapat 5 orang laki-laki. Penguasa kecil dan menengah terdapat 2 orang
laki-laki. Karyawan perusahaan swasta ada 40 laki-laki dan 61 perempuan.
Pensiunan PNS ada 5 laki-laki. Penjahit ada 2 orang laki-laki dan 5 orang
perempuan. Rias pengantin ada 1 orang perempuan.
Ekonomi masyarakat
Krangkong jika dilihat dari segi angkatam kerja sebagai berikut:
penganguran jumlah angkatan kerja penduduk usia 18-56 tahun ada 1380, jumlah
penduduk usia 18-56 tahun yang masih sekolah dan tidak bekerja ada 107. Jumlah
penduduk usia 18-56 tahun yang menjadi ibu rumah tangga ada 570. Jumlah
penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja penuh ada 320. Jumlah penduduk usia
18-56 tahun yang bekerja penuh ada 320. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang
bekerja tidak menentu ada 201. Kesejahteraan keluarga, jumlah keluarga
prasejahtera ada 283. Jumlah keluarga sejahtera 1 ada 145. Jumlah keluarga
sejahtera 2 ada 113. Jumlah keluarga sejahtera 3 ada 52. Jumlah keluarga
sejahtera 3 plus ada 53. Total jumlah kepala keluarga ada 646.
Mengenai tenaga kerja masyarakat Krangkong
terbagi menjadi golongan usia sebagai berikut: penduduk usia 18-56 tahun
terdapat 744 orang laki-laki dan 763 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang
bekerja terdapat 688 laki-laki dan 702 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun
yang belum atau tidak bekerja terdapat 56 laki-laki dan 61 perempuan.
Kualitas
angkatan kerja terbagi menyesuaikan usia penduduk dan pendidikan terakhir,
sebagai berikut: penduduk usia 18-56 tahun yang tidak tamat SD terdapat 36
laki-laki dan 40 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SD ada 307
laki-laki dan 325 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTP ada 300
laki-laki dan 189 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat SLTA ada 140
laki-laki dan 79 perempuan. Penduduk usia 18-56 tahun yang tamat perguruan
tinggi ada 50 laki-laki dan 46 perempuan.
D.
Paradigma Pendidikan
Pendidikan merupakan
salah satu aspek penunjang dalam meningkatkan sumber daya manusia
masyarakat Krangkong. Masyarakat Desa
Krangkong memiliki tingkatan pendidikan sebagai berikut : jumlah total warga
yang berpendidikan ada 1217 laki-laki dan 1262 perempuan. Semuanya terdiri dari
usia 3-6 tahun yang belum masuk TK terdiri dari 33 laki-laki dan 41 perempuan.
Usia 3-6 tahun yang sedang TK/Play group terdiri dari 36 laki-laki dan 40
perempuan. Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah ada 1 orang perempuan.
Usia 7-18 tahun yang sedang bersekolah terdapat 197 laki-laki dan 217
perempuan. Usia 18-56 tahun yang tidak pernah SD tetapi tidak tamat 36
laki-laki dan 40 perempuan. Tamat SD/Sederajat 307 laki-laki dan 325 perempuan.
Jumlah usia 12-56 tahun tidak tamat SLTP terdapat 102 laki-laki dan 150
perempuan. Jumlah usia 18-56 tahun tidak tamat SLTA terdiri dari 116 laki-laki
dan 167 perempuan. Tamat smp/sederajat ada 240 laki-laki dan 193 perempuan.
Tamat SMA/sederajat ada 150 laki-laki dan 136 perempuan. Tamat D1 tidak ada.
Tamat D2 ada 2 laki-laki dan 4 perempuan. Tamat D3 ada 5 laki-laki dan 2
perempuan. Tamat S1 ada 27 laki-laki dan perempuan 25. S2 ada 1 laki-laki.
Sedangkan yang S3 tidak ada. Tamat SLB A,B,C.
E. Kekayaan Aset dan Akses
Dalam kehidupan masyarakat Desa Krangkong terdapat
beberapa aset yang masih terpelihara kelestariaannya. Aset dan akses tersebut
meliputi berbagai aspek:
Ø Insfrastruktur
Sarana
dan prasarana yang terdapat di Desa
Krangkong dapat dikategorikan baik. Jalan sebagai
sarana penghubung antar dusun di Desa Krangkong
dan Desa-desa di sekitarnya sudah dipaving dalam kondisi yang
baik dan sangat membantu masyarakat dalam mengakses berbagai aktivitas dalam
kehidupannya. Meskipun sebagian masih dalam
tahap perbaikan. Namun karena banyaknya kendaraan
bermotor yang dimiliki masyarakat hal ini berpotensi terjadinya tindakan yang
kurang tertib dalam berkendara.
Gambar 1
Kondisi jalan
menuju Dusun Krangkong

Perbaikan jalan menuju masing-masing Dusun, merupakan bantuan dari PNPM dan
PPIP. Sehingga masyarakat setempat memiliki akses yang mudah dalam aktifitas
sehari-harinya. Meskipun jalan menuju desa sebelah, seperti Nglumber dan
Simorejo mengalami kerusakan. Akibat banyaknya kendaraan bermotor yang lewat.
Namun, masyarakat Krangkong merasa sudah mendapatkan akses yang cukup membantu
aktifitas mereka.
Aset fisik lainnya adalah dua
Sekolah Dasar dan tiga TPQ. Gedung SDN krangkong 1 terdiri dari 6 ruang kelas,
1 kantor, 1 perpustakaan dan 2 kamar mandi. Kondisi gedung kelas 1 dan kantor
baru selesai direnovasi, sedangkan ruang kelas yang lain temboknya mulai retak
dan juga atapnya banyak yang telah berlubang. Sementara perpustakaan baru
dibangun dan belum diresmikan. Halaman sekolahpun kurang terawat sampai
dipenuhi oleh rumput. Bukan hanya itu,
jiak siang dan sore hari atau pada saat aktifitas belajar mengajar di SD libur.
Halaman SD digunakan untuk angon [1]oleh
sebagian masyarakat Krangkong.
Gambar 2
Kondisi halaman SDN Krangkong

Tidak terawatnya SDN Krangkong disebabkan SDM yang ada tidak mencukupi. Sehingga
rumput liar tumpuh dengan baik dan sampah juga berceceran di setiap SDN. Atas dasar itulah masyarakat setempat
memanfaatkan lapangan tersebut untuk menggembala kambing mereka.
Taman Pendidikan
Al-Qur’an (TPQ) yang terletak didusun Temu bernama TPQ Al-Huda-1 ruang kelasnya
hanya terdiri 1 ruang. TPQ didusun Juwet bernama TPQ Al-Huda-2, ruang kelasnya
sangat terbatas yang terdiri dari 1 ruang memanjang. Dan juga TPQ yang terletak
didusun Krangkong bernama TPQ Syifa’ul Qulub, terdiri dari 2 kelas, satu ruangan diperuntukkan
untuk anak yang mengaji Iqro’ dan satunya untuk anak yang mengaji Al-Qur’an. Pembagian kelas ini berfungsi untuk meningkatkan
pemahaman ilmu Al-Qur’an sesuai dengan tingkatan masing-masing.
Gambar 3
Kondisi salah satu TPQ Krangkong

Kondisi fisik masing-masing TPQ Desa Krangkong, memanglah masih pada tahap
sekedarnya, tetapi hal ini tidak menyurutkan keinginan belajar Al-Qur’an dan
agama bagi anak seusia 4-13 Th. Orang tua mereka juga sangat mengaharapkan
generasi mereka mempuyai bekal agama yang kuat untuk kehidupan anak-anak mereka
kelak.
Ø Manusia
Pengetahuan dan ketrampilan lain yang dimiliki masyarakat Krangkong adalah
membuat kerajinan dari anyaman bambu, yang berjumlah 5 orang laki-laki dan 11
orang perempuan, Pegawai Negeri Sipil 10 laki-laki
dan 8 perempuan. Pedagang keliling 4 laki-laki dan 5 orang perempuan. Perawat
swasta 1 laki-laki dan 1 perempuan. TNI terdapat 5 orang laki-laki. POLRI
terdapat 1 orang laki-laki. Pensiunan PNS/TNI/POLRI terdapat 5 orang laki-laki.
Penguasa kecil dan menengah terdapat 2 orang laki-laki. Karyawan perusahaan
swasta ada 40 laki-laki dan 61 perempuan. Pensiunan PNS ada 5 laki-laki.
Penjahit ada 2 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Rias pengantin ada 1 orang
perempuan. Tetapi aset ini juga mengalami
hal serupa dengan kemampuan mengolah pertanian. Keahlian ini hanya dimilki oleh
masyarakat yang sudah dewasa dan hampir tidak memiliki regenerasi untuk
melestarikan aset tersebut. Namun dalam hal pemanfaatan aset alam lainnya,
seperti mengolah hasil alam menjadi makanan. Generasi perempuan baik remaja
maupun dewasa sudah menunjukkan tanda-tanda positif. Hal ini terbukti ketika
program yang dilaksanakan oleh PKK setempat smendapat respon sangat positif.
Ø Alam
Desa Krangkong merupakan
Desa yang dikelilingi
dengan areal persawahan,
sebelum memasuki Desa Krangkong
ini akan disambut dengan hamparan sawah
yang cukup luas. Hamparan sawah ini merupakan salah
satu aset alam yang dimanfaatkan secara turun
temurun oleh masyarakat setempat. Dari hamparan sawah tersebut, masyarakat bisa
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka memanfaatkannya untuk menanam padi,
tembakau, jagung dan kacang-kacangan. Tetapi mereka lebih sering menggunakannya
untuk menanam padi dan tembakau, dengan sekali tanam tembakau dan dua kali
tanam padi dalam setahun.
Selain itu, di Desa Krangkong
juga memiliki aset alam lain, yang bisa digunakan untuk mememnuhi kebutuhan
masyarakat sehari-hari. Seperti singkong, pepaya, nangka, jambu, cabe, tomat,
mangga, srikaya, sirsak, buah naga,
Gambar 4
Hamparan persawahan Desa Krangkong

Di Desa Krangkong juga terdapat
aset alam lain yang juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti
halnya cabe dan tomat. Namun, sebagian besar masyarakat masih membeli kebutuhan
dapur seperti cabe dan tomat. Sebenarnya dalam benak masyarakat setempat
menginginkan kebutuhan dapur bisa dipenuhi dari lahan mereka. Namun, untuk
memulai gagasan mereka selama ini belum di dukung oleh pemerintah setempat.
Menurut Heri Muhajir (40) keinginan untuk bisa memanfaatkan lahannya untuk
tanaman selain padi sudah ada sejak dulu. Namun, selama ini pemerintah setempat
tidak mempunyai program pendampingan pertanian yang mengarah untuk pengolahan
pertanian selain padi. Menurutnya, untuk urusan pembasmian hama saja pemerintah
setempat hanya mengandalkan kerjasama dengan pihak perusahan pestisida kimia
tanpa ada pendampingan. Apalagi untuk urusan pemahaman mengenai pengolahan
pertanian yang baik dan benar. Dan untuk pendampingan pertanian selain padi
seperti jauh dari harapan.
Ø Keuangan
Sebagian besar
masyarakat Desa Krangkong
mengandalkan pendapatannya dari hasil pertanian. Namun dalam pengelolaannya
kadang masyarakat masih mengalami “besar pasak daripada tiang”, yang
artinya pengeluaran lebih besar dibanding dengan pendapatan yang mereka dapat.
Karena masyarakat yang sekarang lebih memilih barang-barang instan dibanding
barang olahan sendiri. Seperti bumbu masak, peralatan dapur, dan kebutuhannya
yang sekarang telah tersedia di toko-toko. Hal inilah yang menyebabkan
masyarakat sekarang lebih bersifat konsumtif. Sebagaimana terlihat dari survey
belanja harian masyarakat jumlah pengeluaran penduduk sangat tinggi.
Bagan 1: 2
Survey belanja harian masyarakat Desa Krangkong
|
No.
|
KK
|
Pengeluaran Per Bulan
|
|||
|
Pangan
|
Energi
|
Kesehatan +
alat pembersih
|
Pendidikan
|
||
|
1.
|
Bapak Sumawi
|
900.000,-
|
520.000
|
100.000
|
150.000
|
|
2.
|
Bapak H. Sholeh
|
540.000
|
512.000
|
60.000
|
140.000
|
|
3.
|
Bapak Edi Winarto
|
840.000
|
232.000
|
60.000
|
90.000
|
|
4.
|
Ibu siti Umaroh
|
560.000
|
312.000
|
92.000
|
180.000
|
|
5.
|
Ibu Rini Anifah
|
1.050.000
|
356.000
|
60.000
|
380.000
|
Dari hasil survey tersebut juga
mengindikasikan bahwa pengeluaran pangan masyarakat yang meliputi beras, sayur-sayuran,
protein (nabati maupun hewani) terdapat beberapa kesamaan dalam pengeluaran.
Untuk kebutuhan beras masyarakat menggunakan beras hasil panen mereka sendiri,
karena selain hasil panen dijual mereka juga menyisakan untuk konsumsi keluarga. Dengan cara
ini masyarakat melakukan penghematan dalam konsumsi beras selama beberapa bulan
kedepan.
F. Asal
Usul Nama Krangkong
Berdasarkan cerita para tetuah di Desa Krangkong,
pada zaman dahulu Desa
Krangkong merupakan hutan yang lebat dan masih banyak binatang liar. Pada zaman
itu ada sekelompok orang atau pengembara yang sementara menetap di tempat itu.
Dari tahun ke tahun sekelompok pengembara tersebut masih tinggal di situ dengan
kegiatan sehari-hari menebang hutan dan bercocok tanam. Untuk mengamankan
daerah tempat tinggalnya dan tanamannya agar tidak digangu oleh
binatang-binatang liar, maka pemburuan binatang liar terus menerus dilakukan.
Binatang-binatang yang diburu tersebut mengaung-aung atau bersuara kaong-kong
karena itulah para sesepuh terdahulu menyebut kawasan ini diberi sebutan atau
sebuah nama dusun “Krangkong”.
Ada juga versi atau pendapat lain yang berbeda. Nama
dusun krangkong diambil dari nama sebuah tumbuhan yang bernama kangkong atau kelorak. Adapula yang menyebutkan
istilah krangkong identik dengan istilah nama tempat.
Sekelompok orang atau pengembara pada zaman itu ada
yang dikenal dengan sebutan “Mbah Danyang”. Hal tersebut sesuai dengan adanya
makam atau kuburan mbah Danyang masih ada di dusun Krangkong. “Mbah Danyang”
itulah yang disebut oleh tetuah desa seorang pembuka atau pendiri dusun
Krangkong.
Gambar 5
Jalan
menuju makam mbah Danyang

Gambar di atas merupakan gambar jalan
menuju makam mbah Danyang. Tetapi makamnya sudah tidak terawat. Menurut Ida (22) batu nisan dimakam mbah Danyang
pun sudah tidak ada, hanya pohon yang sangat besar sebagai pengenal makamnya.
Warga desa Krangkong tidak ada yang berani mengunjungi makam tersebut, karena
tempatnya dikelilingi oleh banyak pohon bambu.
Selang beberapa tahun kemudian
sekelompok masyarakat Dusun Krangkong mengembangkan tiap penebangan hutan dan
pertaniannya kearah utara. Tanah arah utara ini lebih subur jika dibandingkan dengan
tanah awal didusun krangkong tersebut. Sehingga dengan kesuburan tanah yang
keutara ini terus menerus dijadikan tempat untuk pertanian hingga banyak yang
berladang dan bercocok tanam serta bertempat tinggal disitu.
Penebangan terus dilakukan kearah utara
namun penebangan kearah utara ini tidak seluas yang dilakukan pada sebelumnya,
karena disitu juga sudah ada sekelompok orang yang telah bermukim dan bercocok
tanam disana. Pertemuan kelompok orang-orang yang bermukim dari arah selatan ke
arah utara tersebut kemudian dijadikan dasar nama dusun Temu. Selain itu,
adanya orang yang bergerombol atau “jujuk
kemruwet” tersebut oleh sesepuh desa selaku pendiri dusun diberi julukan
nama tempat juwe’ atau yang sekarang disebut dengan nama Dusun Njuwet.
Bila sesepuh dusun Krangkong adalah mbah
danyang, lain halnya dengan sesepuh di dusun Njuwet yang lebih dikenal adalah
seorang tokoh pasukan Perang Pangeran Dipenogoro, beliau juga adalah seorang
ulama yang bernama Kyai Abdul Zarkasih yang mempunyai nama julukan “Mbah
Parang” masih saudara dengan Kyai Abdul Zakariyah atau ”Mbah jugo blitar”,
keduannya masih kerabat Pangeran Dipenogoro sebagia tokoh atau pejuang
nasional.
Gambar 6
makam sesepuh dusun Juwet (mbah parang)

Dusun tempat bertemunya dua kelompok
yaitu kelompok dari utara dan kelompok dari selatan sesepuh desa atau
pendirinya adalah “Mbah Noto bei” dari ketiga tokoh pendiri dusun tersebut,
makam atau tempat kuburannya masih ada di masing-masing dusun.
G. Adat
Istiadat dan
Mitos Masyarakat
Di desa krangkong terdapat berbagai adata istiadat,
mulai dari tradisi pernikahan, khitanan, tahlilan/kematian, tanam padi, dan
sedekah bumi.
Tradisi pernikahan di daerah kerangkong hampir sama
dengan daerah lamongan dimana prosesi lamaran dilakukan oleh pihak perempuan
kepada pihak laki-laki, namun prosesi lamaran tersebut hanya di lakukan apabila
mendapat orang satu desa, bila mendapat suami/istri dari lain daerah krangkong
berubah yakni pihak laki-laki melamar pihak perempuan.
Untuk prosesi pernikahannya sama dengan daerah lain
yakni kedua mempelai masuk ke tempat perayaan dengan di iringi keluarga dan
tetangga. Pada saat prosesi pernikahan terdapat tahap dimana suami menginjak
telur kemudian istri membersihkan kaki suaminya dengan air bercampur bunga
mawar, melati, kenanga dan bunga telon, yang menandakan bahwa keduanya telah
resmi menjadi sepasang suami istri yang saling menghormati dan di mana istri
akan selalu melayani suaminya. Setelah itu kedua mempelai dibawa ke pelaminan
dengan di satukan kain merah yang dipimpin oleh ayah dari perempuan yang
dimaksudkan bahwa orang tua perempuan telah menyerahkan anaknya kepada keluarga
laki-laki dan di harapkan dapat membimbing anaknya sebagai istri yang baik.
Selain tradisi pernikahan masih terdapat beberapa
tradisi lain yang biasa dilakukan oleh masyarakat desa ini, misalnya:
1.
Khitanan
Tradisi
khitanan di Desa Krangkong saat anak laki-laki di potong sebagian daging dari
kemaluannya kemudian di laksanakan syukuran yang pada syukuran tersebut terdapat
makanan berupa bubur beras merah dengan santan, makanan tersebut didoakan oleh
sesepuh desa yang kemudian di bagikan kepada warga sekitar yang telah di undang
oleh keluarga. Namun prosesi perayaannya baru akan dilaksanakan seusai panen
dan bisa di lakukan sekitar 3-4 bulan sesudah di khitan.
2.
Tahlilan/Kematian
Tradisi
tahlilan/kematian dilaksanakan ketika ada orang yang meninggal. Bila yang meninggal di atas jam 7
malam, maka akan diinapkan di rumah yang kemudian esok harinya baru akan dimakamkan.
Adapun ketika orang yang meninggal tersebut adalah orang terpandang atau orang
penting didaerahnya, maka proses penginapannya diberi lampu oblek (lampu
minyak) dan juga kemenyan yang di gunakan sebagai wewangian di sekitar orang
meninggal. Usai di makamkan terdapat tradisi tahlilan yang di lakukan sampai
hari ke-7 terkadang juga sampai hari ke-8, di dalam prosesi tahlilah terdapat
susunan acara sebagai berikut : para takziyah datang kemudian langsung di beri
makanan untuk di bawa pulang, isi makanan tersebut biasanya nasi gurih dengan serundeng dan sambel tempe. Setelah itu terdapat acara pembukaan beserta
pengundangan para takziyah untuk terus datang sampai hari ke-7, di teruskan
dengan pembacaan surat yasin kemudian tahlil yang di tujukan kepada yang
meninggal, usai pembacaan doa, para takziyah diberi makan dan hidangan penutup
berupa kue-kuean. Di hari ke-7 atau ke-6 para takziyah mendapat makanan yang di
bawa pulang dan juga di berikan uang atau amplop kepada para takziyah.
3.
Tanam Padi
Tanam
padi terdapat tradisi berupa syukuran, isi syukuran tersebut di tujukan untuk
hasil panen yang melimpah, namun dulu di masa lalu warga melakukan tanam padi
pertama dengan melemparkan telur mentah dan beberapa nasi ketanah yang akan di
kerjakan. Ritual ini di khususkan untuk meminta do’a kepada Sang
Pencipta agar apa yang mereka tanam bisa menuai hasil sesuai harapan mereka.
Tradisi ini sudah mulai luntur seiring berkembangnya zaman.
4.
Sedekah Bumi
Kegiatan
ini di laksanakan pada saat akan mulai penanaman tembakau atau pada bulan 7
malam jumat pon. Pelaksananan tradisi ini berupa syukuran dengan tiap rumah
membawa makanan yang di taruh di asahan[2],
setiap rumah membawa 5 buah asahan
yang nantinya akan di bawa ke masjid untuk di doakan ada juga yang di bawa ke makam
sesepuh desa di dusun temu. Isi makanan tersebut adalah nasi kuning dengan
berbagai lauk pauk yang nantinya akan di makan bersama dengan seluruh warga desa. Mereka menyebut kegiatan ini dengan istilah larung[3].
H.
Pola
pertanian masyarakat
Bagan 1:3
Calender
season
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
Bulan
|
|
Hujan
|
Laboh
|
Kemarau
|
Hujan
|
Musim
|
||||||||
|
Sedang
|
Rendah
|
Tinggi
|
Curah
hujan
|
|||||||||
|
|
|
Padi
|
|
|
Tembakau
|
|
|
Padi
|
Tanam
|
|||
|
|
Padi
|
|
|
Padi
|
|
|
Tembakau
|
|
|
|
Panen
|
|
Musim
penghujan mulai pada bulan Oktober sampai bulan Maret, sedangkan bulan
April-Mei merupakan musim laboh yaitu masa pergantian musim dari musim hujan ke
musim kemarau. Bulan juni sampai September adalah musim kemarau. Pada bulan
Oktober sampai bulan Desember curah hujan tinggi karena merupakan musim
pancaroba (pergantian dari musim kemarau ke musim hujan). Pada masa ini
masyarakat mulai menanam padi. Masa ini dianggap paling tepat untuk menanam
padi. Karena pada masa ini tingkat kelembaban tanah dianggap mencukupi untuk
tanaman padi. Pada bulan Januari hingga April curah hujan mulai berkurang dari
curah hujan tinggi menjadi sedang. Pada masa ini petani mulai melakukan
perawatan pada tanaman padi mereka. Mulai dari pemberian obat, pupuk dan
pengontrolan hama wereng, belalang,
ulat, burung dan rumput liar. Sedangkan
pada musim kemarau curah hujan sangat rendah.
Pada musim kemarau ini jika harga tembakau naik, maka petani berbondong-bondong
untuk menanam tembakau. Namun, jika harga tembakau turun, petani membiarkan
lahan mereka beroh[4]
I.
Kesehatan
Di Desa
krangkong terdapat Poskesdes, yaitu sebuah gedung kesehatan bagi masyarakat
Desa Krangkong. Poskesdes didirikan pada tahun 1998, pada waktu itu namanya
masih Polindes hingga tahun 2011. Polindes berganti nama menjadi Poskesdes pada
tahun 2012. Di Poskesdes ada satu dokter dan satu perawat.
Sedangkan
untuk kesehatan balita dan ibu hamil, terdapat Posyandu pada masing-masing
Dusun yang ditempatkan di rumah masing-masing kepala Dusun. Posyandu setiap
Dusun dilakukan pada hari yang berbeda-beda. Di Dusun temu diadakan pada
tanggal 11, Dusun Juwet diadakan pada tanggal 24 dan di Dusun Krangkong
diadakan pada tanggal 10 dalam setiap bulan. Untuk Posyandu di Dusun Juwet, ibu
Kepala Dusun Juwet memiliki inisiatif tersendiri dengan mengadakan arisan
diadakan arisan agar semakin kompak, tetapi ada juga beberapa yang tidak datang
tergantung kesadaran orang tua mereka. Sedangkan Posyandu bagi lansia masih
belum berjalan dengan baik mengingat minat masyarakat Desa Krangkong untuk
berobat ke Poskesdes sangat minim, mereka lebih memilih berobat ke Puskesmas,
karena Puskesmas sebagai induk dari Poskesdes, dan fasilitasnya juga lebih
bagus daripada dari Poskesdes.
Gambar 7
Pelaksanaan Posyandu

Dari gambar di
atas tergambar bahwa kepedulian terhadap kesehatan balita dan ibu cukup tinggi,
meskipun pelaksanaan posyandu di rumah masing-masing Kepala Dusun di Desa
Krangkong. Hal ini dikarenakan Dokter dan Bidan yang ditugaskan di Desa
Krangkong tidak menetap. Jadi dari masyarakat mempunyai inisiatif untuk
melaksanakan kegiatan ini di rumah masing-masing KASUN. Bukan hanya itu,
kondisi fisik POSKESDES juga kurang terawat sehingga masyarakat juga lebih
memilih untuk mengikuti saran atau inisiatif dari kelompoknya.
BAB II
KETERBELENGGUAN MASYARAKAT PADA POLA PERTANIAN TIDAK
RAMAH LINGKUNGAN
Manusia yang bermasyarakat
merupakan individu-individu yang memiliki pikiran, visi dan misi yang
berbeda-beda. Sehingga memunculkan berbagai perbedaan yang diakibatkan dari
kepentingan-kepentingan masing-masing individu, baik secara pribadi maupun
kelompok. Adanya cara pandang dan kepentingan yang berbeda tersebut memunculkan
suatu dinamika masyarakat yang pasif.
Perbedaan yang terjadi dalam
masyarakat memanglah hal yang lumrah dan sering dijumpai. Namun, dalam
perkembangan selanjutnya, apabila masalah-masalah terus menerus muncul
kepermukaan, maka akan semakin runcing dan berpotensi menimbulkan permasalahan
yang semakin besar dan berkelanjutan. Dalam menyikapi berbagai permasalahan
tersebut, masyarakat Desa Krangkong cenderung pasrah terhadap keadaan sistem
pemerintahan lokal yang notabenenya lebih cenderung Top-Down. Selain itu, masyarakat setempat juga cenderung mengikuti arus
hegemoni yang terbawa dari tempat mereka merantau, meskipun sebagian dari
mereka masih ada yang berperilaku dari apa yang sudah diwariskan oleh
orang-orang terdahulu.
Sedangkan keinginan untuk
berinovasi dan melangkah lebih cepat kedepan masih rendah dan dimiliki sebagian
kecil dari masyarakat setempat. Hal ini terlihat dari sebagian generasi muda
yang sudah mulai enggan untuk memulai perubahan desa Krangkong. Keengganan dari
mereka karena adanya perpecahan baik dari sudut pandang mereka, maupun konflik
politik local yang pernah ada.
Berikut
adalah beberapa permasalahan yang selama ini dialami oleh masyarakat Desa
Krangkong:
a.
Rusaknya Lahan Pertanian Karena Pupuk dan racun kimia
Secara
teori, memang jika segala macam bentuk tanaman yang dikelolah dengan
proporsional maka akan memberikan hasil yang memuaskan. Namun, sepertinya tidak
untuk para petani Desa Krangkong.
Selama
ini tumpuhan hidup masyarakat Krangkong di dapat dari pertanian, meskipun
sebagian dari mereka adalah PNS atau pekerja pabrik, tetapi tidak menutup
kemungkinan bahwa bertani adalah komponen utama dalam kehidupan masyarakat
Krangkong. Dari hasil pertanian yang mereka kelola, mereka bisa terbantu
mencukupi kebutuhan sekunder dan primer mereka. Dengan cara mengelolah lahan mereka, mereka
mampu bertahan dari masa ke masa. Setiap harinya mereka melakukan aktifitas
pertanian dari jam 06.00 sampai jam 10.00 pagi, dengan berjalan kaki, karena
letak sawah mereka berdampingan dengan rumah masyarakat setempat. Dan menjadi
pembatas masing-masing dusun yang ada di Desa Krangkong.
Bentuk permasalahan yang ada di Desa
Krangkong Kecamatan Kepohbaru Kabupaten
Bojonegoro sangatlah kompleks. Semua bentuk permasalahan yang ada pada masyarakat
Desa Krangkong, tersusun dari berbagai unsur yang telah lama beku tanpa pernah
dicairkan. Kebekuan berbagai bentuk permasalahan tersebut terakumulasi sehingga
memberikan akibat yang sangat kronis kepada kehidupan masyarakat Desa Krangkong
yang pada akhirnya menimbulkan kemunduran pada setiap komponen kehidupan.
Jika
dilihat secara kasat mata lahan persawahan yang ada di Desa Krangkong terlihat
subur dan tidak mengalami kerusakan, tetapi setelah di tes dari pihak dinas
pertanian dan pihak BASF, lahan persawahan yang mereka kelolah mengalami
penurunan tingkat kesimbangan tanah atau biasa disebut PH menjadi 3-4,5% dari
tingkat keseimbangan kesuburan tanah
(kelembaban).
Sementara tingkat keasaman tanah menjadi lebih tinggi[5].
Hal ini yang menyebabkan lahan mereka menjadi lahan produktif yang tidak ramah
lingkungan.
Sementara
sebab dari menurunnya PH[6]
tanah adalah penggunaaan
obat dan pupuk yang tidak proporsional. Bukan hanya itu, obat dan pupuk yang mereka
gunakan sering kali adalah pupuk non organik. Usaha untuk mempertahankan lahan
pertanian mereka sudah dilakukan dengan cara sosialisasi pertanian dan
penyuluhan obat dari pemerintah desa setempat, tetapi sebagian besar hanya
mengenai penyuluhan obat yang dilakukan oleh beberapa perusahan obat pertanian.
Dalam artian, penyuluhan obat pertanian juga sebagai ajang promosi produk
mereka. Bukan hanya itu perusahan obat yang didatangkan utuk memberikan
penyuluhan, adalah obat yang sebagian bahan dasarnya bersifat kimiawi. Menurut
penuturan salah satu masyarakat setempat, upaya untuk menggunakan pupuk organik
terus digalang oleh beberapa petani, tetapi hasilnya masih rendah, kadang pada
masa padi mapak anak[7],
tanaman yang awalnya menggunakan pupuk organik justru mengalami kerusakan
tanpa di duga. Justru yang menggunakan obat dan pupuk subsidi hasilnya lebih
bagus. Sebenarnya ini yang menjadi pertanyaan para petani[8].
Gambar 8
Kondisi lahan
dan tamanan padi Desa Krangkong

Sebenarnya
di Desa Krangkong dan sekitarnya terdapat beberapa orang yang benar-benar faham
dan peduli dengan kondisi pertanian di Desa mereka. Tetapi entah karena apa,
masyarakat setempat enggan untuk meminta bantuan kepada pihak-pihak yang faham
terkait pertanian. Masyarakat setempat justru lebih percaya dengan informasi
pertanian yang simpang-siur dan belum jelas sumbernya, apakah itu aman atau
tidak untuk tanaman dan lahan mereka.
Salah
seorang masyarakat yang lain juga
menuturkan bahwa belum tahu menahu soal tingkat kesuburan tanah yang dikelolah,
selama ini hanya mengandalkan informasi pengolahan lahan pertanian dari sesama
petani yang tidak jelas sumbernya. Kadang juga tidak tahu harus menggunakan
cara yang mana. Bahkan, banyak diantara petani menggunakan detergen untuk
membasmi hama[9].
Namun,
setelah dilakukan pengamatan dan penyelidikan mendalam. dari beberapa pihak
yang peduli dengan pertanian, membawa tujuan tersendiri, yaitu mengenai target
penjualan pupuk organic dan pupuk kimia. Mereka berdua sama-sama mempunyai
kontrak dengan perusahan-perusahan yang menangani pertanian, baik secara
organik maupun non organik.
Dari
beberapa hal diatas, terlihat bahwa dari tahun ke tahun, petani mengalami
kegagalan yang serius baik pada lahan mereka atau pada kondisi ekonomi mereka.
Lengkap sudah kegundahan petani Krangkong, mulai dari minimya pengetahuan
mengenai pengolahan pertanian yang tepat, adanya politik terselubung, hingga
penggunan bahan yang tidak semestinya digunakan untuk tanaman.
Namun,
tidak selamanya petani krangkong akan bisa bertahan menghadapi keadaan yang
selama ini tanpa mereka sadari merugikan mereka. Harus ada tindakan yang nyata
untuk menyudahi kegundahan ini. Harapan-harapan petani tentang mencari cara
kembalinya tingkat keseimbangan tanah dan pertanian ramah lingkungan harus
segera diwujudkan.
Kebekuan berbagai permasalahan tersebut
harus segera dicairkan dan dicari titik
pangkal permasalahannya. Pada uraian ini akan dipaparkan beberapa aksi yang dilakukan
oleh tim fasilitator sebagai langkah awal untuk mencairkan kebekuan
permasalahan yang ada di Desa Krangkong. Maka
dari itu dibutuhkan diskusi-diskusi mendalam mengenai pemecahan masalah yang
mereka hadapi, sehingga nantinya memunculkan inisiatif dari masyarakat untuk
solusi dari masalah mereka.
Masyarakat desa krangkong jika
dilihat dari kondisi ekonomi termasuk dalam tiga kategori, miskin, sedang dan
kaya. kondisi ini bisa dilihat dari pekerjaan dan kondisi rumah tangga mereka. Meskipun
secara fisik sebagian besar rumah masyarakat setempat terbuat dari kayu, ada
juga yang masih terbuat dari anyaman bambu. Kebanyakan dari mereka bekerja
menjadi buruh pabrik, PNS, merantau ke Kalimantan, Papua, bahkan ada yang
menjadi TKI diluar negeri seperti Korea dan Malaysia.
Seperti
halnya Siswanto (37) salah seorang pekerja Dinas Pendidikan
Kabupaten Bojonegoro. Namun, luas lahan pertanian yang dimiliki seluas dua bau[10].
Dari luas lahan dikelolah, Siswanto membutuhkan setidaknya sepuluh kwintal
pupuk untuk tanaman padi, dari tandur
sampai mapak anak. Jenis pupuk yang
digunakan juga bermacam-macam, seperti urea, sp36 dan za. Namun, diantara jenis
tersebut penggunaan pupuk za dan sp36 paling dominan. Menurutnya pemakaian
jenis-jenis pupuk tersebut sebenarnya adalah upaya untuk meningkatkan hasil
pertanian. Tetapi yang di dapat bukan hasil yang maksimal. Justru seringkali
mengalami kegagalan.
Begitu juga
dengan pestisida yang digunakan oleh kebanyak petani Krangkong. Mereka
cenderung memilih pestisida instan yang sudah dikemas oleh perusahan-perusahan
pestisida yang ada. Petani setempat memilih yang mudah, terlebih bisa
menghutang terlebih dahulu ke kios-kios pertanian.
Efek Penggunaan Pestisida
Penggunaan
pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia
maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi
seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya.
Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida
diantaranya :
·
Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap
pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah.
Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut
termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup
itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari
tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko
yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat
beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan
kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).
·
Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran
air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida
yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang.
Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton.
Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh
ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh
burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah
turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika
sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut
banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya
dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu
saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu
akan punah.
·
Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang
tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila
takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan
memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan
kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.
Bagan 2:1
Diagram besaran kepercayaan petani terhadap masalah
pertanian
![]() |
|||
Dari diagram di atas, terlihat
bahwa petani mempunyai ketergantungan kepada kios-kios yang menyediakan pupuk dan
pestisida instan. Belum lagi banyaknya sosialisasi pertanian yang berujung pada
promosi pestisida instan yang menggelitik hati petani untuk membelinya, karena
para petani dimudahkan soal pembayaran, petani cukup membayar ketika musim
panen.
Sementara keberadaan Gapoktan
hanya dianggap sebagai lembaga yang menaungi kebutuhan mereka dalam waktu yang
benar-benar mendesak. Sebenarnya Gapoktan juga sudah memberi peluang anggotanya
untuk mengapresiasikan segala bentuk kegundahan dan keresahan. Bahkan sering kali
Ketua Gapoktan sendiri yang turun tangan untuk menghadapi permasalahan petani.
Namun, tidak bagi pengurus Gapoktan lainnya. Apalagi anggota Gapoktan yang
cenderung memilih percaya kepada pihak-pihak yang dirasa lebih menguntungkan
petani. Padahal pola yang ditawarkan oleh pihak-pihak tersebut adalah pola
pertanian instan. Hal ini membuat Gapoktan terkesan tidak peduli, sekalipun
banyak program yang mengarah kepada pertanian tepat sasaran. Hal ini juga yang
menyebabkan beberapa program Gapoktan tidak berjalan.
Gambar 9
Diskusi pertanian

Diskusi pemetaan masalah ini
difasilitasi oleh tim fasilitator. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa fokus
permasalahan yang belasan tahun terakhir ini menghantui masyarakat setempat
adalah masalah pertanian yang bersumber dari menurunnya tingkat kesimbangan
tanah. Menurunnya tingkat keseimbangan tanah atau tingkat kesuburan tanah
disebabkan salah satunya kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan
bahan organik. Bukan hanya itu, masyarakat setempat sering kali menggunakan
pupuk berbahan kimiawi dengan porsi yang berlebihan. Menurut salah seorang masyarakat,
penggunaan bahan non organik sudah dilakukan sejak lama. Baik itu pupuk, maupun obat pertanian. Para petani Desa Krangkong memilih cara yang instan, namun menginginkan
hasil yang maksimal[11].
Selama ini masyarakat Desa Krangkong sudah mencoba untuk membuat perbandingan, antara tanaman yang menggunakan
pupuk organik dengan tanaman yang menggunakan pupuk kimia. Namun, hasil yang
mereka dapat masih belum sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini bisa di lihat dari pohon masalah di bawah ini.
Bagan 2:2
Analisis Pohon
Masalah

Selain
itu masalah rusaknya lahan pertanian karena pupuk dan racun kimia juga
disebabkan pendidikan pertanian yang tidak tepat. Hal ini terjadi karena
tidak ada mediasi yang baik antara masyarakat dengan pemerintah lokal, sehingga
pemerintah lokal hanya mengadakan sosialisasi pertanian yang menyimpan misi
terselubung, yaitu promosi produk yang dimiliki oleh pihak sosialitator. Selain
itu, sebagian besar masyarakat setempat belum mempunyai inisiatif dan terkesan mengikuti
arus pengolahan pertanian yang ada. Hal ini dikarenakan masyarakat takut bila
penggunaan pupuk organik akan tidak membuahkan hasil yang maksimal. Bahkan
peran pemerintah lokal yang seharusnya menggerakkan masyarakat dan bekerja sama
dengan pemerintah pusat dalam penggunaan pupuk organic, tidak ada dan
cenderung pasif. Hingga masyarakat desa pun hanya bisa pasrah dan
mengikuti arus pengolahan pertanian yang ada.
Penyebab lain masalah rusaknya lahan karena pupuk dan racun kimia di Desa Krangkong adalah di sebabkan kurang
berjalannya program Gapoktan
yang sudah ada. Hal ini disebabkan karena tidak
adanya falisitasi lembaga Gapoktan
untuk pertanianyang masyarakat Desa Krangkong. Hal ini disebabkan belum ada yang memdiasi antara
gapoktan dengan pemerintah lokal sebagai institusi yang seharusnya
menfasilitasi setiap sub lembaga yang ada di Desa Krangkong. Hal tersebut
diperparah dengan kurangnya koordinasi antar pengurus Gapoktan yang ada di Desa
krangkong. sehingga jadwal pertemuan
antara penggurus dan anggota Gapoktan tidak jelas.
Rusaknya lahan pertanian
di Desa Krangkong sangatlah berdampak pada berbagai aspek. Dampak tersebut
diantaranya adalah a) ketergantungan pada pasar
dan pupuk kimia yang disebabkan karena kurangnya
pengetahuan pada masyarakat tentang pertanian. b) masyarakat Desa Krangkong
merupakan masyarakat yang sebagian besar berprofesi menjadi petani yang
rata-rata mempunyai sawah yang luas, tetapi hasil yang mereka peroleh kurang
maksimal. Karena tanaman mereka masih
terjangkit hama c) masyarakat Desa Krangkong
merupakan masyarakat yang lumayan maju, sehingga
masyarakat
b.
Belenggu Kuasa Tengkulak
Seluruh masyarakat Desa Krangkong mayoritas adalah petani,
meskipun ada juga yang bekerja diluar daerah mereka, tetapi mereka yang
notabenenya tidak menetap di Desa, mereka masih memiliki lahan yang disewakan
kepada sanak-kerabat mereka untuk dikelola. Cara
yang mereka gunakan untuk pengelolaan lahan mereka dengan cara pindon[12].
Dengan cara pindon ini
petani setempat bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dalam jangka beberapa
bulan. Namun, sistem pindon tidak
maksimal jika sudah kemarau panjang dan harga tembakau turun.
Bagan 2:3
Alur penjualan hasil pertanian
![]() |
|||
Alur penjualan hasil pertanian,
tanpa mereka sadari juga menjadi polemik dan belenggu bagi masyarakat. Menurut
salah seorang petani Desa Krangkong, penjualan padi, palawija, dan tembakau
lebih mudah dijual kepada tengkulak. Dengan alasan petani tidak perlu keluar
desa untuk menjual hasil tanamannya. Namun, cara yang dilakukan tengkulak
adalah tebasan[13].
Dengan dua cara, di beli langsung di lahan dan menerima yang sudah selesai
proses penjemuran, baik itu padi maupun tembakau.[14]
Banyak diantara petani meminjam
uang kepada tengkulak yang menerima hasil pertanian sebelum masa panen tiba.
Cara mengembalikan dengan menyetorkan hasil pertanian yang mereka kelolah
kepada tenggulak. Hal ini berlengsung sejak dulu, tanpa mereka sadari hal
inilah yang menyebabkan mereka tidak berkembang, dan selalu mengalami keadaan
yang serupa meskipun kadang tidak sama, yaitu kerugian ketika panen. Namun,
petani tetap saja mengikuti arus yang sedemikian rupa, karena secara mayoritas
petani tidak memiliki keinginan untuk lepas dari ketergantungan kepada
tengkulak. Sehingga dalam fikiran dan benak petani hanya memikirkan cara
untuk mendapatkan hasil yang maksimal,
agar ketika menjual hasil pertanian kepada tengkulak merasa sama-sama untuk
tanpa memikirkan kondisi yang lainnya.
c.
Tingginya Tingkat Perantau Bagi Usia Produktif
Pendidikan bagi
masyarakat Desa Krangkong merupakan hal yang penting. Bagi mereka pendidikan
anak-anak mereka adalah upaya untuk mengentaskan kebodohan dan kehidupan yang kurang
layak. Meskipun orang tua dari anak-anak mereka adalah petani dan orang desa,
setidaknya anak-anak mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak setara
dengan jenjang pendidikan yang mereka tempuh.
Meskipun
setelah lulus SMA sebagian dari mereka merantau dan menjadi TKI, dan sebagian
lagi melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Tetapi, asumsi mereka yang sudah
menetap diperantauan baik itu kuliah maupun bekerja, sedikit banyak telah
meringankan perekonomian keluarga. Bukan hanya itu, para orang tua juga
beranggapan bahwa anak mereka tidak harus kembali ke desa, karena jika anak
mereka bertahan diperantauan mereka, secara otomatis masyarakat setempat akan
beranggapan bahwa mereka tergolong orang-orang sukses.
Banyaknya usia produktif yang merantau, manjadi salah
satu penyebab Desa ini sulit berkembangan. Kebanyakan dari mereka memilih
merantau di negara-negara berkembang seperti di Korea dengan jumlah perantau
sebanyak 16 orang, salah satunya adalah anak tertua dari Kepala Desa Krangkong.
Di kota-kota besar di Indonesia juga menjadi sasaran rantauan para generasi
muda Krangkong seperti di Surabaya lebih dari 10 orang yang menetap di kota
ini. Sebagian dari mereka ada yang masih kuliah ada yang bekerja sebagai buruh
pabrik.
Indikasi itu juga diperkuat dengan banyaknya generasi
muda Dusun Temu dan Krangkong yang pasif terhadap kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh Karang Taruna Muda Karya. Para pemuda dari Dusun Juwet
yang selama ini rela meluangkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang membangun
Desa mereka.
Bagan 2:4
Time line perkembangan
organisasi pemuda Desa Krangkong
|
Tahun
|
Kejadian
|
|
1996
|
Karang taruna Muda Karya didirikan oleh pemerintah
setempat dan di ketuai Agung Sutikno
|
|
2001-2003
|
Karang taruna Muda Karya mengalami kefakuman akibat
ketua Karang Taruna mendapat pendidikan lanjutan di jepang selama 2 tahun.
|
|
2004-sekarang
|
Keadaan stabil setelah kembalinya ketua dari jepang.
Meskipun anggota karang taruna yang masih aktif mengikuti kegiatan hanya dari
dusun juwet
|
Jika dilihat dari tabel di atas dan keseharian para pemuda Desa Krangkong pada
umunya, memang yang memiliki kontribusi besar untuk perubahan dan perkembangan Krangkong
adalah pemuda dari dusun Juwet, meskipun sebagian dari mereka adalah
pengangguran dan calon sarjana gagal. Dari tahun ke tahun pemuda Juwetlah yang
selalu ikut meramaikan kegiatan Krangkong. Meskipun organisasi yang menaungi
mereka sempat fakum. Namun, semangat mereka untuk berkontribusi tetaplah
tinggi.
BAB III
DINAMIKA PRSOSES PENDAMPINGAN PEMECAHAN MASALAH DESA
KRANGKONG
Dari fakta
penyebab dan akibat permasalahan pemanfaatan lahan pertanian ramah lingkungan di
Desa Krangkong, maka harapan yang diinginkan oleh masyarakat agar pemanfaatan
lahan bisa semaksimal mungkin adalah seperti dalam pohon harapan berikut :
Bagan 3: 1
Analisis Pohon
Harapan

Pulihnya
lahan pertanian karena pengolahan pertanian organik
dapat dilihat dari meningkatnya pengetahuan
dan kesadaran petani terhadap pengolahan
pertanian ramah lingkungan, masyarakat tidak lagi
bergantung deangan pasar dan pupuk kimia, dan meningkantnya peran pemerintah
lokal. Lahan yang dikatakan ramah lingkugan jika tingkat kesuburan tanah sudah
mencapai 6-7 dari ukuran PH tanah yang sudah ditentukan. Lahan pertanian di
Desa Krangkong mengalami peningkatan kadar keasaman tanah dan penurunan kadar
kesuburan tanah, sehingga hasil dari Focus Group Discussion (FGD) yang
dilakukan bersama dengan anggota gapoktan, dapat digaris bawahi bahwa petani
setempat mengarapkan pemerintah lokal lebih peduli terhadap apresiasi
masyarakat dengan wujud intensitas penyuluhan dan pendampingan pertanian ramah
lingkungan. Demikian pula diharapkan adanya kerjasama yang baik antara pengurus
gapoktan dan anggota, agar segala yang menjadi kegundahan dan kebingungan para
petani segera terselesaikan.
Sebernarnya di
Desa Krangkong sudah sering kali diadakan sosialisasi obat dan pupuk pertanian,
baik dari jenis padi, palawija, dan tembakau. Tetapi tidak menunjukkan
kesehatan tanaman mereka, bahkan
sebagian besar dari mereka mengalami kerugian tanpa diduga. Seperti yang dialami Endang (45) sering mangalami
kerugian ketika musim panen tembakau tiba. Bukan hanya itu pada saat petani
wilayah Bojonegoro-Tuban mengalami gagal panen besar-besaran dikarenalan
serangan penyakit pertanian toklu (ketok
gulu)[15],
petani Krangkong juga mengalami kerugian. Setelah diusut secara mendalam
secara mayoritas petani Bojonegoro pada umunya dan petanin Krangkong pada khususnya,
memakai pupuk dan pestisida kimia yang residunya bisa membahyakan unsur hara
dan manusia.
Hal ini
disebabkan obat dan pupuk yang disosialisakan adalah obat dan pupuk yang
bersifat kimiawi. Oleh karena itu, masyarakat mengharapkan adanya transformasi
sosial secara nyata, baik itu dari segi pemerintahan, maupun dari segi pola
fikir masyarakat secara massif. Karena transformasi sosial yang mengarah pada
pertanian adalah salah satu upaya untuk
kesejahteraan dan pelestarian salah satu kebutuhan pokok masyarakat setempat,
maka diharapkan adanya simbiosis-mutualisme
antara pemerintah lokal dengan masyarakat setempat.
Sementara
mengenai manfaat dari meningkatnya lahan ramah lingkungan adalah: meningkatnya
peren pemerintah lokal, hasil pertanian meningkat, dan ketergantungan kepada
pasar dan pupuk kimian menurun
. Sehingga petani dan masyarakat pada umumnya tidak lagi mengalami kegundahan
dan kebingungan terkait lahan pengelolaan pertanian mereka. Demikian pula
diharapkan masyarakat akan mampu menyehatkan dan meningkatkan hasil pertanian
mereka, karena selama ini asumsi mereka tentang pertanian hanya berorientasi
pada keuntungan atau hasil.
Focus Group
Discussion (FGD) dengan semua anggota kelompok tani dilaksanakan pada tanggal 29
Januari 2014. FGD perdana ini membahas mengenai pupuk dan obat yang biasa
digunakan untuk pengolahan lahan pertanian setempat. Dilanjutkan dengan
pemahaman mengenai cara yang tepat mengenai penggunaan pupuk dan obat pertanian
secara proporsional, selain itu pemaparan mengenai tingkat kesuburan dan
keasaman lahan pertanian di Desa Krangkong. Setelah pemaparan mengenai kondisi
lahan pertanian, para petani terlihat kaget dan satu persatu mulai menuturkan
kondisi lahan mereka. Secara tidak langsung mereka terangsang untuk menciptakan
transformasi pada pertanian mereka.
Gambar 10
FGD dengan Kelompok Tani

FGD perdana ini, dilaksanakan dibalai
Desa Krangkong yang berada di Dusun Juwet. Dalam FDG perdana ini tim fasilitator
bekerja sama dengan UPTD kecamatan Kepohbaru dan PT BASF atas inisiatif Agung Sutikno selaku ketua gapoktan dan
karang taruna desa krangkong.
Permasalahan utama yang dihadapi oleh
masyarakat desa krangkong seperti yang tertera dalam pohon masalah hasil
pemetaan, adalah rusaknya lahan
pertanian karena pupuk dan racun kimia. Sehingga,
diskusi pada pagi itu pun langsung menjurus pada masalah kerentaan yang mereka
hadapi, yaitu kondisi pertanian. Meskipun banyak masalah lain di desa
krangkong. Masyarakat yang pada umumnya
adalah petani meminta agar masalah pertanian yang notabennya adalah taruhan
antara hidup dan mati mereka harus didahulukan dan mendapatkan prioritas
utama.
Proses diskusi tentang pertanian ini,
diawali dari berbagai macam curahan hati dan keluhan-keluhan masyarakat tentang
kondisi pertanian mereka. Seperti pengakuan beberapa petani yang beberapa kali
menggunakan detergen, solar dan pelumas kendaraan untuk membasmi hama yang
menyerang tanaman mereka. Setelah itu, peserta diskusi diberikan penjabaran
mengenai kondisi lahan mereka, dijelaskan pula bagaimana sebab-sebab yang
mejadikan lehan mereka mengalami
penurunan tingkat kesuburan. Karena masalah pertanian diposisikan
menjadi masalah yang sampai saat masih belum menemukan solusi yang tepat.
Masalah pertama, sebenarnya yang diingankan oleh masyarakat setempat adalah
wujud penyuluhan dan pendampingan pertanian yang baik dan benar serta
proporsional, karena pertanian yang mereka kelolah juga berimbas pada
perekonomian mereka. Setelah diberikan pemahaman mendalam mengenai kondisi
pertanian yang sedang mereka alami, masyarakat mulai berfikir bahwa segala
sesuatu yang berurusan dengan pembangunan berupa fisik, maka secara otomatis
pemerintah yang akan turun tangan.
Masalah kedua, penyuluhan yang selama
ini diadakan oleh pemerintah local, hanya berupa penyuluhan obat dan pupuk
pertanian yang bersifat kimiawi. Hal ini juga mempunyai misi terselubung, yaitu
peserta penyuluhan diwajibkan untuk menggunakan produk yang mereka bawa. Dalam
artian pihak penyuluh juga mempunyai agen yang menjualkan produk mereka.
Seharusnya hal seperti ini, perlu dikaji lebih mendalam oleh masyarakat, apakah
itu menguntungkan atau bahkan bisa sangat merugikan.
Masalah ketiga, selain mempunyai misi
terselubung. Menurut Mujiono selaku Kepala
Dusun Juwet Desa Krangkong,
penyuluhan itu hanya bentuk formalitas saja dari pihak pemerintah local,
harusnya pemerintah local faham dengan apa yang betul-betul menjadi kebutuhan
masyarakatnya. Penyuluhan itu juga tidak memberikan dampak yang positif
terhadap kondisi lahan pertanian, jika dirasakan semakin dalam justru dari obat
dan pupuk kimia yang dibawa mereka tingkat kesuburan lahan pertanian di Desa
Krangkong semakin menurun. Hal ini yag mengakibatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat
tentang pengolahan lahan pertanian ramah lingkungan nimim, meskipun segelintir
dari masyarakat krankong sudah ada yang mulai menyadari dan berupaya untuk
meningkatkan kesuburan tanah.
Diskusi ini berakhir dengan kesepakat
untuk mengentaskan masalah pertanian tidak ramah lingkungan ini dengan segera.
Langkah pertama dimulai dari sebuah keberanian mengusut masalah-masalah tentang
kondisi lahan pertanian, dengan pemerintah local sebagai stakeholder. Langkah
ini dibantu oleh PT BASF, meskipun dalam jangka selanjutnya kemungkinan besar
perusahaan obat tersebut akan memeliki agen-agen di Desa Krangkong seperti
perusahan-perusahan obat pertanian sebelumnya. Tetapi jika dilihat dari upaya
pendampingan yang dilakukan oleh pihak PT BASF sangatlah menguntungkan
masyarakat Desa Krangkong.
Gambar 11
Pendampingan pertanian oleh PT BASF

Langkah kedua yang dilakukan adalah
memberikan pemahaman dan pendampingan pengolahan yang sesuai dengan tata-cara
pemulihan tingkat kesuburan tanah. Langkah ini dilanjutkan dengan pendampingan
pengolahan tanaman holty[16]
sebagai alternative pengembalian tingkat kesuburan tanah. Selain itu tanaman holty juga merukan altelnatif
peralihan tanam dari padai ke tembakau, mengingat harga tembakau semakin
anjlok. Karena dalam proses pengolahan
membutuhkan penyebaran dolomite sebelum tanah di gundukan. Dolomite sendiri
berfungsi untuk mengurangi tingkat keasaman tanah. Meskipun dalam pengolahan
tanaman holty membutuhkan banyak tenaga dan financial. Tetapi dalam proses
pengolahan dan perawatannya tidak membutuhkan pupuk dan obat kimia dalam jumlah
besar. Dalam segi penjualannya pun tidak selalu bergantung pada tengkulak,
bahkan dari hasil tanaman holty kebutuhan konsumsi pangan rumah tangga
terpenuhi tanpa harus mengeluarkan uang lagi.
Selain permasalahan pertanian tidak ramah
lingkungan, masih banyak permasalahan lain yang menunggu giliran untuk segera
dipecahkan. Meskipun ratingya masih
dibawah permasalahan pertanian
tidak ramah lingkungan. Permasalahan-permasalahan tersebut menyakut potensi
masyarakat dan pemberdayaan sumberdaya
serta pembangunan fisik yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat.
Permasalahan potensi masyarakat dan pemberdayaan sumberdaya yang ada misalnya
minimnya pemanfaatan dan pengolahan hasil bumi. Sedangkan permasalahan fisik,
misalnya tempat pembuangan limbah rumah tangga masih berupa selokan-selokan
disamping rumah atau dibelakang rumah mereka.
Berdasarkan kesepakatan masyarakat
setempat, yang akan terlebih dahulu diselesaikan adalah masalah pemanfaatan potensi
alam. Mengingat banyaknya kemampuan masyarakat patut untuk
dikembangkan, seperti pengolahan pupuk kompos, membuat anyaman bambu yang
bernialai jual lumayan tinggi, membuat pestisida alami, membuat olahan pangan
dari sumber alam yang mereka miliki.
BAB IV
MEWUJUDKAN HARAPAN MASYARAKAT KRANGKONG MELALUI PENERAPAN
PENGOLAHAN PERTANIAN ORGANIK
a.
Merintis Pendidikan Pertanian
Gabungan
Kelompok Tani (Gapoktan)
merupakan salah satu lembaga penting dalam kemajuan pertanian Desa Krangkong.
Selain sebagai lembaga yang mengordinir kelompok tani dari masing-masing Dusun,
lembaga ini juga mempunyai peranan penting dalam memberikan
informasi terkait masalah pertanian. Meskipun pada dasarnya dari masa ke masa
Gapoktan memberikan sumbangsi cukup besar terhadap pertanian Krangkong. Namun,
yang menjadi catatan adalah selama ini Gapoktan yang menjembatani adanya misi
terselubung dari perusahaan pestisida yang hanya menawarkan produknya tanpa
memberikan pendampingan pertanian yang diharapkan dan dibutuhkan petani
setempat.
Sejak adanya
FGD resmi dengan anggota kelompok tani pada tanggal 29 Januari 2014. Secara
tidak langsung Gapoktan adalah lembaga yang menjembatani adanya pendidikan
pertanian tepat sasaran. Kelompok tani diberikan pemahaman mengenai cara
peningkatan PH tanah, petani diberikan pemahaman bagaimana penggunaan pupuk dan
pestisida secara baik dan benar. Bukan hanya itu, para petani juga diberikan
wawasan mengenai kandungan yang ada pada pestisida yang selama ini digunakan.
Pada tahap
selanjutnya petani bersama-sama mengikuti pendampingan pertanian dengan
pelatihan-pelatihan di bawah ini:
·
Pelatihan Pemulihan Tanah
Pelatihan pemulihan tanah, dilakukan di lahan percontohan
pertanian (Demonstrasi Plot) yang ada di lahan pekarangan Rois (48), pelatihan tahap pertama hanya diikuti oleh anggota
Gapoktan. Penggarapan lahan seluas 8 m2 yang dimulai
pada tanggal 24 Januari 2014 di lahan pekarangan rumah
Rois (48). Pada tanggal
tersebut terlebih dahulu dilakukan
pembersihan pekarangan yang
masih berumput.
Kemudian pada tanggal 29 Januari susai mengadalah FGD resmi di
Balai Desa Krankong anggota Gapoktan bersama-sama
melakukan
penggundukan dan pemberian pupuk organic, mengingat lahan tesebut sudah
memiliki unsure batu kapur golongan C (dolomite), maka tidak perlu lagi dilakukan penyebaran kapur
dolomit.
Jumlah anggota Gapoktan yang
mengikuti pelatihan pemulihan tanah sebanyak 25 orang. Pelatihan ini
dilaksanakan dari pagi sampai siang. Pelatihan ini disambut dengan sangat
antusias, kerena mereka merasa mendapat ilmu baru untuk kepentingan pertanian
mereka.
Pelatihan selanjutnya
dilaksanakan pada tanggal 2 Pebruari 2014, pelatihan ini sekaligus dijadikan
aksi menanam buah dan sayuran oleh generasi muda Desa Krangkong. dari aksi ini
diharapkan generasi muda krangkong sadar akan perkembangan Desa mereka.
Terlebih di bidang pertanian. Pelatihan merupakan wujud dari perencanaan yang
sudah di susun bersama-sama dari lintas generasi. Dari pelatihan ini di
harapkan mampu untuk mengembalikan kondisi tanah yang mengalami kerusakan
akibat racun kimia.
Pada pelatihan ini, petani di
dampingi dan di latih untuk mengolah pertanian dengan cara organik. Termasuk
bagaimana penggunaan pupuk dan obat kimia, jika memang masih dibutuhkan untuk
pertanian mereka. Petani setempat juga di didik agar tidak lagi terlalu bergantung
pada pasar dan pupuk kimia. Selain itu petani diberi pemahaman bagaimana
menjadikan dolomit sebagai pupuk dan juga sebagai pestisida.
Gambar 12
Tanah yang sudah di taburi batu pertanian

Dolomit adalah
merupakan pupuk magnesium berkadar tinggi, digunakan baik untuk tanah
pertanian, tanah perkebunan, kebutuhan industri dan bahkan untuk perikanan
/tambak. Bahan baku Super
Dolomit berasal dari batuan dolomit yang ditambang dari kawasan pertambangan di
Gresik. Menurut pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Direktorat Jenderal
Pertambangan Umum Bandung, batuan dolomit di Gresik adalah jenis batuan dolomit
yang berkualitas tinggi, yakni dengan kadar MgO 18% - 21%
Keunggulan Pupuk
Super Dolomit
1.
Ukuran
butir seragam, dan minimal 95% lolos ayakan 100 mesh
Ø Kadar MgO minimal 18%
Ø Daya larut dalam air cepat, sehingga
cepat tersedia bagi tanaman
Ø Sebagai pupuk Mg memiliki efektifitas
tinggi
Ø Daya tangkal pengasaman cepat
Ø Untuk mencapai produktifitas yang sama hanya
memerlukan 60% super dolomit bila dibandingkan dengan dolomit biasa, sehingga
mengurangi biaya aplikasi pemupukan dan biaya pengiriman
2.
Pemakaian
Kieserite dapat digantikan oleh super dolomit, jika super dolomit telah
dicampur dengan ZA, Selain itu dapat memberikan manfaat lebih tinggi sebagai
berikut :
Ø Pemakaian kombinasi super dolomit + ZA
mampu memasok hara Magnesium (Mg) dan Sulfat Nitrogen pada tanaman dan tidak
mengasamkan tanah
Ø Penghematan biaya produksi karena
pemakaian Super Dolomit + ZA harganya lebih murah dibandingkan dengan Kieserite
Ø Penghematan devisa, karena import
Kieserite dapat ditiadakan
Kegunaan Super Dolomite
Ø Penyembuhan
Untuk tanaman, kekurangan Magnesium (Mg)
berakibat sangat fatal. Tanaman yang menderita kekurangan Magnesium ditandai
dengan daun yang menguning, sehingga kehilangan kemampuan menghasilkan CO2,
dengan demikian, pemberian pupuk Super Dolomite akan mampu menambah unsur hara
Magnesium yang diperlukan tanaman tersebut, sehingga warna daunnya akan menjadi
hijau lagi.
Ø Amelioran
Pada tanah masam atau PH rendah, selain
pertumbuhan tanaman akan terganggu, juga keracunan A1 dan Fe sering terjadi.
Dengan pemberian Super Dolomit, selain dapat menetralisir A1 dan Fe, juga
menaikkan PH tanah sehingga penyerapan unsur unsur hara, N Fosfor (P), K oleh
tanaman menjadi baik
Ø Pembenah
Pemberian pupuk berbentuk Amonium
(UREA/DAP) dan kalcium (KCL/ZK) yang terlalu banyak, dapat mengakibatkan kekurangan
Magnesium (Mg). Selain itu pupuk nitrogen mempunyai kecenderungan menciptakan
suasana masam. Pemberian pupuk Super Dolomit mampu menetralisir reaksi tanah
yang bersifat masam akibat pemberian pupuk yang berlebihan.
Cara penggunaan
Ø Lahan seluas 1 Ha membutuhkan 16 Ton kapur pertanian
(dolomit)
Ø Dolomit ditaburkan minimal dua minggu sebelum tanam dan
tanah sudah di bajak[17]
b.
Membangun Kepercayaan Generasi Muda Tentang
Pertanian
Masyarakat
Desa Krangkong mayoritas petani, meskipun sebagian dari mereka ada yang
berprofesi sebagai guru, pekerja pabrik, TKI dan PNS. Meskipun demikian
masing-masing dari mereka memiliki lahan pertanian yang dikelolah. Namun, generasi muda dari dua dusun di Krangkong. Mengalami
eksodus. Mereka lebih senang menetap diperantauan daripada dirumah sendiri.
Di
sisi lain terdapat harapan terhadap organisasi atau generasi muda untuk
membangun sebuah kepercayaan yang nantinya akan bertugas sebagai penggiat,
pelaksana sekaligus evaluator sebagai bentuk rencana program baik dalam segi
sosial maupun segi fisik. Selain itu, generasi muda juga berperan untuk mendampingi dan mengontrol segala kebijakan
desa, juga segala macam bentuk bantuan yang nantinya akan masuk ke Desa
Krangkong.
Mereka adalah
pemuda dari dusun Juwet, meskipun sebagian dari mereka adalah pengangguran dan
hanya membantu orang tua mereka ke sawah. Namun, ini adalah peluang penyadaran
dan proses regenerasi petani terdidik. Mereka adalah calon sarjana yang
berhenti ditengah jalan, setidaknya untuk penyadaran dan pemberian pemahaman mengenai pertanian lebih
mudah dibandingkan dengan pemuda yang sudah lama menetap diperantauan seperti
manado, papua, dsbg.
Bagan 4:1
Kegiatan harian pemuda Krangkong
|
Waktu
|
Kegiatan
|
|
06.00-13.00
|
Kerja, sekolah, membantu orang tua di sawah
|
|
13.00-15.00
|
Pergi ke warung, nongkrong, main gitar
|
|
15.00-18.00
|
Membantu orang tua
|
|
18.00-00.00
|
Nongkrong
|
|
00.00-05.00
|
Istirahat
|
Dilihat
dari kegiatan harian pemuda, masih ada waktu kosong yang memungkinkan untuk
pembelajran pertanian tepat sasaran. Hal ini juga membantu untuk mempertahankan
generasi muda yang peduli terhadap pertanian dan kemajuan suatu bangsa.
C. Menanam
Harapan Pada Sepetak Tanah
Perjuangan masyarakat Desa Krangkong
dalam megusut permasalahan pertanian tidak ramah lingkungan dilanjutkan denga
penggarapan lahan seluas 8 m2
yang dimulai pada tanggal 24 Januari 2014 di lahan pekarangan rumah Rois (48). Pada tanggal tersebut
terlebih dahulu dilakukan
pembersihan pekarangan yag masih berumput, kemudian dilanjutkan dengan
penggundukan dan pemberian pupuk organic, mengingat lahan tesebut sudah
memiliki unsure batu kapur golongan C (dolomite), maka tidak perlu lagi dilakukan penyebaran kapur
dolomit.
Lahan
pekarangan tersebut dijadikan sebagai lahan percontohan pengolahan tanaman
holty mulai dari pembibitan, pengolahan tanah, sampai penanaman. Pada tanggal
29 Januari 2014, setelah diadakan penyuluhan dan pendampingan perdana oleh PT
BASF, masyarakat bersama-sama melakukan penanaman jenis tanaman holty, berikut
juga dengan percontohan-percontohan penyakit yang menyerang tanaman mereka
beserta sebab-sebab penyakit tidak bisa dbasmi dan cara untuk membasmi penyakit
tersebut, tentunya dengan
cara yang lebih aman dan benar. Lokasi ini dikhususkan untuk Gapoktan sebagai
lokasi keedua dari pendampingan yang dilakukan oleh tim fasilitator. Lokasi ini
juga sebagai stimulus terhadap masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian
yang luas dengan lahan yang sempit pun bisa untuk mengolah tanaman holty.
Gambar 13
Lokasi DEMPLOT pertanian organik dan holty

Pada tanggal 28 Januari 2014, pengolahan
awal lokasi dampingan pertama yang berada di sebelah barat lapangan Desa
Krangkong, tepatnya di Dusun Juwet
dengan luas lahan 25 m2.
Pengolahan lahan akan digunakan sebagai lokasi dampingan dibantu oleh Rois (48) dan Suyadi (52). Sedangkan untuk
pembelian bibit buah dan sayuran, dibantu agung Sutikno selaku ketua Gapoktan
dan karang taruna. Selanjutnya pada tanggal 02 Februari 2014, tim fasilitator
dibantu oleh karang taruna krangkong, bersama semua lapisan masyarakat
bergotong royong untuk mewujudkan
harapan baru.
Gambar 14
Lahan percontohan di pekarangan rumah Rois

Disinilah sejarah baru pertanian Desa
Krangkong dimulai. Sebuah peristiwa yang patut untuk dikenang. Setelah menempuh
perjalan yang panjang dan berbatu, akhirnya masyarakat Kranngkong bisa
merasakan manisnya buah dari perjuangan mereka. Tanah akan kembali pada tingkat
kesuburan normal, tanaman sehat dan hasil pertanian melimpah.
Mengenai pengolahan
holtykultural, aksi ini adalah upaya penyadaran untuk petani, bahwa tidak harus
tembakau yang dipertahankan, bahwa tidak harus mengikuti harga yang diberikan
oleh instansi-instasi yang berkuasa terhadap penjualan tembakau. Pada segala musim
holtykultural juga bisa ditanam. Mengenai penjualannya holtykultural tidak
harus dibawa ke pabrik atau tengkulak, bisa jadi petani sendiri yang mengelolah
hasil pertaniannya. Entah langsung menjulnya ke agribisnis atau langsung
bekerja sama dengan UMKM Kabupaten setempat. Bukan hanya itu untuk konsumsi
sehari-hari petani tidak lagi bergantung kepada musim penghujan lagi, dimana
petani bisa menikmati hasil panen padi baik itu materi atau sebagai simpanan
bahan pokok. Dari holty petani diharapkan mampu untuk bertahan hidup tanpa ada
ketergantungan lagi. Cara pengolahan holtykultural juga sedikit banyak membantu
untuk meningkatkan PH tanah
BAB V
SEBUAH CATATAN REFLEKSI
Desa krangkong
merupakan desa yang secara administrative termasuk dalam kecamatan Kepohbaru kabupaten Bojonegoro.
Desa dengan jumlah penduduk sebanyak 2561
jiwa ini, mempunyai bentang pertanian yang luas. Hampir seluruh penduduknya adalah petani. Mereka memiliki cara
pertanian sesuai dengan kalender musim mereka. Masyarakat menyebutnya pindon.
Banyak
ragam permasalahan yang dihadapi masyarakat Krangkong, tetapi yang menjadi
permasalahan pada umumnya adalah permasalahan pertanian. Masalah ini seringkali
menjadi buah bibir, tapi belum menemukan pemecahan yang tepat. Berulang kali diadakan
sosialisasi pertanian, tetapi dibalik semua itu ada misi terselubung. Bukan
hanya itu pendampingan pertanian belum pernah dilakukan oleh pihak manapun,
sehingga masalah ini seringkali hanya seperti kabar angin.
Masalah
lain yang ada di Krangkong adalah kecenderungan generasi muda yang secara
keseluruan lebih suka menetap di luar daerah mereka daripada menetap didaerah
mereka sendiri. Dengan alasan di Desa mereka tidak ada pekerjaan yang mereka
butuhkan. Padahal jika diteliti secara mendalam mereka bekerja di luar daerah
mereka juga sebagai buruh, dalam artian skill yang mereka miliki masih belum
mencukupi. Kecenderungan generasi muda yang seperti inilah yang menjadikan
paradigma masyarakat memulai berubah. Serperti dari paradigma yang awalnya kolot
menjadi paradigma yang mengikuti arus perkembangan zaman, padahal sejatinya
mereka hanya ikut-ikutan.
Sebenarnya
didesa Krangkong memiliki aset alam yang memadai, jika dilihat secara kasat
mata tidak mungkin masyarakat Krangkong mendapati kesusahan dalam segi
pencukupan kebutuhan sehari-hari. Namun, berbagai masalah timbul silih
berganti. Mulai dari menejemen pemasaran hasil pertanian yang masih bergantung
pada tengkulak dan pabrik. Hasil alam yang tidak dimanfaatkan dengan sempurna,
bahkan pola pertanian yang tidak ramah lingkungan. Padahal jika dilihat dari
potensi yang dimiliki oleh masyarakat setempat baik dalam hal pengolahan pangan
dari hasil bumi yang ada maupun dalam hal pengolahan kebutuhan pertanian.
Seharusnya masyarakat mampu untuk mengentaskan permasalahan yang mereka hadapi.
Namun, yang selalu menjadi kendala adalah akses yang mereka miliki, baik itu
informasi maupun pendampingan.
Selama
ini pola pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Desa Krangkong
lebih menggunakan konsep top-down yaitu
pemerintah setempat langsung mengadakan sosialisasi tanpa adanya diskusi
terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya para petani, sehingga konsep
tersebut kurang efektif. Buktinya, para petani masih mengeluhkan adanya permasalahn
pada lahan dan hasil pertanian mereka. Bahkan untuk pembasmian hama yang
menyerang pertanian mereka, sebagian petani menggunakan pestisida yang memiliki
kandungan residu yang tinggi. Bukan hanya itu petani juga menggunakan oli dan
detergent sebagai pestisida. Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat
akan kelestarian lingkungannya berimbas pada banyak aspek kehidupan
bermasyarakat.
Masyarakat
yang konsumtif juga menjadi pemandangan tersendiri. Hal ini dilihat dari survey
belanja harian masyarakat setempat. Mereka cenderung untuk menikmati bahan
pokok yang disuplay dari luar mereka. Ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat
belum bisa memaksimalkan pemanfaatan aset yang mereka miliki.
Desa
Krangkong memang memiliki permasalahan yang hampir mirip dengan desa-desa di
sekitarnya. Namun, dalam penyikapan penguraian dan pemecahan masalah jelaslah
sangat berbeda. Untuk menyikapinya harus menggunakan konsep bottom-up yaitu dilakukan proses
penelitian mendalam terlebih dahulu untuk mengetahui akar permasalahan
masyarakat setempat. Sehingga hasil dari
riset tersebut bisa menjadi dasar untuk mencabut akar permasalahan yang selama
ini dihadapi oleh masyarakat setempat. Artinya dalam konsep ini potensi
keberhasilannya lebih unggul dibandingkan dengan konsep top-down yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.
Upaya
pendampingan untuk pemecahan permasalahan
tetap digalang, karena dari pendampingan inilah kesadaran masyarakat
akan muncul. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi jika suatu saat
menghadapi permasalahan yang memiliki konteks berbeda dari maslah yang mereka
hadapi saat ini. Setidaknya masyarakat setempat sudah pernah pernah merasakan
apa yang dinamakan pemberdayaan. Dari sinilah masyarakat sudah memiliki
pengalaman untuk memecahkan masalahnya sendiri.
Perubahan yang
kini terjadi dalam masyarakat desa Krangkong salah satunya adalah cara pandang
masyarakat atau perubahan paradigma masyarakat terhadap pola pertanian yang
semakin berkembang saat ini, semakin sering mereka mengikuti pelatihan dan pendampingan tentang
pertanian, sedikit demi sedikit pemahaman dan pengetahuan mereka mengenai
masalah pertanian semakin bertambah inovatif.
Beberapa pelatihan pertanian yang pernah mereka ikuti membuat mereka mulai
membuka fikirannya dan mulai menerima pemikiran-pemikiran baru yang menurut
mereka bisa membawa pola pertanian yang lebih baik di Desa ini.
Dengan pola
pikir yang semakin berkembang, mereka mulai bisa mempertimbangkan system apakah
yang cocok untuk lahan dan bahan yang seperti apa yang lebih baik di gunakan di
daerah ini. Mulai dari pupuk, obat-obatan, bibit, dan system pengolahan yang
tepat dan efektif untuk diterapkan.
Pemilihan pupuk yang tepat
merupakan factor yang sangat penting dalam pengolahan lahan dan dapat
mengurangi resiko gagal panen. Jenis tanah yang kurang subur lebih banyak
memerlukan pupuk, sedangkan tanah yang memiliki tingkat kesuburan yang tinggi
tidak banyak memerlukan pupuk, dalam hal ini pupuk hanya sebagai perawatan
tanaman saja. Demikian pula dengan obat-obatan, obat-obatan ini diperlukan
ketika tanaman mengalami gangguan seperti halnya masalah hama, cuaca yang
kurang bersahabat, dan bencana alam. Selanjutnya adalah bibit, bibit juga
merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam dunia pertanian. Biasanya
pertimbangan dalam pemilihan bibit merupakan hal yang sangat sulit. Pemilihan
bibit sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tanah dan cuaca yang sedang terjadi
pada saat itu. Pemilihan sitem pengolahn tanah di sini merupakan hal pokok yang
bisa dilakukan untuk mengurangi kegagalan panen dan menambah hasil panen dan
kualitas hasil panen. Sistem pertanian dilakukan untuk mensiasati agar lebih
memudahkan pengolahan lahan dan mengurangi modal pengolahan dan juga mengurangi
tenaga kerja yang dibutuhkan.
Setelah
diskusi panjang dengan kelompok tani, pemuda, dan pemerintah Desa, sepakat
untuk mengolah lahat seluas 8x10 dan lahan 8m2 untuk dijadikan sebagai lahan
percontohan pengolahan pertanian organik. Namun, tanaman yang di tanam pada
lahan ini bukan tanaman yang biasa mereka tanam setiap musimnya. Mayarakat
setempat sepakat untuk menggunakan jenis tanaman holty. Karena langkah ini
merupakan langkah untuk mengalihkan sistem tanam yang bukan hanya padi dan
tembakau. Langkah ini juga bertujuan untuk bisa memenuhi perekonomian masyarakat
setempat, mengingat harga tembakau semakin menurun. Meskipun pada awalnya
petani setempat banyak bertanya, dan beranggapan bahwa tim fasilitator tidak
akan mampu untuk mengadakan pendampingan pertanian. Tetapi anggapan itu
kemudian sirna ketika tim PPL Kepohbaru datang bersama tim pendamping pertanian
dari PT BASF.
BAB VI
PENUTUP
Krangkong,
desa lepas landas yang berada di ujung timur wilayah kabupaten Bojonegoro. Memiliki
lingkungan persawahan yang luas dan produktif. Bisa digambarkan kalau daerah
seperti ini adalah daerah yang bisa ditanami jenis tanaman apapun. Seperti
halnya wilayah Bojonegoro lain yang merupakan daerah agraris. Desa Krangkong
juga merupakan desa penghasil padi dan tembakau setiap tahunnya.
Kehidupan
di Desa Krangkong sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan mereka.
Seperti pertanian yang tidak ramah
lingkungan, tengkulak, budaya konsumtif, dan kecenderungan generasi muda yang
lebih memilih untuk bertahn hidup di perantauan. Maka sangat tepat jika
masyarakat ini melakukan penerapan pengolahan pertanian organik. Untuk
mewujudkan pertanian yang ramah ingkungan.
Upaya
ini juga akan berimbas pada perekonomian dan pola pertanian mereka. Mereka juga
akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang pertanian yang baik dan benar.
Sehingga tidak akan lagi mengalami kerugaian dan kegundahan yang mendalam.
Dalam upaya ini, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang bagaimana
pemenuhan kebutuhan pangan melalui hasil pertanian yang mereka kelola.
Selama
ini pola pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Desa Krangkong
lebih menggunakan konsep top-down yaitu
pemerintah setempat langsung mengadakan sosialisasi tanpa adanya diskusi
terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya para petani, sehingga konsep
tersebut kurang efektif. Buktinya, para petani masih mengeluhkan adanya
permasalahn pada lahan dan hasil pertanian mereka. Bahkan untuk pembasmian hama
yang menyerang pertanian mereka, sebagian petani menggunakan pestisida yang
memiliki kandungan residu yang tinggi. Bukan hanya itu petani juga menggunakan
oli dan detergent sebagai pestisida. Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran
masyarakat akan kelestarian lingkungannya berimbas pada banyak aspek kehidupan
bermasyarakat.
Desa
Krangkong memang memiliki permasalahan yang hampir mirip dengan desa-desa di
sekitarnya. Namun, dalam penyikapan penguraian dan pemecahan masalah jelaslah
sangat berbeda. Untuk menyikapinya harus menggunakan konsep bottom-up yaitu dilakukan proses
penelitian mendalam terlebih dahulu untuk mengetahui akar permasalahan
masyarakat setempat. Sehingga hasil dari
riset tersebut bisa menjadi dasar untuk mencabut akar permasalahan yang selama
ini dihadapi oleh masyarakat setempat. Artinya dalam konsep ini potensi
keberhasilannya lebih unggul dibandingkan dengan konsep top-down yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.
[2] Berkatan yang dibagikan
[5] Hasil FGD dengan Ir. Heru Hidayat. S, perwakilan dari PT. BASF yang
di tunjuk sebgai fasilitator pernatian kabupaten Bojonegoro serta anggota
GAPOKTAN desa Krangkong, Rabo, 29 Januari 2014 pukul 10.30 WIB
[6] pH adalah
tingkat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0
hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14
[7] Mapak anak adalah sebutan padi yang sudah berusia 15-20 hari
[8] Hasil FGD dengan Sukadi, salah seorang anggota GAPOKTAN desa Krangkong dalam sosialisasi pertanian
dengan UPTD Kec. Kepohbaru kerjasama dengan PT. BASF, Rabo, 29 Januari 2014
[9] Hasil FGD dengan Tasrip, salah seorang anggota GAPOKTAN
[10] Bau adalah istilah yang
digunakan petani setempat untuk menyebut lahan seluas 500 M2. Dua
bau berarti 1000 M2.
[11] Hasil FGD dengan Sunarto
[12] Pindon istilah yang digunakan untuk menyebut pola tanam dalam setahun, padi sebayak 2 kali
tanam dan tembakau sekali tanam.
[15] Toklu istilah yang
digunakan petani setempat untuk menyebut penyakit yang menyerang pada leher
padi pada saat padi menjelang musim panen.
[16] Holty merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan jenis
tanaman buah dan sayur, yang tidak membutuhka banyak pupuk dan obat pertanian.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar